Langsung ke konten utama

Dostoyevsky, tentang meontologi

     

                    By Sahru ramadhan
                  
Terkait perihal sebuah refleksi intuitif tentang manusia dibingkai ke dalaman esensi berpikir, yang dasar dan ontologis. Di sini saya mencoba posisikan diri sebagai pembaca sebuah buku yang berjudul Meontologi. Salah satu filsuf yang akan juga dibahas yaitu Dostoyevsky, filsuf asal Rusia. Melalui buku ini, menjelaskan seperti apa kebenaran absolut dan kaitannya dengan kesadaran manusia. 

Di sini Dostoyevsky upayanya memperkenalkan Meontologi lewat argumentasinya yang heroik. Sebutan singkat dari meontologi yaitu Meonik, yang sebenarnya dipopulerkan lebih awal oleh Jean paul sartre, pemikir asal Prancis. Nah, ini akan lebih menarik, Kita akan lebih banyak dimendengar tentang eksistensi berpikir manusia dengan nihilisme.

Landasan pemikiran Dostoyevsky adalah meonik ( meontologi), perenungan sebuah kehidupan yang tak terjangkau, Ia tampak serius dalam melihat. Dia pun berkata, pemikiran manusia itu sifatnya dinamis, terus berubah. Kita perlu mengetahui, Kemunculan paham meontologi itu dipengaruhi oleh pemikir mistikus jerman, yaitu Jacob boehme, dan pemikiran religiositas Dostoevsky tumbuh dari kekagumannya  terhadap pemikiran Jacob boehma. 

Secara pribadi, saya harus mencerna sebaik-baik mungkin disetiap kalimat penjelasannya. Orang bisa saja terjebak dalam kesalahan memahami, juga dianggap tak benar. Menurut Dostoyevsky,  meonik adalah refrensetatif tentang kehidupan yang kosong, di mana orang-orang kesulitan dalam  menemukan,  adanya kesadaran yang dungu yang tak dirasakan, yaitu aktivitas bernalar manusia dalam mencari kebenaran universal adalah kekacauan. Sederhananya Seperti itulah meonik, yang menempatkan ketiadaan sebagai dasar dari segala yang ada.

Meonik adalah bentuk kesadaran mutlak yang kontekstual dengan kehidupan manusia, tentang realitas yang pupus. Bagi yang mengenal karya-karya novel  Dostoyevsky, mereka akan tahu bahwa dia adalah sosok lelaki yang kesepian. apakah orang-orang akan mudah percaya akan hal itu? Atau menilainya bentuk provokatif terkait esensi berpikir manusia? pertanyaan ini seketika terlintas di benakku. Mungkin saja, dan bisa juga manusia belum sampai dalam memikirkan hal itu.

Melalui buku yang berjudul Menggugat teodisi dan merekonstruksi antropodisi saya mengenal Dostoyevsky. Di dalam buku tersebut menjelaskan pengertian Meonik secara filosofis, yaitu "meonik adalah sebuah proses yang tak berujung, dan bersifat immaterial, sesuatu yang mengalir, dan tak mengenal titik akhir" Dalam pikiran saya menilai, bahwa Dostoyevsky menyakini kehidupan manusia ini bagaikan meonik, ia meragukan kepercayaan manusia akan kebenaran universal. Apa yang dia kata Dostoyevsky bukan hal yang menyesatkan bagi manusia, tetapi, mengajak kita untuk melihat lebih reflektif dan objektif, jika manusia memikirkan kebenaran, pada akhirnya hanya kekosongan. 

Jika kita mendalam apa yang disampaikan Dostoyevsky terkait meonik, sebenarnya dia memberikan kedudukan terhadap manusia akan tentang kebebasan, sebagai inti kesadaran. Artinya, manusia tak boleh mudah terjebak dalam ideologi apapun, kepercayaan apapun,  dalam setiap pengetahuan, yang selama ini dianggap memiliki nilai-nilai kebenaran universal, itu hanya permainan omong kosong.

Meonik hadir bagaikan dewa penyelamat, mengakhiri hubungan manusia tentang mimpi objektivitas (kebenaran final). Meretas titik akhir yang sebenarnya dia anggap menjadi penghalang hubungan manusia dengan kebebasan. Jika hidup ini sudah tak memiliki rujukan kebenaran, betapa gelapnya kehidupan ini, lagi-lagi saya dibuat kepikiran dengan hidup seperti itu.

Di saat Heidegger sering memakai istilah 'ada' sebagai proses yang menggerakkan manusia untuk terus mencari. Menurut Heidegger, manusia sebagai "gembala ada", karena manusia bermukim dalam kedekatan dengan "ada". Namun, dalam penilaian Dostoyevsky, sebenarnya itu percuma saja, itu hanya kebodohan berpikir. pemikirannya inilah membedakannya dari pemikir Eropa barat lain. 

Jika martin heidegger menempatkan struktur "ada" sebagai titik kesadaran manusia akan sesuatu, dalam status ontologinya sebagai dasein, yaitu proses mengada. Sedangkan Dostoyevsky yang begitu agresif, menjadikan ketiadaan sebagai "ada" inti kesadaran manusia akan sesuatu yang dipikirkan.

Seperti itulah, meonik yang begitu mempengaruhi pemikiran Dostoyevsky. Dua hari yang lalu aku baru membacanya dan saya mengulangnya kembali, kesulitan saya dalam memahami pemikirannya yang berat-berat, bahkan aku dibuatnya bingung seketika, dengan bahasa-bahasa yang ia pakai kurang aku mengerti.

Pertama kali mengenal sosok Dostoyevsky, waktu itu saya membeli buku yang berjudul ‘MENGGUGAT TEODISI DAN MEREKONSTRUKSI ANTROPODISI.’ buku itu secara umum menjelaskan tema sentral terkait fenomenologi sebagai dunia dialog, tema ini menjadi hal penting, membincangkan bentuk-bentuk kebebasan absolut. Dostoevsky menandaskan, bahwa dunia dialog merupakan sarana untuk mengungkapkan realitas “manusia dalam manusia.” Di sana manusia saling mengungkapkan diri.

Aku tak melupakan pesan-pesan singkat yang disampaikan Dostoyevsky di dalam buku tersebut, meski sedikit kesulitan dalam memahami istilah-istilah bahasa yang dia gunakan juga sangat filosofis dan menggugat, sebagai penegas untuk memperjelas proses berpikir manusia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE MONSTER GIRL, Episode 1.

Desa bernama Sirakawa-go, hidup seorang gadis muda bernama Aruma, kedua orang tuanya bekerja sebagai petani Sayuran Daikon (lobak putih) dan kabocha (labu musim dingin). Kehidupan mereka damai dan penuh kebahagiaan. Cerita diawali menjelang malam. Keesokan harinya, Aruma berangkat ke sekolah, ia seorang gadis yang baru duduk di kelas 3 SMA. Di hari libur sekolah, Aruma membantu ayahnya dan ibunya di kebun, menanam sayuran sambil memetik. Sementara di kota Tokyo, sekelompok ganster sedang membicarakan rencana penculikan. Keesokan harinya, Aruma dalam perjalanan pulang sekolah. Aruma yang tak bisa berbuat apa-apa, dia harus pasrah untuk ikut, ia dibawa pergi ke Tokyo, di sana dia bertemu dengan Kazakaru (bos besar). Kelanjutnya, tunggu di episode ke 2. Akan Menjadi awal di mana Aruma menjadi gadis yang kuat (Monster).

Hidupku tak sebaik yang orang lihat

Hujan turun di pagi hari, aku lagi berteduh di halte  di dekat jalan raya. Sewaktu masih SMA, aku sering menunggu mobil angkot di tempat ini, masa-masa itu seketika  teringat, hadir dalam pikiranku. Disini aku duduk sambil memperhatikan hujan, sesekali aku berdiri dan meluruskan lengan kananku, membuka telapak tangan, membiarkan tetesan hujan jatuh di antara jari-jariku. Seketika Mobil angkot berhenti di hadapanku, si sopir tersenyum, aku bergegas naik ke mobil.  Aku menatap kaca jendela mobil, cahaya kendaraan dari luar berklap-klip. aku merasa hidupku kurang bahagia, Rudi adalah sahabatku, dia juga pernah berkata begitu padaku, katanya aku tak menikmati hidup. Apa mungkin seperti itu, rasanya aku tidak tahu, aku selalu terbawa perasaan, kadang kosong, seakan-akan aku tak dapat memastikannya. Mobil berhenti seketika, aku sudah tiba tepat di depan sebuah cafe. Aku berjalan masuk, melihat di sekitar, mencari teman-temanku, mereka duduk di di mana. Sepas...

Sendiri

Duduk di antara kekosongan, sendu di titik paling sepi, perlahan aku mulai berpikir, apa mungkin sesuatu hari nanti, suatu waktu, ada hal yang bisa membuatku bahagia. Aku menyadarinya dengan penuh keraguan, hidup tak selalu berjalan dengan keyakinan, selama tiga tahun ini hidupku tak berjalan baik, makin lama, terasa hal itu membuatku takut, sudah kuusahakan segala macam cara agar hidupku kembali membaik. Aku seorang introvert yang tak banyak berbicara. Tak pernah berbagi cerita kepada teman-temanku, bahwa betapa gelapnya hidupku.  Hari mulai menjelang siang, aku masih duduk terdiam tak berbuat apa-apa, terbiasa menyendiri. Jujur saja, aku selalu kehilangan energi ketika terlalu lama berada di tengah keramaian, meski aku tak terlihat canggung, aku tetap tersenyum, bertemu dengan teman-teman, sebisa mungkin berjuang menikmati hari. Namun, ketika pulang ke rumah, aku merasa lelah, mentalku terkuras habis, pada akhirnya butuh waktu untuk sendiri. Pikiranku butuh ruang yang...