Langsung ke konten utama

Sendiri


Duduk di antara kekosongan, sendu di titik paling sepi, perlahan aku mulai berpikir, apa mungkin sesuatu hari nanti, suatu waktu, ada hal yang bisa membuatku bahagia. Aku menyadarinya dengan penuh keraguan, hidup tak selalu berjalan dengan keyakinan, selama tiga tahun ini hidupku tak berjalan baik, makin lama, terasa hal itu membuatku takut, sudah kuusahakan segala macam cara agar hidupku kembali membaik. Aku seorang introvert yang tak banyak berbicara. Tak pernah berbagi cerita kepada teman-temanku, bahwa betapa gelapnya hidupku. 

Hari mulai menjelang siang, aku masih duduk terdiam tak berbuat apa-apa, terbiasa menyendiri. Jujur saja, aku selalu kehilangan energi ketika terlalu lama berada di tengah keramaian, meski aku tak terlihat canggung, aku tetap tersenyum, bertemu dengan teman-teman, sebisa mungkin berjuang menikmati hari. Namun, ketika pulang ke rumah, aku merasa lelah, mentalku terkuras habis, pada akhirnya butuh waktu untuk sendiri. Pikiranku butuh ruang yang tenang, untuk mengisi ulang energiku.

Hidupku bagaikan sebatang jerami di tengah lautan, ombak mengalun dan menderut di sekitarnya. Inilah aku, memaknai hidup dengan kedalaman, meski senang dengan lingkungan yang tenang, namun aku tak bisa menghindar dari kecemasan. Banyak orang berkata, bahwa hidup itu penuh dengan cinta, kebahagiaan dan harapan. Aku tersenyum mendengarnya, lalu berkata, " Aku rasa Mereka tak menyadari sepenuhnya, segalanya berada dalam ketidakpastian."

Sebenarnya aku tak ingin membiarkan hidupku seperti ini, namun beberapa hari ini aku tak melihat perubahan, sesuatu yang tak menyenangkan terus aku rasakan. Jangan tanyakan aku soal cinta, aku tak lagi percaya tentang itu, bagiku menyukai seseorang adalah penderitaan, kita dibuat seperti orang yang bodoh. Kita akan selalu merasa lelah jika terus memenuhi ekspektasi seseorang.

Saat ini yang aku inginkan hanyalah hidup di suatu tempat yang tenang, damai, jauh dari kebisingan. Aku pernah bertanya kepada teman dekatku, tentang ketenangan dalam hidup.

"Aku senang dengan kesunyian, hidup berdampingan dengan ketenangan dan damai," ucapku.

Aku kembali berkata.

"jika aku pikir-pikir, apakah ada ketenangan dan kedamaian dalam hidup ini? Atau hanya sebatas pikirkan saja." 

"Itu tergantung dengan cara kita menilai, orang-orang punya versi berbeda tentang ketenangan," balas temanku.

Kami selalu berdiskusi tentang hal-hal sifatnya filosofis, dan mendalam. Aku bukan antisosial, aku hanya selektif ketika bertindak,  cenderung lebih berhati-hati dalam memutuskan, aku senang memikirkan sesuatu secara mendalam, pendiam dan menjadi pendengar, hal yang sering aku lakukan untuk memahami perasaan orang lain. Maka wajar saja, lingkaran pertemananku tidak terlalu banyak.


"Sebaiknya aku pulang ke rumah." Kalimat ini selalu terucapkan dalam hatiku, di saat aku berada di tengah kerumunan banyak orang, menyendiri di rumah menjadi satu hal yang paling nyaman untukku. Entah kenapa, aku selalu merasa cepat lelah ketika bertemu orang-orang banyak. Aku menyadari, manusia selalu membutuhkan komunikasi dengan sesama, aku melakukan itu, aku sering tertawa, berusaha banyak bicara, setelah itu, aku butuh waktu untuk menyendiri kembali.

Sahabat saya bernama ramon, dia pernah berkata seperti ini.

"Orang-orang tak mengenal kau sepenuhnya, dia hanya bisa melihat dirimu dari sisi luar saja, padahal itu bukan kamu yang sebenarnya."

Aku menyadari tentang itu, ramon sangat mengenal aku, kami berdua sudah lama berteman, berdiskusi hal-hal yang berisi, punya makna yang dalam.


Aku tipe orang yang sangat tidak suka dengan basa-basi, aku tidak suka berpura-pura. Menyukai seseorang itu mudah, yang tersulit ketika ingin mempercayainya, terlebih dulu aku harus mengamati kepribadiannya, berhati-hati untuk berbicara dengannya. 

Jika aku jujur, aku tidak pernah memilih menjadi kelabu dalam lingkungan yang sepi, aku hanya kehilangan rasa yakin terhadap hidupku sendiri,  aku sudah terlanjur kecewa dengan segala hal tentang manusia. Jika orang-orang bilang bahwa aku lemah, itu tidak masalah, rasa sakit hati telah membuatku sulit berdamai, dan itu telah merubah hidupku.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE MONSTER GIRL, Episode 1.

Desa bernama Sirakawa-go, hidup seorang gadis muda bernama Aruma, kedua orang tuanya bekerja sebagai petani Sayuran Daikon (lobak putih) dan kabocha (labu musim dingin). Kehidupan mereka damai dan penuh kebahagiaan. Cerita diawali menjelang malam. Keesokan harinya, Aruma berangkat ke sekolah, ia seorang gadis yang baru duduk di kelas 3 SMA. Di hari libur sekolah, Aruma membantu ayahnya dan ibunya di kebun, menanam sayuran sambil memetik. Sementara di kota Tokyo, sekelompok ganster sedang membicarakan rencana penculikan. Keesokan harinya, Aruma dalam perjalanan pulang sekolah. Aruma yang tak bisa berbuat apa-apa, dia harus pasrah untuk ikut, ia dibawa pergi ke Tokyo, di sana dia bertemu dengan Kazakaru (bos besar). Kelanjutnya, tunggu di episode ke 2. Akan Menjadi awal di mana Aruma menjadi gadis yang kuat (Monster).

Hidupku tak sebaik yang orang lihat

Hujan turun di pagi hari, aku lagi berteduh di halte  di dekat jalan raya. Sewaktu masih SMA, aku sering menunggu mobil angkot di tempat ini, masa-masa itu seketika  teringat, hadir dalam pikiranku. Disini aku duduk sambil memperhatikan hujan, sesekali aku berdiri dan meluruskan lengan kananku, membuka telapak tangan, membiarkan tetesan hujan jatuh di antara jari-jariku. Seketika Mobil angkot berhenti di hadapanku, si sopir tersenyum, aku bergegas naik ke mobil.  Aku menatap kaca jendela mobil, cahaya kendaraan dari luar berklap-klip. aku merasa hidupku kurang bahagia, Rudi adalah sahabatku, dia juga pernah berkata begitu padaku, katanya aku tak menikmati hidup. Apa mungkin seperti itu, rasanya aku tidak tahu, aku selalu terbawa perasaan, kadang kosong, seakan-akan aku tak dapat memastikannya. Mobil berhenti seketika, aku sudah tiba tepat di depan sebuah cafe. Aku berjalan masuk, melihat di sekitar, mencari teman-temanku, mereka duduk di di mana. Sepas...