Langsung ke konten utama

Metafisika dan Positivisme


Pertama saya akan memulai dari filsafat kuno, yaitu metafisika. Seperti orang ketahui, bahwa Metafisika di sebut sebagai cabang filsafat tertua dalam sejarah filsafat. Metafisika juga di nilai salah satu filsafat yang rumit, yang perlu daya abstrak yang cukup tinggi. Sehingga begitu jarang orang ingin menekuninya. Wujud alam semesta akan menjadi pembicaraan tentang asal usulnya. Metafisika juga mencari kemurnian esensi tentang ada (Ontologi), eksistensi dari wujud itu. Mengenal metafisika kita seakan berada di suatu ketinggian, proses berpikir yang mendalam, hingga merenungkan semua yang ada.

Metafisika mempelajari kebaradaan objek yang nampak secara indra dan juga yang tidak nampak. di sana kita sedang menembus kegelapan, melacak sumber-sumber realitas. kedahsyatan itu dipandang sebagai hal yang terumit dari metafisika, di perlukan ketajaman berpikir, dan keberanian melepas diri dari kepercayaan. bahwa apa yang di ucapkan Aristoteles, Metafisika sebuah kebijakan ilmu pengetahuan yang mencari prinsip-prinsip fundamental dan penyebab utama. 

Hal-hal yang bersifat transenden dan asal usul kehadiran, Metafisika terhubung dengan mitologi, mengenai benda-benda alam semesta, dan hubungan antara satu dengan yang lain. kita akan bertanya dan mencari tahu tentang keberadaan bentuk, motif-motif ruang, juga hubungan sebab dan akibat. 

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, muncullah salah satu aliran filsafat yaitu positivisme. Positivisme lahir dari paham empirisme dan rasionalitas. Positivisme menekankan pada aspek rasional ilmia, bisa disebut ilmu pasti. Menempatkan epistemologi atapun ilmu alam sabagai dasar pemikirannya.

Bisa dibilang hal ini berlawan dengan metafisika, Kini positivisme telah mendominasi perkembangan ilmu-ilmu sosial modern. Manusia akan menjadi rasional ketika menjauh dari mitos dan hal-hal yang bersifat metafisik, dan harus menempatkan dirinya dalam ilmu pengetahuan pasti. Positivisme ilmiah menciptakan pengetahuan sainstisme, sebagai upaya membentuk mekanisme rasionalitas.

Kehadiran positivisme seakan menyingkirkan pemikiran yang bersifat transenden, orang tak perlu lagi mencari tahu asal-usul seperti apa yang dilakukan filsafat. Positivisme menyelamatkan manusia dari kesesatan berpikir, manusia butuh kebenaran pasti dan cara berpikir yang baik. Seperti yang disampaikan oleh Auguste Comte, salah satu tokoh aliran Positivisme. Bahwa manusia akan mencapai kedewasaan pemikirannya ketika meninggalkan fase teologis dan metafisika, dan mempelajari prinsip-prinsip metode ilmiah. Hal ini di jelaskan dalam buku Auguste Comte yang berjudul: Cours de philosophie positive.

Tugas sains dan ilmu pengetahuan secara umum untuk mempelajari keteraturan hukum alam dan masyarakat. Manusia tak lagi membutuhkan pemikiran spekulasi, atau berbicara tentang esensi dan eksistensi, manusia hanya membutuhkan ketetapan. Munculnya teknologi sebagai ilmu pengetahuan ilmiah dalam kehidupan manusia hingga menjadi ideologi. 

Filsafat atau metafisika dinilai tak lagi efektif di era modernisasi, karena hanyabmencari kebenaran yang tak berujung. Namun bagi saya, filsafat tak seperti itu yang kita nilai, juga tidak menyesatkan, filsafat  membuat kita bijaksana dalam berpikir. Lihat apa yang terjadi, perkembangan teknologi dan sains telah menghilangkan sifat kritis, manusia bukan lagi subjek rasional, melainkan objek. Manusia dibentuk dengan sistematis. Menurut Harbert Marcuse, teknologi dan ilmu pengetahuan bukan lagi dinilai sebagai ilmu pengetahuan pasti, tetapi telah berubah menjadi syarat berpikir untuk masyarakat ( rasional instrumental ). Inilah yang disebut oleh Marcuse yaitu manusia satu dimensi.

Ilmu pengetahuan harus bebas dari kritik, dan tak perlu diperdebatkan. Maksud saya seperti ini, dalam aliran pemikiran positivisme, bahwa ilmu pengetahuan harus terpisah dari kepentingan, tidak perlu lagi diverifikasi kebenarannya, dan ini yang disebut bebas nilai. Mengapa demikian, agar ilmu pengetahuan tidak mengalami distorsi, hanya fokus tumbuh secara otonom. 

Tentu saja hal ini tak memiliki sifat emansipatoris. Jika Pengetahuan tak lagi diuji kebenarannya dan tak berpihak terhadap kepentingan kehidupan praktis manusia, maka ilmu  pengetahuan dinilai mengalami penurunan. Kemajuan sains dan teknologi dalam kehidupan manusia telah menandakan bahwa filsafat dinilai tak lagi produktif, dan dianggap tak relevan, wajar saja, manusia sangat pragmatisme di era saat ini. Tak ada lagi dinamika pemikiran di ruang publik.

Cukup sampai sini penjelasan saya, tulisan ini hanya sifatnya subjektif dari hasil bacaan buku. Pentingnya refleksi diri, sebagai bentuk membebaskan kita dari pemikiran yang sempit, situasi yang terhenti, dan sejenak bertanya-tanya. Dalam hal ini, Refleksi membawa manusia dalam situasi yang sadar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE MONSTER GIRL, Episode 1.

Desa bernama Sirakawa-go, hidup seorang gadis muda bernama Aruma, kedua orang tuanya bekerja sebagai petani Sayuran Daikon (lobak putih) dan kabocha (labu musim dingin). Kehidupan mereka damai dan penuh kebahagiaan. Cerita diawali menjelang malam. Keesokan harinya, Aruma berangkat ke sekolah, ia seorang gadis yang baru duduk di kelas 3 SMA. Di hari libur sekolah, Aruma membantu ayahnya dan ibunya di kebun, menanam sayuran sambil memetik. Sementara di kota Tokyo, sekelompok ganster sedang membicarakan rencana penculikan. Keesokan harinya, Aruma dalam perjalanan pulang sekolah. Aruma yang tak bisa berbuat apa-apa, dia harus pasrah untuk ikut, ia dibawa pergi ke Tokyo, di sana dia bertemu dengan Kazakaru (bos besar). Kelanjutnya, tunggu di episode ke 2. Akan Menjadi awal di mana Aruma menjadi gadis yang kuat (Monster).

Hidupku tak sebaik yang orang lihat

Hujan turun di pagi hari, aku lagi berteduh di halte  di dekat jalan raya. Sewaktu masih SMA, aku sering menunggu mobil angkot di tempat ini, masa-masa itu seketika  teringat, hadir dalam pikiranku. Disini aku duduk sambil memperhatikan hujan, sesekali aku berdiri dan meluruskan lengan kananku, membuka telapak tangan, membiarkan tetesan hujan jatuh di antara jari-jariku. Seketika Mobil angkot berhenti di hadapanku, si sopir tersenyum, aku bergegas naik ke mobil.  Aku menatap kaca jendela mobil, cahaya kendaraan dari luar berklap-klip. aku merasa hidupku kurang bahagia, Rudi adalah sahabatku, dia juga pernah berkata begitu padaku, katanya aku tak menikmati hidup. Apa mungkin seperti itu, rasanya aku tidak tahu, aku selalu terbawa perasaan, kadang kosong, seakan-akan aku tak dapat memastikannya. Mobil berhenti seketika, aku sudah tiba tepat di depan sebuah cafe. Aku berjalan masuk, melihat di sekitar, mencari teman-temanku, mereka duduk di di mana. Sepas...

Sendiri

Duduk di antara kekosongan, sendu di titik paling sepi, perlahan aku mulai berpikir, apa mungkin sesuatu hari nanti, suatu waktu, ada hal yang bisa membuatku bahagia. Aku menyadarinya dengan penuh keraguan, hidup tak selalu berjalan dengan keyakinan, selama tiga tahun ini hidupku tak berjalan baik, makin lama, terasa hal itu membuatku takut, sudah kuusahakan segala macam cara agar hidupku kembali membaik. Aku seorang introvert yang tak banyak berbicara. Tak pernah berbagi cerita kepada teman-temanku, bahwa betapa gelapnya hidupku.  Hari mulai menjelang siang, aku masih duduk terdiam tak berbuat apa-apa, terbiasa menyendiri. Jujur saja, aku selalu kehilangan energi ketika terlalu lama berada di tengah keramaian, meski aku tak terlihat canggung, aku tetap tersenyum, bertemu dengan teman-teman, sebisa mungkin berjuang menikmati hari. Namun, ketika pulang ke rumah, aku merasa lelah, mentalku terkuras habis, pada akhirnya butuh waktu untuk sendiri. Pikiranku butuh ruang yang...