Secara pribadi, saya harus mencerna sebaik-baik mungkin disetiap kalimat penjelasannya. Orang bisa saja terjebak dalam kesalahan memahami, juga dianggap tak benar. Menurut Dostoyevsky, meonik adalah refrensetatif tentang kehidupan yang kosong, di mana orang-orang kesulitan dalam menemukan, adanya kesadaran yang dungu yang tak dirasakan, yaitu aktivitas bernalar manusia dalam mencari kebenaran universal adalah kekacauan. Sederhananya Seperti itulah meonik, yang menempatkan ketiadaan sebagai dasar dari segala yang ada.
Meonik adalah bentuk kesadaran mutlak yang kontekstual dengan kehidupan manusia, tentang realitas yang pupus. Bagi yang mengenal karya-karya novel Dostoyevsky, mereka akan tahu bahwa dia adalah sosok lelaki yang kesepian. apakah orang-orang akan mudah percaya akan hal itu? Atau menilainya bentuk provokatif terkait esensi berpikir manusia? pertanyaan ini seketika terlintas di benakku. Mungkin saja, dan bisa juga manusia belum sampai dalam memikirkan hal itu.
Melalui buku yang berjudul Menggugat teodisi dan merekonstruksi antropodisi saya mengenal Dostoyevsky. Di dalam buku tersebut menjelaskan pengertian Meonik secara filosofis, yaitu "meonik adalah sebuah proses yang tak berujung, dan bersifat immaterial, sesuatu yang mengalir, dan tak mengenal titik akhir" Dalam pikiran saya menilai, bahwa Dostoyevsky menyakini kehidupan manusia ini bagaikan meonik, ia meragukan kepercayaan manusia akan kebenaran universal. Apa yang dia kata Dostoyevsky bukan hal yang menyesatkan bagi manusia, tetapi, mengajak kita untuk melihat lebih reflektif dan objektif, jika manusia memikirkan kebenaran, pada akhirnya hanya kekosongan.
Jika kita mendalam apa yang disampaikan Dostoyevsky terkait meonik, sebenarnya dia memberikan kedudukan terhadap manusia akan tentang kebebasan, sebagai inti kesadaran. Artinya, manusia tak boleh mudah terjebak dalam ideologi apapun, kepercayaan apapun, dalam setiap pengetahuan, yang selama ini dianggap memiliki nilai-nilai kebenaran universal, itu hanya permainan omong kosong.
Meonik hadir bagaikan dewa penyelamat, mengakhiri hubungan manusia tentang mimpi objektivitas (kebenaran final). Meretas titik akhir yang sebenarnya dia anggap menjadi penghalang hubungan manusia dengan kebebasan. Jika hidup ini sudah tak memiliki rujukan kebenaran, betapa gelapnya kehidupan ini, lagi-lagi saya dibuat kepikiran dengan hidup seperti itu.
Di saat Heidegger sering memakai istilah 'ada' sebagai proses yang menggerakkan manusia untuk terus mencari. Menurut Heidegger, manusia sebagai "gembala ada", karena manusia bermukim dalam kedekatan dengan "ada". Namun, dalam penilaian Dostoyevsky, sebenarnya itu percuma saja, itu hanya kebodohan berpikir. pemikirannya inilah membedakannya dari pemikir Eropa barat lain.
Jika martin heidegger menempatkan struktur "ada" sebagai titik kesadaran manusia akan sesuatu, dalam status ontologinya sebagai dasein, yaitu proses mengada. Sedangkan Dostoyevsky yang begitu agresif, menjadikan ketiadaan sebagai "ada" inti kesadaran manusia akan sesuatu yang dipikirkan.
Seperti itulah, meonik yang begitu mempengaruhi pemikiran Dostoyevsky. Dua hari yang lalu aku baru membacanya dan saya mengulangnya kembali, kesulitan saya dalam memahami pemikirannya yang berat-berat, bahkan aku dibuatnya bingung seketika, dengan bahasa-bahasa yang ia pakai kurang aku mengerti.
Pertama kali mengenal sosok Dostoyevsky, waktu itu saya membeli buku yang berjudul ‘MENGGUGAT TEODISI DAN MEREKONSTRUKSI ANTROPODISI.’ buku itu secara umum menjelaskan tema sentral terkait fenomenologi sebagai dunia dialog, tema ini menjadi hal penting, membincangkan bentuk-bentuk kebebasan absolut. Dostoevsky menandaskan, bahwa dunia dialog merupakan sarana untuk mengungkapkan realitas “manusia dalam manusia.” Di sana manusia saling mengungkapkan diri.
Aku tak melupakan pesan-pesan singkat yang disampaikan Dostoyevsky di dalam buku tersebut, meski sedikit kesulitan dalam memahami istilah-istilah bahasa yang dia gunakan juga sangat filosofis dan menggugat, sebagai penegas untuk memperjelas proses berpikir manusia.
Komentar
Posting Komentar