Langsung ke konten utama

Aku dan cerita di masa lalu


Beberapa hari ini aku sangat lelah, mungkin setiap malam aku pulang begitu larut. Jam tidurku sangat kurang, juga terlalu sibuk dengan perasaanku sendiri. Aku menyadari, rasa luka dan kecewa masih saja hadir disetiap lamunanku. Aku hanya perlu berani jujur, bahwa masih ada rasa yang belum bisa kupaksakan pergi, jika suatu hari nanti aku benar-benar ikhlas, bukan berarti perasaan ini sudah habis, melainkan berlajar arti melepaskan dengan tenang.  

Pukul delapan pagi, suara ayunan sapu terdengar di depang kamarku, itu kakak perempuanku sedang membersihkan rumah. Aku bangun lalu duduk di pinggir tempat tidur, aku memperbaiki perasaanku, tak lama aku berjalan lalu membuka pintu kamar, kakak perempuanku bediri di depan pintu.

"Berkali-kali aku mengetuk pintu kamar kamu, sedikitpun kamu tak bergerak," ucap kakakku.

Aku hanya diam, dan berjalan menuju ke kamar mandi. Hari Minggu pagi, semalam aku bermimpi bertemu mantan kekasihku, bagiku  itu tak menyenangkan. Mengapa harus bermimpi tentangnya, padahal aku sudah berharap sebisa mungkin untuk meluapakannya.

Aku duduk di teras rumah, menatap penuh kekosongan, seperti orang bodoh. Mengingat kembali mantap kekasih, itu menyedihkan, aku selalu terusik dengan kisah masa lalu, aku tak tahu, mengapa kenangan seperti itu terus hadir dalam ingatanku, setelah diputuskan olehnya, hari-hariku makin redup, perasaan ini telah mengacaukan isi pikiranku, aku rasa ini memalukan.

Semua ini karena kejadian dua tahun yang lalu, aku gagal, aku putus cinta, bagiku hal ini belum terlalu lama,  sebenarnya aku tak ingin mengingatnya lagi, hanya saja hatiku sangat lemah.

"Bukankah itu sesuatu yang belum direlahkan?" Ucapku dalam hati.

Aku belum terlalu terbiasa, mungkin waktu itu aku sudah begitu yakin.

Maka, terimalah, yang kita butuhkan dalam hidup ini adalah keterbukaan hati  untuk menerima kenyataan. 

Sejujurnya aku belum bisa menerima semua itu. Aku masih mengingatnya, dia telah menulis selembar janji dengan tetesan air mata untuk menyakinkanku. Di saat malam, kami berdua belum tidur, kami bertukar pesan, wajar saja, umur kami masih muda, mantan kekasihku selalu berkata padaku, "aku cinta kamu." Ah, tai.

Dalam hidup ini segalanya cuma sekali, yang sudah lewat hanya bisa dirindukan, dan tak bisa diulang kembali. Tetap saja, masa lalu itu terus hadir, Dulu aku begitu yakin, begitu banyak harapan, pada akhirnya kami tak menduga apa yang akan terjadi ke depannya.

Jika ada yang bertanya kepadaku, bagaimana rasanya ditinggal oleh orang yang sangat dicintai, aku akan menjawabnya sesuai apa yang aku rasakan, yaitu Seperti tertusuk tombak kecil yang menembus di dalam jantung, rasa sakitnya tertahan begitu lama. Yah, Begitulah yang aku derita dalam setahun.

Bagaikan bunga, semua orang akan kagum melihatnya, namun ketika layu, tak ada satu pun orang yang peduli hingga bunga itu menjadi debu.

Hal yang paling menyakitkan adalah kehilangan akal sehat ketika mencintai seseorang, itu nyata, bahkan rela bertahan dalam ketidakpastian. Manusia rela menderita terhadap hal yang telah melukainya. Yang terpenting belajarlah mengurangi harapan.

Berharap kepada manusia itu tidak benar, bagaimana bisa kita benar-benar menemukan kebahagiaan terhadap sesuatu yang berada di luar kendali kita, hal ini membuat kita bagaikan orang bodoh.

"Hubungan itu hanya indah ketika usianya masih muda, setelah itu akan teruji oleh waktu." 

Aku yakin dengan ucap itu.

Sejak berpisah dengannya, aku dan dia benar-benar menjadi orang asing, mungkin hal ini sebuah kewajaran. Hidup memang selalu dipenuhi kata semoga, dan harapan selalu menjadi tujuan akhir. 

Kita hanya perlu pandai mengendalikan perasaan, menyukai seseorang bagaikan lautan, kamu tak perlu menyelam lebih dalam, cukup diam dan menikmatinya.


Jika pada akhirnya berakhir seperti ini. Aku hanya perlu berpikir rasional, menatah hati yang sempat patah, dan menyakinkan diri untuk memulai kembali.

Sudah banyak telah aku lalui, sebentar lagi akhir tahun, perpisahanku dengannya sudah berjalan tiga tahun, perlu belajar mengikhlaskan. Enam tahun bersamanya pada akhirnya kami tak ditakdir untuk bersatu. Tak ada lagi hati wanita yang aku jaga, meski telah memberikan kepercayaan dengannya, jika dulu yang aku lakukan sudah benar, mengapa aku harus menyesalinya, meski hubungan itu berjalan cukup lama, dan berakhir tanpa terduga, mungkin sampai di situ hubungan kami, aku tak perlu mempertanyakan lebih jauh.

Masa lalu akan tetap aku anggap sebagai kesalahan, juga sebagai pelajaran. Aku menilai, itu sebagai bentuk kegilaanku yang sangat keterlaluan. Namun semua itu akan menjadi dewasa, mencintai dengan secukupnya, dan mempercayai dengan secukupnya.

Komentar