Langsung ke konten utama

Dari tahun ke tahun


Sejak berusia dua puluh lima tahun, ia sudah bekerja sebagai buruh pabrik plastik, namanya Ahmad, kini usianya sudah tiga puluh tahun, lima tahun dia bekerja di perusahaan itu, punya istri dan anak satu. Ahmad tinggal di perumahan kumu pinggiran kota, rumah yang ia kontrak lumayan kecil. Setiap pagi ia harus berangkat kerja menggunakan motor milik almarhum bapaknya, begitulah dia cara menjalani hidupnya. 

Malam itu, ketika Ahmad sedang bersiap-siap ingin balik ke rumahnya, mengenakan jaket dan tas selempang berwarna cokelat, ia berjalan ke parkiran, tiba-tiba kepala pengawas buruh pabrik muncul dan menahannya pulang.

"Kamu jangan pulang dulu, ada pengiriman yang harus diselesaikan malam ini," kata pengawas buruh pabrik.

Ahmad terdiam, wajahnya tampak putus asa, dia tidak bisa menolaknya, merasa takut jika dipecat. 

"Baik pak," balas Ahmad.

Ahmad kembali membuka jaketnya lalu berjalan masuk ke gudang, beberapa rekan kerjanya sibuk memindahkan barang ke box mobil, Ahmad mempercepat langkahnya dan ikut membantu. Rekan kerjanya terkejut melihat Ahmad kembali ke gudang.

"Kok kamu belum pulang?" Kata Tono, teman dekatnya di tempat kerja.

"Pak Iwan menyuruh saya untuk ikut membantu kalian menyiapkan barang untuk dikirim," Jawab Ahmad, sambil tersenyum.

Tono hanya bisa terdiam melihat Ahmad, dia tahu kalau sikap pak Iwan sangat menyakitkan hati Ahmad. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sendiri

Duduk di antara kekosongan, sendu di titik paling sepi, perlahan aku mulai berpikir, apa mungkin sesuatu hari nanti, suatu waktu, ada hal yang bisa membuatku bahagia. Aku menyadarinya dengan penuh keraguan, hidup tak selalu berjalan dengan keyakinan, selama tiga tahun ini hidupku tak berjalan baik, makin lama, terasa hal itu membuatku takut, sudah kuusahakan segala macam cara agar hidupku kembali membaik. Aku seorang introvert yang tak banyak berbicara. Tak pernah berbagi cerita kepada teman-temanku, bahwa betapa gelapnya hidupku.  Hari mulai menjelang siang, aku masih duduk terdiam tak berbuat apa-apa, terbiasa menyendiri. Jujur saja, aku selalu kehilangan energi ketika terlalu lama berada di tengah keramaian, meski aku tak terlihat canggung, aku tetap tersenyum, bertemu dengan teman-teman, sebisa mungkin berjuang menikmati hari. Namun, ketika pulang ke rumah, aku merasa lelah, mentalku terkuras habis, pada akhirnya butuh waktu untuk sendiri. Pikiranku butuh ruang yang...

The Monster Girl Episode 3.

Selamat membaca.

Aku dan cerita di masa lalu

Beberapa hari ini aku sangat lelah, mungkin setiap malam aku pulang begitu larut. Jam tidurku sangat kurang, juga terlalu sibuk dengan perasaanku sendiri. Aku menyadari, rasa luka dan kecewa masih saja hadir disetiap lamunanku. Aku hanya perlu berani jujur, bahwa masih ada rasa yang belum bisa kupaksakan pergi, jika suatu hari nanti aku benar-benar ikhlas, bukan berarti perasaan ini sudah habis, melainkan berlajar arti melepaskan dengan tenang.   Pukul delapan pagi, suara ayunan sapu terdengar di depang kamarku, itu kakak perempuanku sedang membersihkan rumah. Aku bangun lalu duduk di pinggir tempat tidur, aku memperbaiki perasaanku, tak lama aku berjalan lalu membuka pintu kamar, kakak perempuanku bediri di depan pintu. "Berkali-kali aku mengetuk pintu kamar kamu, sedikitpun kamu tak bergerak," ucap kakakku. Aku hanya diam, dan berjalan menuju ke kamar mandi. Hari Minggu pagi, semalam aku bermimpi bertemu mantan kekasihku, bagiku  itu tak menyenangkan. Mengap...