Langsung ke konten utama

keinginan


"Dari dulu aku tidak terbiasa memakai baju murahan, sebentar lagi lebaran, aku harus membeli baju yang harganya mahal," kata Santi, di saat mereka lagi duduk berdua di halaman kantor, tempat Santi bekerja.

Mungkin itu sudah menjadi kebiasaannya, hari raya disambut dengan riang, semua mulai sibuk dengan keperluan lebaran, seperti membeli baju baru. Orang-orang tak ingin tinggal diam, sebab bagi mereka, membeli pakean baru menjadi momen kebahagiaan di hari lebaran.

"Iya dong, penampilan hal yang paling utama dalam hidupku," ucap Santi, ia memperlihatkan beberapa merek baju yang baru ia beli.

Lihat saja di mall-mall saat ini, padatnya pengunjung sudah sampai ke level tak memungkinkan, lebaran tahun lalu, wabah corona lagi ramai. Santi tidak bisa berbuat apa-apa, hanya menghabiskan waktunya dengan berdiam diri di rumah, tak ada aktivitas belanja, ditambah saat itu, suasana hanya makin genting.

Hampir orang-orang dari setiap daerah berdatangan di pusat perberlanjaan, aku melihat orang-orang seperti lagi kejar-kejaran, mengapa harus seperti itu, lihat saja santi, seperti cacing kepanasan melihat promo-promo baju, dia merasa takut, ketika pakaian yang dia inginkan sudah habis terjual. Kedengarannya begitu dramatis.

"Tidak usah takut, mana mungkin baju sebanyak itu cepat habis," kata nuri.

"Sok tahu loh, kamu tahu apa tentang itu," ucap santi.

Santi selalu merendahkan nuri dalam soal penampilan, nuri hanya paham dengan sikap santi seperti itu, dia sangat marah ketika nuri berkata seperti itu, apalagi menyinggung masalah gaya hidupnya.

Saat itu nuri sedang berada di mall bersama santi, nuri memperhatikan orang-orang yang sedang sibuk berbelanja, ada pengunjung seorang wanita yang sangat tulen, keinginannya tampak percaya diri. Ya, Percaya diri Meskipun budgetnya menipis dia tetap menuruti kemauannya, yaitu membeli baju mewah. Nuri heran melihatnya, kadang juga ingin tertawa, wanita itu begitu liar, beberapa baju dia jepit di ketiaknya, ada juga dua lembar baju menggantung di bahunya, namun tangannya masih tetap aktif memilih beberapa baju.

"San, kamu lihat wanita itu, dia terlihat gila, mau dia apakan baju sebanyak itu," kata nuri sambil tertawa sembunyi.

"Biasa saja, aku sudah sering kok lihat orang seperti itu," jawabnya.

Di sini para pengunjung kehilangan kendali, tak ada waktu untuk dipertimbangkan, mungkin lenyap sesaat, karena godaan begitu kompak, seakan-akan mendorong isi pikirannya sampai ke ubun-ubun.

Mungkin saja, atau sudah seperti itu adanya, seorang konsumtif adalah sosok yang begitu rapuh, mereka tak pernah puas, tak memiliki pendirian, Selalu ada reaksi untuk meniruh, tindakan seperti itu terus berkembang.

Mereka begitu terlatih dalam persoalan belanja, hampir semua merek baju dia tahu, apalagi santi, nuri tak perlu heran dengannya. Di saat hari raya menjelang, santi sudah tahu baju-baju apa saja yang promo, jadi jangan heran, jika suatu saat santi akan cerita kepada nuri terkait promo-promo baju, suaranya yang nyaring dan begitu semangat. Mereka juga punya teman bernama rini, santi sering bertukar pendapat kepada rini terkait harga baju yang lagi dini, mereka berdua begitu cocok, satu frekuensi.

Satu minggu menjelang lebaran, pusat perbelanjaan luar biasa padatnya, toko-toko baju yang ada di mall sudah siap sejak di pagi hari. Santi dan rini janjian bertemu di rumah nuri, mereka bertiga ingin ke mall untuk membeli baju.

"San, kamu mau beli baju lagi?" Tanya nuri.

"Iya."

"Ah, kan sudah kemarin, baju itu masih belum cukup juga yah?"

"Iya, tidak usah banyak tanya deh," kata santi sambil membenarkan bulu matanya.

Santi lagi sibuk berdandan di kamar nuri, rini belum juga datang. Mereka berdua lagi menunggunya.

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang, Pengunjung sudah pasti ramai, saling desak-desakan, nuri membayangkan seperti itu. Daya beli sangat meningkat, Saking padatnya, terkadang udara di dalam pusat perbelanjaan serasa berkurang, orang-orang bisa saja jatuh pingsan.

Tak lama berselang, rini muncul. Dia mengenakan celana botol begitu ketat, di ujung rambutnya dicat berwarna merah maroon. "Hey, kalian sudah siap?" Kata rini.

"Dari tadi, kamu saja yang lama datang."

Rini hanya tertawa lebar, tak lama kemudian, merekat berangkat naik mobil milik ayah santi. Rini dan santi dari dulu dia tak mengenakan jilbab, cuman nuri saja yang pakai. Nuri yang dikenal dengan sikapnya yang sederhana, juga lebih pendiam, berbeda dengan santi dan rini, yang sangat bacrit. Nuri hanya menjadi pendengar di antara mereka berdua.

Mereka bertiga sudah sampai di mall, dari pintu masuk, pengunjung sudah terlihat ramai, berkerumun di depan pintu masuk mall, mereka bertiga turun dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk. Santi dan rini sudah ada di tengah kerumunan orang-orang, sedang nuri masih menjauh dari kerumunan, dia melihat rini sambil memegang tangan santi, mereka berdesak-desakan. tiba-tiba nuri ikut menerobos masuk di tengah kerumanan, ia berusaha mengejar santi dan rini, agar mereka tidak terpisah.

"Nuri mana?" Kata santi.

"Tadi ada di belakang aku," jawab rini sambil berbalik ke belakang. Tak lama kemudian, nuri muncul mengagetkan mereka berdua.

"Dari mana saja kamu?" Kata santi.

"Dari tadi aku di belakang kamu, cuman terpisah," balas nuri.

Santi selalu kawatir dengan nuri, walaupun mereka berdua beda, santi tetap sayang dengan nuri, dari dulu mereka berdua sudah berteman sejak SD. Mereka berjalan menuju ke toko baju langganan santi dan rini, nuri hanya mengekor dari belakang, sambil melirik ke kanan ke kiri.

Setiba di toko baju, santi sudah terlihat sibuk memilih pakean, sementara rini mencoba beberapa sandal yang tertata di atas meja, sedangkan nuri hanya berjalan melihat baju yang menggantung di lemari. Nuri sudah tak berniat membeli baju, dia hanya ikut menemani santi dan rini berbelanja.

Nuri sedang duduk di kursi yang ada di sudut pintu masuk toko, dia masih memperhatikan mereka berdua, santi yang sibuk berdiri di depan rak gantungan baju, sudah ada tiga lembar baju dia pegang, sementara rini belum ada, dia masih sibuk mengotak-atik beberapa baju. Nuri hanya dibuat heran oleh santi, kemarin mereka berdua sudah belanja beberapa baju.

Tiba-tiba santi teriak ke nuri. " hey nuri, kamu tidak beli baju."

"Tidak, kemarin sudah ada baju aku beli," kata nuri sambil tersenyum.

Santi dan rini sudah ada di meja kasir, membayar beberapa baju yang ia beli. Sebentar lagi sudah buka puasa, nuri sudah siap di depan pintu masuk toko mununggu mereka berdua, santi berjalan menghampiri nuri, dia memperlihatkan baju yang ia beli.

"Baju ini terlihat baguskan?" Kata santi.

"Iya bagus, banyak banget baju yang kamu beli, padahal kemarin kamu sudah beli baju."

Santi hanya tersenyum melihat nuri berkata seperti itu, santi menarik tangan nuri, lalu mereka bertiga meninggalkan toko itu, berjalan sambil mencari tempat makan, sebentar lagi buka puasa. Mereka bertiga memilih tempat makan ke sukaan rini, di dekat tangga eskalator.

Nuri masih saja terdiam, sambil melototin hasil belanja santi dan rini, dia menggelengkan kepalanya. Sesekali nuri berbalik memandang beberapa toko baju yang berderetan di depan tempat makan mereka, orang-orang masih terlihat ramai, semua sibuk memilih pakean lebaran. Sementara Santi dan rini hanya sibuk berbicara masalah baju yang tadi mereka beli.

Kehidupan manusia sudah seperti itu, nuri hanya cukup memahami, seorang seperti santi dan rini memang tak pernah merasa tercukupkan, nuri sudah cukup mengenal mereka berdua dari dulu. Mereka selalu berkeinginan, berlari tanpa henti, hingga tak sadarkan diri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE MONSTER GIRL, Episode 1.

Desa bernama Sirakawa-go, hidup seorang gadis muda bernama Aruma, kedua orang tuanya bekerja sebagai petani Sayuran Daikon (lobak putih) dan kabocha (labu musim dingin). Kehidupan mereka damai dan penuh kebahagiaan. Cerita diawali menjelang malam. Keesokan harinya, Aruma berangkat ke sekolah, ia seorang gadis yang baru duduk di kelas 3 SMA. Di hari libur sekolah, Aruma membantu ayahnya dan ibunya di kebun, menanam sayuran sambil memetik. Sementara di kota Tokyo, sekelompok ganster sedang membicarakan rencana penculikan. Keesokan harinya, Aruma dalam perjalanan pulang sekolah. Aruma yang tak bisa berbuat apa-apa, dia harus pasrah untuk ikut, ia dibawa pergi ke Tokyo, di sana dia bertemu dengan Kazakaru (bos besar). Kelanjutnya, tunggu di episode ke 2. Akan Menjadi awal di mana Aruma menjadi gadis yang kuat (Monster).

Hidupku tak sebaik yang orang lihat

Hujan turun di pagi hari, aku lagi berteduh di halte  di dekat jalan raya. Sewaktu masih SMA, aku sering menunggu mobil angkot di tempat ini, masa-masa itu seketika  teringat, hadir dalam pikiranku. Disini aku duduk sambil memperhatikan hujan, sesekali aku berdiri dan meluruskan lengan kananku, membuka telapak tangan, membiarkan tetesan hujan jatuh di antara jari-jariku. Seketika Mobil angkot berhenti di hadapanku, si sopir tersenyum, aku bergegas naik ke mobil.  Aku menatap kaca jendela mobil, cahaya kendaraan dari luar berklap-klip. aku merasa hidupku kurang bahagia, Rudi adalah sahabatku, dia juga pernah berkata begitu padaku, katanya aku tak menikmati hidup. Apa mungkin seperti itu, rasanya aku tidak tahu, aku selalu terbawa perasaan, kadang kosong, seakan-akan aku tak dapat memastikannya. Mobil berhenti seketika, aku sudah tiba tepat di depan sebuah cafe. Aku berjalan masuk, melihat di sekitar, mencari teman-temanku, mereka duduk di di mana. Sepas...

Sendiri

Duduk di antara kekosongan, sendu di titik paling sepi, perlahan aku mulai berpikir, apa mungkin sesuatu hari nanti, suatu waktu, ada hal yang bisa membuatku bahagia. Aku menyadarinya dengan penuh keraguan, hidup tak selalu berjalan dengan keyakinan, selama tiga tahun ini hidupku tak berjalan baik, makin lama, terasa hal itu membuatku takut, sudah kuusahakan segala macam cara agar hidupku kembali membaik. Aku seorang introvert yang tak banyak berbicara. Tak pernah berbagi cerita kepada teman-temanku, bahwa betapa gelapnya hidupku.  Hari mulai menjelang siang, aku masih duduk terdiam tak berbuat apa-apa, terbiasa menyendiri. Jujur saja, aku selalu kehilangan energi ketika terlalu lama berada di tengah keramaian, meski aku tak terlihat canggung, aku tetap tersenyum, bertemu dengan teman-teman, sebisa mungkin berjuang menikmati hari. Namun, ketika pulang ke rumah, aku merasa lelah, mentalku terkuras habis, pada akhirnya butuh waktu untuk sendiri. Pikiranku butuh ruang yang...