Langsung ke konten utama

Hidup


Manusia bisa saling membenci karena persoalan ekonomi, bahkan nekat saling membunuh. Banyak orang menilai, ini persoalan mental dan hilang sikap kemanusiaan. Di masa kini, hidup bagaikan hutan rimba, belukar, mengerikan. Manusia layaknya hewan buas, berburu, mencari makanan, merebut wilayah, saling meyerang, hingga saling makan-memakan. 

Sudah lima tahun aku tinggal di sebuah kota besar, lingkungan yang indah namun masyarakatnya banyak hidup miskin. Kata orang-orang di warung kelontong, "hidup di kota itu butuh uang yang banyak, jika hanya bermodal kesabaran, siap-siap hancur lebur." Contohnya aku, sudah hampir setahun bekerja paruh waktu di sebuah pabrik kedelai, tetap saja hidupku begitu-begitu saja, lutang-latung, sedikitpun tak merasa bahagia. 

Di suatu malam, aku baru pulang kerja, diperjalanan pulang ke rumah, suasana jalan masih terlihat ramai, kendaraan berlalu-lalang, sekelompok pengemis duduk di dekat tiang lampu merah, beberapa mobil mewah lewat tak ada yang peduli. Sudah terbiasa melihat hal itu, di kota ini orang-orang seperti mereka sudah lama kehilangan hati nuranu. Seketika aku berpikir, Kekejaman suatu waktu akan datang membunuh para pengemis itu, tak ada yang menyelamatkannya. Entah, mungkin juga mati kelaparan.

Dalam hidup saat ini, rasa kepedulian tak lagi menjadi persembahan moral, orang-orang lebih fokus terhadap diri sendiri, lebih utama adalah menyelamatkan diri dari penderitaan. Memberi kebaikan kepada orang miskin bukan tanggung jawab bagi yang mapan, namun aku pernah mendengar perkataan ustad di mesjid, "Sebagian kekayaan kita ada hak untuk orang tidak mampu."

Aku masih berjalan, masuk ke gang yang  sempit dan gelap, sambil memandang ke depan, cahaya lampu di ujung lorong memberi sedikit penerangan disetiap langka kakiku. Jika semua orang menilai bahwa uang adalah level kebahagiaan tertinggi, dan menjadi kehidupan yang terhormat, maka kita akan harus menerima kenyataan itu dengan keadaan yang kelam. Aku mulai berpikir, kira-kira apa yang akan terjadi di masa akan datang, jika orang mulai berpikir bahwa uang adalah segala-galanya, mereka rela memilih hidup menjadi seperti apa, yang terpenting menghasilkan uang banyak. Hidup sudah seperti itu, harapan yang dibangun setinggi-tinggi akan bermuara dalam kesia-siaan dan penderitaan.

Malam makin larut, langit sangat gelap, tak ada bintang yang terlihat, sekelompok pengemis itu akan kembali ke kolom jembatan, tidur di atas lapisan kardus, terbiasa menatap kegelapan. Hidup mereka yang serba susah terus bertekad memperjuangkan nilai-nilai perjuangan, meski terus-terusan diterpa penderitaan yang menyakitkan.

Sebentar lagi aku sampai di kost, lampu remang-remang menggantung di teras kompleks perumahan, sementara yang lain mungkin sudah tertidur.

"Sungguh, ini terasa sunyi," Ucapku dalam hati.

Pukul enam pagi, kabut lembab yang di ciptakan oleh embun pagi. Awan tebal tertidur di atas langit kota, sebentar lagi matahari akan muncul dari sela-sela awan yang tipis. Orang-orang akan kembali beraktivitas, jalanan mulai terlihat padat. Aku kembali dalam lamunan, duduk di dekat pintu mobil angkot, hiruk-pikuk kota mulai terdengar, semua serba sibuk. gadis kecil terlihat lusu berdiri di depan restoran, menanti orang yang lewat, manis dan cantik. Sayangnya, dia terlahir di dunia dengan penuh penderitaan.

Udarah masih terasa sejuk, jam sudah menunjuk setengah tujuh pagi, aku harus tiba di tempat kerja tepat jam tujuh pas.

"Begitulah hidup, terus berjalan," Pikirku.

Biaya hidup di kota makin tinggi, gaji sekelas pekerja buruh pabrik tak pernah cukup, mengirit pengeluaran harus dibiasakan, makan mie instan tiap hari jika perlu. Tak peduli dengan Kesehatan, jika konsumsi makanan sehat kurang teratur, kita hanya sadar dan kondisikan diri, dan jangan melawan.

Ada satu hal yang membuatku merasa tak nyaman, Aku tidak suka nongkrong di cafe yang  bermewah, orang-orang di sana hanya berbicara kesuksesan, memamerkan kekayaan. Kita yang masih hidup susah tak ternilai di mata mereka, apa lagi aku yang tak memiliki kendaraan, harus berjalan kaki ke setiap hari. Buka karena aku tak suka dengan orang-orang seperti mereka, hanya saja sikapnya tak punya hati nurani. Yang aku tahu, orang akan berubah ketika sudah memiliki segalahnya.

Sekelompok pemuda bermobil masuk ke dalam cafe, memakai baju kaos, celan pendek di atas lutut, mengenakan sepatu kets berwarna putih tak memakai kaos kaki. Mereka duduk memperdebatkan merek handphone terbaru, dengan harga hampir menyentuh 30 juta, mereka di selimuti kebingungan, katanya harganya itu tak masuk akal, padahal sebenarnya hal itu tak perlu diributkan.

Pukul delapan malam, aku duduk di sebuah taman yang tak jauh dari trotoar, mengisap sebatang rokok, berkali-kali aku menghembuskan asapnya, sambil menatap langit malam. Aku masih terpikirkan perbicangan di kantin tempat kerja, seorang admin kantor yang cantik, kulitnya putih, rambutnya sangat lurus, sedikit berwarna cokelat gelap, dia berkata kepada temannya.

"Cari lelaki itu jangan hanya lihat dari wajahnya saja," Ucap wanita cantik itu.

"Emang kenapa?" Balas temannya.

"Kamu harus lihat perkerjaannya, dan cari lelaki yang bisa menjamin hidup kita," jawabnya.

Aku hanya diam mendengar itu, larut dalam kecemasan. Lelaki seperti saya ini bukan hanya miskin, bahkan susah menemukan wanita untuk dijadikan pasangan hidup.

Angin malam mulai meniup, daun-daun saling mengesek, sepasang dahan pohon menggapai lampu jalanan, bergoyang-goyang ditiup hembusan angin. aku masih berpikir keras, memikir nasibku sendiri. Seekor kucing berwarna hitam putih mendekatiku, dia tampak kurus, banyak kotoran menumpuk di bulu matanya. 

"Aku tak punya makanan untuk diberikan, pergi sana," Ucapku.

Kucing itu tak pergi, dia masih saja duduk  sambil memandangku, memperlihatkan wajahnya belum makan seharian. 

"Kamu datang kepada orang yang salah, aku juga belum makan, kita sama-sama lapar," kataku kepada si kucing.

Kucing itu berpinda tempat, ia membaringkan badannya ke rumput, aku melihat jam di handphone ku, waktu sudah jam 10 malam, aku berdiri dan meninggalkan tempat duduk. Sesaat kemudian, suasana menjadi hening, angin malam sedang berada di puncak, bulan memancarkan sinarnya yang paling indah, langit berwarna hitam keputian.








Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE MONSTER GIRL, Episode 1.

Desa bernama Sirakawa-go, hidup seorang gadis muda bernama Aruma, kedua orang tuanya bekerja sebagai petani Sayuran Daikon (lobak putih) dan kabocha (labu musim dingin). Kehidupan mereka damai dan penuh kebahagiaan. Cerita diawali menjelang malam. Keesokan harinya, Aruma berangkat ke sekolah, ia seorang gadis yang baru duduk di kelas 3 SMA. Di hari libur sekolah, Aruma membantu ayahnya dan ibunya di kebun, menanam sayuran sambil memetik. Sementara di kota Tokyo, sekelompok ganster sedang membicarakan rencana penculikan. Keesokan harinya, Aruma dalam perjalanan pulang sekolah. Aruma yang tak bisa berbuat apa-apa, dia harus pasrah untuk ikut, ia dibawa pergi ke Tokyo, di sana dia bertemu dengan Kazakaru (bos besar). Kelanjutnya, tunggu di episode ke 2. Akan Menjadi awal di mana Aruma menjadi gadis yang kuat (Monster).

Hidupku tak sebaik yang orang lihat

Hujan turun di pagi hari, aku lagi berteduh di halte  di dekat jalan raya. Sewaktu masih SMA, aku sering menunggu mobil angkot di tempat ini, masa-masa itu seketika  teringat, hadir dalam pikiranku. Disini aku duduk sambil memperhatikan hujan, sesekali aku berdiri dan meluruskan lengan kananku, membuka telapak tangan, membiarkan tetesan hujan jatuh di antara jari-jariku. Seketika Mobil angkot berhenti di hadapanku, si sopir tersenyum, aku bergegas naik ke mobil.  Aku menatap kaca jendela mobil, cahaya kendaraan dari luar berklap-klip. aku merasa hidupku kurang bahagia, Rudi adalah sahabatku, dia juga pernah berkata begitu padaku, katanya aku tak menikmati hidup. Apa mungkin seperti itu, rasanya aku tidak tahu, aku selalu terbawa perasaan, kadang kosong, seakan-akan aku tak dapat memastikannya. Mobil berhenti seketika, aku sudah tiba tepat di depan sebuah cafe. Aku berjalan masuk, melihat di sekitar, mencari teman-temanku, mereka duduk di di mana. Sepas...

Sendiri

Duduk di antara kekosongan, sendu di titik paling sepi, perlahan aku mulai berpikir, apa mungkin sesuatu hari nanti, suatu waktu, ada hal yang bisa membuatku bahagia. Aku menyadarinya dengan penuh keraguan, hidup tak selalu berjalan dengan keyakinan, selama tiga tahun ini hidupku tak berjalan baik, makin lama, terasa hal itu membuatku takut, sudah kuusahakan segala macam cara agar hidupku kembali membaik. Aku seorang introvert yang tak banyak berbicara. Tak pernah berbagi cerita kepada teman-temanku, bahwa betapa gelapnya hidupku.  Hari mulai menjelang siang, aku masih duduk terdiam tak berbuat apa-apa, terbiasa menyendiri. Jujur saja, aku selalu kehilangan energi ketika terlalu lama berada di tengah keramaian, meski aku tak terlihat canggung, aku tetap tersenyum, bertemu dengan teman-teman, sebisa mungkin berjuang menikmati hari. Namun, ketika pulang ke rumah, aku merasa lelah, mentalku terkuras habis, pada akhirnya butuh waktu untuk sendiri. Pikiranku butuh ruang yang...