Jika manusia ingin hidup bebas dan bahagia, ia mesti bersikap bijaksana, pandai mengantur tindakannya, bisa menilai hal-hal yang dapat merugikan dirinya, mampu melepaskan dirinya dari perasaan mengikat. Seperti keinginan, harapan, nafsu, dan emosi. Di sini perlunya memahami keterbatasan diri kita sebagai manusia, dan mengerti apa saja yang tidak bisa dikuasai oleh diri kita, inilah Stokisme. Stoikisme salah satu aliran Filsafat yang mengajarkan kita hal-hal yang dapat dikendalikan oleh manusia, seperti pikiran, tindakan, dan sikap.
Manusia boleh bermimpi dan berharap semaunya, namun dia harus sadar, mereka sepenuhnya tidak bisa memaksakan kehendaknya untuk mewujudkan semua itu, yang perlu dilakukan hanya kesiapan diri untuk menerima kenyataan yang terjadi.
Memahami Stoikisme kita akan mengerti bahwa kebahagiaan sejati hanya bisa dirahi dari hal-hal yang ada di bawah kendali kita. Dalam artian, kebahagiaan tersebut hadir dari dalam hati kita. Begitupun Sebaliknya, kita tidak bisa menggantungkan kebahagiaan dan kedamaian sejati kepada hal-hal yang tidak bisa dikendalikan.
Berharap kepada orang lain itu tidak rasional, karena hal ini berada di luar kendali kita. Bagaimana bisa kita benar-benar menemukan kebahagiaan terhadap sesuatu yang sepenuhnya berada di luar kendali kita. Hal ini membuat kita tidak merdeka, kita bagaikan budak yang dikontrol.
Di sini pentingnya juga memahami arti "kendali", bukanya hanya soal kemampuan kita, tetap juga tentang mempertahankan kenyataan. Semua orang berusaha mencapai Kenyataan, tetapi apakah kita yakin bisa mempertahankan kenyataan? Padahal sesungguhnya semua yang ada di dunia ini hanyalah rapuh, selalu berubah, dan tidak menetap.
Manusia diberi akal sebagai fungsi untuk berpikir rasional. Selain itu, juga berfungsi untuk mengontrol nafsu dan ego. Manusia seharusnya tidak bole berlebihan membayangkan sesuatu yang dia inginkan, tanpa memikirkan keterbatasan dan hambatan-hambatan yang bisa saja menggagalkan. Cara berpikir seperti ini dapat mempengaruhi kesehatan mental dan kebahagiaannya.
Seperti apa yang saya jelaskan di atas, jika sesuatu yang dia harapkan gagal, mereka kecewa, sedih, dan menyalahkan diri sendiri. Potensin depresi bisa saja hadir. Hidup dengan bebas dan apa adanya, menyadari keterbatasan kita sebagai manusia, segala masalah yang terjadi dalam hidup ini adalah rangkai dari perjalanan hidup, dari sini cukup dipahami saja.
Persoalan yang sering terjadi adalah orang-orang sering mengikuti hawa nafsunya dari pada menggunakan akalnya. Bagi saya, Agar hidup kita bisa bebas dari kegalauan, sebisa mungkin dalam setiap situasi hidup, kita tidak bole kehilangan akal, dan selalu siap memahami apapun yang terjadi.
Di era saat ini, masih ada orang selalu mengisolasi dirinya dengan ego, selalu menganggap orang lain itu salah. Tipe orang seperti ini dikuasai oleh emosi negatif, kesulitan berpikir terbuka, memaksa orang-orang mengikuti maunya. Percuma kita memiliki kepintaran dalam segala hal, jika tak memahami situasi hidup, tak ada gunanya.
Kita perlu melihat dan bertanya, mengapa orang sering menangis ketika gagal? Merasa hatinya terluka, sampai sulit mengontrol diri. Karena kepercayaannya dan harapan yang ia bangun telah dihancurkan. Pada akhirnya ia kehilangan semangat hidup, hari-harinya penuh dengan kesedihan dan kegalauan. Padahal jika kita mengerti lebih dalam, hidup ini dinamis, segalanya bisa berubah kapan saja, begitu dengan manusia, kapan saja bisa berubah, kadang senang dan kadang jenuh.
Hidup dengan kenyataan memang tidak mudah, apa lagi bila kenyataan tersebut tidak sejalan dengan keinginan kita, pasti menjengkelkan. Jadi, berpikir stoisisme mengajarkan kita menerima peristiwa-peristiwa yang terjadi, lagi-lagi semua diluar kendali kita, jangan berharap segala yang diinginkan harus sesuai dengan kenyataan, mencari kepuasan yang ingin dicapai, pada akhirnya semua membosankan.
Berpikir stoic, kita bisa memahami hal-hal yang ada di bawah kendali kita, yaitu diri kita sendiri. Dan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan selalu menjadi kelemahan kita, seperti berharap kepada orang lain, dirimu bagaikan budak dan terikat. Di sini orang-orang selalu salah mengirah, Contohnya, "jika kau mencintai seseorang, dan kamu berharap dia juga mencintaimu, itu salah, kamu tidak punya hak mengendalikan perasaan orang lain, dirinya bukan milikmu, dialah berhak mengendalikan dirinya sendiri, terserah dia, apakah dia akan mencintaimu atau tidak". Bahasa sederhananya seperti ini, jika kamu terobsesi pada hal-hal di luar kendalimu, siap-siap saja kecewa cuy.
🤩🫡🤝
BalasHapus