Langsung ke konten utama

Hidupku tak sebaik yang orang lihat


Hujan turun di pagi hari, aku lagi berteduh di halte  di dekat jalan raya. Sewaktu masih SMA, aku sering menunggu mobil angkot di tempat ini, masa-masa itu seketika  teringat, hadir dalam pikiranku. Disini aku duduk sambil memperhatikan hujan, sesekali aku berdiri dan meluruskan lengan kananku, membuka telapak tangan, membiarkan tetesan hujan jatuh di antara jari-jariku. Seketika Mobil angkot berhenti di hadapanku, si sopir tersenyum, aku bergegas naik ke mobil. 

Aku menatap kaca jendela mobil, cahaya kendaraan dari luar berklap-klip. aku merasa hidupku kurang bahagia, Rudi adalah sahabatku, dia juga pernah berkata begitu padaku, katanya aku tak menikmati hidup. Apa mungkin seperti itu, rasanya aku tidak tahu, aku selalu terbawa perasaan, kadang kosong, seakan-akan aku tak dapat memastikannya. Mobil berhenti seketika, aku sudah tiba tepat di depan sebuah cafe.

Aku berjalan masuk, melihat di sekitar, mencari teman-temanku, mereka duduk di di mana. Sepasang kekasih lewat menabrak bahuku, ada tiga lelaki tua tertawa. Dari jauh Rudi melambaikan tangannya. " Hey Rido," teriak rudi. Suaranya berisik, orang-orang di sekitar berbalik memandangku.

"Di luar masih hujan yah," kata Rudi.

"Iya, hujannya deras."

Kami bercerita terkait rencana liburan, Rudi sudah memilih tempat yang akan kami kunjungi, dia terlihat semangat, tangannya bergerak ke sana ke mari, di sela-sela jarinya terselip sebatang rokok. Tiba-tiba Rizal memotong pembicaraan, dia memberi saran  kepada kami, untuk menyewa tiga kamar yang luas, sedangkan Fahri ingin membawa pacarnya, kami semua tak setujuh, keputusan itu tak membuatnya keberatan, sementara aku hanya diam, memperhatikan mereka bertukar pendapat.

Aku kurang semangat, hati ini masih saja terasa lusu, tak memberiku kesempatan untuk tersenyum, atau tertawa. Aku iri kepada teman-temanku, dia begitu ceria, sedang aku hanya begini-begini saja. Padahal Aku sudah kerja, punya penghasilan sendiri, tetapi masih terasa membosankan.

Setelah habis membahas rencana liburan. Kami memutuskan balik ke rumah masing-masing. Aku naik di mobil angkot, penumpangnya sepi, hanya ada dua penumpang, aku duduk paling sudut menghadap ke jendela belakang, cahaya lampu kendarahan kembali terpancar di wajah ku, aku menatap genangan air dari kaca jendala mobil, berkabut, tertutup oleh embun.

Setiba di rumah, pintu tak terkunci, suasana rumah gelap, aku melihat ada orang sedang tidur di sopa, pelan-pelan aku berjalan, lalu mendekatinya, cahaya lampu teras masuk lewat cela-cela kusen jendela, mendarat tepat wajah orang itu, ternyata itu ayahku. Sepertinya dia habis bertengkar dengan ibuku. Sudah menjadi hal biasa, ia tak ingin tidur di kamar bersama ibuku. Pertengkaran itu sering terjadi, sejak ayahku diberhentikan dari tempat kerjanya dua tahun yang lalu di saat wabah corona melanda kota ini, di tempat kerjanya terjadi pengurangan karyawan. Sialnya, ayahku ikut dalam pengurangan itu.

Di waktu pagi, saat aku ingin berangkat kerja, kami semua duduk di meja makan, ayahku hanya sibuk membaca koran sambil mencari lowongan pekerjaan, jika ada, dia akan melingkari mengunakan pulpen. Ibuku sibuk membuatkan kami nasi goreng, ia tak berbicara sedikit pun, mungkin karena ada ayahku. Begitu juga sebaliknya. 

Aku memiliki dua adik perempuan, aku anak pertama, kami tiga bersaudara. Mereka terlihat gembira sambil mengigit roti tawar dengan selai cokelat, sebentar lagi dia akan berangkat ke sekolah yang tak jauh dari rumah. Separuh gajiku aku berikan ke ibuku, aku tahu, sejak ayahku sudah tidak kerja, ibuku tidak pernah lagi menerima uang darinya.

Dari kejadiaan itu, ibuku lebih banyak diam, jarang berbicara, waktu aku masih kecil ibuku tipe orang yang selalu percaya diri, sosok perempuan yang memiliki pendirian disiplin, bersikap lembut di hadapan anak-anaknya. Ibuku juga sangat penurut apa yang disampaikan oleh ayahku, ia selalu mendengar, dia melakukannya dengan penuh rasa cinta.

Hal yang tak terduga membuat keluarga kami pincang, kedua orang tuaku tak lagi harmonis, mereka saling tak peduli, aku sadar akan hal itu. Mungkin hal ini yang mempengaruhi sikapku, lebih pendiam dan kurang menikmati hidup. Jam sudan hampir menunjuk delapan pagi, setelah selesai sarapan, aku berangkat kerja, ayahku sudah tidak ada di tempatnya duduk, dia keluar tanpa memberi tahu mau ke mana. Aku berjalan keluar rumah, sesampai di ujung lorong kompleks, aku berdiri menunggu mobil angkot, langit terlihat mendung, ada kemungkinan sebentar lagi hujan.

Seorang wanita berdiri tak jauh dariku, ia sibuk bermain handphone, dari penampilannya dia mahasiswa. Sesekali Aku memperhatikan kendaraan yang lewat, mendung menyelimuti seluruh kota, bapak tua yang rama menyapa orang-orang di sekitarku sambil tertawa terbahak-bahak, selerah humornya berlimpah-limpah, dan itu menjadi sumber kekuatannya dalam menikmati hidup.

Tak lama berselang, mobil angkot berhenti di hadapanku, aku dengan mahasiswa itu segera naik ke mobil. Aku duduk dekat pintu sambil memandang keluar, melihat kota yang begitu sibuk, aku banyak belajar dari hari-hariku, rasanya begitu biasa-biasa saja, tak ada kemajuan, sampai saat ini aku belum merasakan kebahagiaan.

Di tempat kerja, aku duduk sambil menatap layar komputer, sehari hanya itu yang kukerja, membuat laporan, seperti berputar di tempat yang sama. Kita hanya sedang berpura-pura bahagia, begitulah cara kita menikmati hidupnya, mencari kebahagiaan sebanyak mungki demi menutupi perasaan yang membosankan. Jadi, apakah masih ada kebahagiaan yang autentik? Rasanya itu tidak mungkin.

Rudi pernah berkata kepadaku tentang cara menjalani hidup dengan baik, saat itu kami berdua beradu argumen, kata Rudi.

"Jangan membuat dirimu menjadi hina, semua orang butuh kebahagiaan, meski kita tahu, itu hanya modus."

Aku hanya tertawa, sedikitpun aku tak percaya dengan omongannya.

Mungkin aku berada di suatu tempat yang berbeda. Aku tak bisa berpura-pura, melihat kedua orang tuaku tak sejalan lagi, itu membuatku sangat terganggu. Aku sudah tidak pernah lagi melihat mereka tersenyum, kini ibuku menyimpan perasaan yang sedih, sebelumnya aku tidak pernah melihatnya seperti itu. Namun dia tetap menutupnya dan bersikap tenang di depan anak-anaknya. Sementara Ayahku hanya larut dalam kesia-siaan, ia pergi begitu saja dan pulang larut malam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE MONSTER GIRL, Episode 1.

Desa bernama Sirakawa-go, hidup seorang gadis muda bernama Aruma, kedua orang tuanya bekerja sebagai petani Sayuran Daikon (lobak putih) dan kabocha (labu musim dingin). Kehidupan mereka damai dan penuh kebahagiaan. Cerita diawali menjelang malam. Keesokan harinya, Aruma berangkat ke sekolah, ia seorang gadis yang baru duduk di kelas 3 SMA. Di hari libur sekolah, Aruma membantu ayahnya dan ibunya di kebun, menanam sayuran sambil memetik. Sementara di kota Tokyo, sekelompok ganster sedang membicarakan rencana penculikan. Keesokan harinya, Aruma dalam perjalanan pulang sekolah. Aruma yang tak bisa berbuat apa-apa, dia harus pasrah untuk ikut, ia dibawa pergi ke Tokyo, di sana dia bertemu dengan Kazakaru (bos besar). Kelanjutnya, tunggu di episode ke 2. Akan Menjadi awal di mana Aruma menjadi gadis yang kuat (Monster).

Sendiri

Duduk di antara kekosongan, sendu di titik paling sepi, perlahan aku mulai berpikir, apa mungkin sesuatu hari nanti, suatu waktu, ada hal yang bisa membuatku bahagia. Aku menyadarinya dengan penuh keraguan, hidup tak selalu berjalan dengan keyakinan, selama tiga tahun ini hidupku tak berjalan baik, makin lama, terasa hal itu membuatku takut, sudah kuusahakan segala macam cara agar hidupku kembali membaik. Aku seorang introvert yang tak banyak berbicara. Tak pernah berbagi cerita kepada teman-temanku, bahwa betapa gelapnya hidupku.  Hari mulai menjelang siang, aku masih duduk terdiam tak berbuat apa-apa, terbiasa menyendiri. Jujur saja, aku selalu kehilangan energi ketika terlalu lama berada di tengah keramaian, meski aku tak terlihat canggung, aku tetap tersenyum, bertemu dengan teman-teman, sebisa mungkin berjuang menikmati hari. Namun, ketika pulang ke rumah, aku merasa lelah, mentalku terkuras habis, pada akhirnya butuh waktu untuk sendiri. Pikiranku butuh ruang yang...