Langsung ke konten utama

Mursin Si sopir truk

  
                   By Sahru ramadhan



Sudah tiga tahun Mursin menjadi sopir truk, ia senang dengan pekerjaannya itu sejak dari kecil. Meski sebenarnya merugikan istri dan anak-anaknya,  jarangnya waktu berkumpul bersama keluarga. Pekerjaan itu seakan membuat dirinya merasa jauh, sang istri hanya bisa mengerti dan menerima. Sejak usianya delapan belas tahun, Mursin menghabiskan hari-harinya menjadi kernet mobil milik tetangganya juga seorang sopir truk, bernama Sutyo, awalnya dia hanya ikut-ikut saja, sekedar mengisi waktu libur sekolah, tak lama kemudian Mursin mulai sadar bahwa dirinya ingin bekerja menghasilkan uang, karena kondisi ekonomi keluarganya yang kurang mampu.

Sejak saat itu, Mursin mulai sering bepergian keluar daerah, ia terlihat begitu bersemangat ketika sedang menaikkan barang ke bak mobil, para sopir truk kagum melihatnya, umurnya yang masih terlalu muda tak sungkan melakukan pekerjaan kasar, menjelang akhir semester, ia sudah tidak pernah masuk sekolah. Di suatu malam Mursin tak sengaja mendengar percakapan kedua orang tuanya tentang biaya keperluan sekolahnya yang makin mencekik, ayahnya sudah memasuki usia senja, sering sakit-sakitan, Mursin mempunyai adik perempuan. Setelah mengetahui hal itu, Mursin memutuskan untuk berhenti sekolah dan memilih bekerja menjadi sopir truk, dia rela dibayar perhari dengan upah yang sangat renda. 

Sudah sebulan Mursin menjadi kernet mobil, ia berniat ingin memncobs belajar mengendarai mobil truk, Sutyo menyetujui keinginannya, walaupun dirinya masih kurang yakin dengan keinginan Mursin, mengendarai mobil truk sepuluh roda itu tidak mudah. Dengan semangat kerja, juga pandai mengantur barang di bak mobil, Mursin akhirnya sudah bisa mengendari mobil truk hingga keluar daerah, seminggu kemudian, ia diangkat menjadi karyawan tetap diperusahaan ekspedisi. Mursin memutuskan menikah dengan wanita pilihan dari kedua orang tuanya, dikaruniai dua anak perempuan yang sangat ia sayangi. Namun karena keseringan keluar kota, Mursin tak punya banyak waktu berkumpul bersama istrinya dan anak-anaknya, terkadang hanya sehari saja diberi waktu libur.

Lama-lama ia mulai kepikiran, menjadi seorang bapak kepala rumah tangga yang hanya sibuk dengan pekerjaannya, sulitnya waktu berkumpul dengan istri dan anak-anaknya. Pekerjaannya mulai padat, pengantaran makin banyak, dirinya bagaikan mesin yang berakhir dengan kelelahan. Saat ini ia sedang berada di luar kota, tiba-tiba istrinya menghubunginya bahwa anak pertamanya sedang sakit, demam tinggi, Mursin hanya bisa memberi berkata kepada istrinya, untuk menghubungi ibunya agar bisa membantunya, ia sedih dan menutup telponnya. Terus memikirkan anaknya, tiba-tiba hujan turun sangat menggila, mengguyur seluruh aspal jalanan, dia tak mampu melihat dengan jelas kaca mobil, Namun dirinya merasa kesal.

Mursin menepi di sebuah warung pinggir jalan, si pemilik warung perhatikannya sambil melempar senyum, ia memesan secangkir kopi hitam dan duduk di teras warung, langit tertutup oleh awan gelap, tampaknya hujan tak berhenti mengguyur, suara genteng sangat ribut. Mursin terdiam menatap air hujan yang jatuh melalui saluran genteng, merembes masuk ke depan warung. Tiba-tiba langit kembali bergemuruh, lamunannya buyar seketika, ia berbalik ke dalam warung melihat jam yang ada di dinding, lalu memikirkan barang yang dia bawa, harus sampai besok pagi, hujan belum juga berhenti, bagaimana pun juga dia harus tetap melanjutkan perjalanan, tanpa berpikir lama, Mursin berdiri lalu berlari ke mobil menorobos hujan. Kaca mobil berembun, sekali-sekali ia harus mengusapnya dengan tengannya agar aspal jalan terlihat jelas.

Mobil melaju dengan pelan, pandangannya hanya fokus ke kaca mobil, angin meniup hingga terdengar gema suara-suara ranting pohon, letih meraba-raba tubuhnya, sedikit waktu sudah terbuang, Mursin menahan napasnya. 

"Aku harus melewati perbatasan provinsi sebelum hari sudah gelap," ucapnya. 

Hujan melambat, tak sederas sebelumnya, aspal mulai terlihat jelas, Mursin menginjak gas dan melaju lebih cepat.

Tiba di perbatasan saat magrib mulai menjelang, langit mulai gelap memudar, disertai awan yang menutup, seakan-akan dunia tenggelam dalam kegelapan. Jalan sangat terjal penurunan, di sisi kiri dan kanan terlihat jurang , kaki kanan Mursin menginjak rem pelan-pelan, mobilnya bergerak turun, tak mengijak gas, beberapan mobil menunggu di ujung penurunan, sudah menjadi hal kebiasaan seperti itu, mobil dilarang berdua atau berpas-pasan, melihat jalanan yang sempit. Mobil Mursin sampai di ujung penuruna,  di dekat situ ada sebuah warung, para sopir truk lintas daerah singgah beristirahat, Mursin berbelok masuk ke halaman warung, berhenti lalu turun dari mobil, menjejakkan kakinya ke tanah yang basah. 

Langit sudah gelap, sesak udara dingin menebar, Mursin masuk ke dalam warung, berjenis makanan perasmanan tertata di dalam etalase, para sopir sibuk menyantap makanan dengan lahap. Mursin Mengiritkan pengeluaran, ia hanya memesan kopi hitam dan gorengan yang sudah dingin, uang makan yang diberikan hanya sedikit, Mursin seorang perokok aktif, biasanya ia mendapatkan keuntungan dari sisa uang transportasi yang tidak terpakai. Mursin duduk di sudut dekat jendela warung, meninggalkan goloknya di dalam mobil yang selalu dia bawa ketika bepergian keluar daerah, golok itu terlihat berkilau bagaikan sepotong ular mati di antara tangkai-tangkai kering. Saat ini ia tak lagi terpikirkan oleh anaknya yang sedang sakit, dirinya hanya tersuntuk seiring udara dingin membuat sebagian tubuhnya teras lusuh. 

Sosok lelaki menghampirinya, tubuhnya tinggi dan kulitnya sedikit kecokelatan. 

"Hey, Mursin, kamu sudah lama di sini? " Tanya seorang lelaki yang tiba-tiba muncul di hadapannya, bernama Rusli. 

Mursin sudah berteman dengannya cukup lama, pertama kali mereka bertemu di sebuah bengkel, di saat mobil Mursin lagi mogok, Rusli lah yang membantunya. 

"Tidak, aku baru saja tiba, lihat kopiku masih mengeluarkan asap," balas Mursin. 

Rusli terdiam sejenak sambil melihat handphonenya, sekali-kali ia berbalik ke arah kasir, menunggu pesanan kopinya datang.

Remang-remang cahaya lampu rumah kayu  penduduk, tenggelam dalam kesunyian, memandang hidup yang kian menyulitkan, pekerjaan ini mulai menyiksanya, berbagai lelah dan derita yang dia hayatinya, namun istrinya tak ikut mempermasalahkan, ia hanya tahu kondisi keluarganya saat ini, membutuhkan uang biaya hidup. Beruntunglah Mursin punyai istri yang begitu memahaminya.

Setelah lama duduk, dia berpamitan kepada temannya untuk melanjutkan perjalanan. Berjalan keluar, melewati tongkrongan para sopir yang masih berleha-leha tertawa. Tetap melangkahkan kakinya dalam diam, naik di tepi depan pintu mobil, membersihkan kaca jendela yang tertutup oleh embun dan gerimis yang masih merintik. Mursin menengok ke langit, tak terlihat bintang satu pun, musim hujan telah datang, sejuk dan dingin, segala sesuatu yang cerah lenyap tertelan gelap. 

Mobilnya melaju dengan cepat, ia harus tiba pukul tiga pagi. Saat ini Mursin berada kolaka utara menuju ke kota kendari, yang berjarak 380.04 km atau 235.62 mil. Mungkin yang tidak terbiasa dengan perjalanan lintas daerah, ini terasa sangat jauh. Mursin duduk dengan kepala tegak, kondisi jalanan terlihat sunyi dan gelap di sekitarnya, di setiap tikungan Mursin membunyikan klakson mobil, sesekali ia melirik ke kaca spion. Terlihat cahaya lampu mobil di belakang, mobil itu mendekat lalu membunyikan klakson, Mursin sesekali melihatnya dari kaca spion, itu mobil avanza, pikirnya. Menyampingkan mobilnya ke sisi kiri jalan, lalu mengeluarkan tangan kanannya ke jendela untuk mempersilakan lewat, mobil avanza itu masih tetap membuntutinya dari belakangnya, Mursin kembali melihat ke sisi kanan jalan, mungkin masih terlihat sempit. Ia melaju dan mancari jalur lurus. Mobil avanza itu kembali membunyikan klasonnya sebanyak tiga kali, Mursin memperlambat laju mobilnya dan menepi ke sisi kiri jalan, tiba-tiba mobil avanza itu lewat dengan kecapatan penuh, "Sialan," ucap Mursin.

Jalanan kembali sunyi, gelapnya malam menyelimuti semesta alam, membenamkan dirinya dalam pangkuan suatu ketenangan. Hening mengalun dalam pikiran, bintang-bintang mengintip di sela-sela awan, seakan membimbingnya melewati malam, suara-suara surut bagaikan air laut. Mursin terdiam oleh suatu ketenangan, keheningan yang menyenangkan, tubuh bersandar ke belakang, melaju menerobos gelap.

Sepanjang jalan yang kosong, suara toa mesjid mulai berbunyi, belum sampai di kota tujuan, tak ada niat untuk berhenti sekedar beristirahat, kota kendari sudah tak jauh lagi. Dua kota sudah dilewati, Mursin telah sampai di kota kendari tepat pukul tujuh pagi, tak sesuai dengan rencana, yang seharus pukul tiga pagi. ia langsung ke tempat yang tertulis dialamat, ia mengambil selembar kertas, mencari alamatnya, setelah lama berputar-putar akhirnya ketemu gudang ekspedisi tersebut, dua security berdiri di depan pintu gerbang menghadang mobil mursin, berjalan mendekati pintu mobil.

"Maaf, pengeriman dari mana? Barang apa yang kamu bawa?" Tanya security.
" Makassar, Biji jagung dan bawang," jawab Mursin.

Security hanya menganggukkan kepalanya, temannya yang satu sibuk memperhatikan muatan di bak truck, sambil mencatat plat mobil. Setelah selesai, Mursin dipersilakan masuk di depan loding, seorang lelaki  bertubuh besar muncul di samping mobil Mursin, sepertinya orang itu sedang menunggunya, Mursin pun turun dan melihat lelaki bertubuh besar itu, mereka saling membalas senyum, tiba-tiba lelaki itu berkata.

"Bang, bole minta rokoknya sebantang?"
Mursin terdiam sebentar, sambil memeriksa saku celanannya, "Iya bang, ini masih ada," kata Mursin.

Dengan cepat lelaki bertubuh besar itu mengambil sebatang rokok di tangan Mursin, lelaki itu pekerja buruh di gudang ini, terlihat dari penampilan sangat berantakan. 

Mursin membuka pintu bak mobil, menurunkan barang satu per satu, dibantu dengan dua orang pemuda. 

"Sendiri yah, bang?" Kata salah satu pemuda itu.
"Iya, bang," Jawab Mursin dengan senyum.
"Wah, kuat juga kamu, jalan sendiri tanpa kernet," Balas pemuda itu.

Setelah barang turun semuanya, dicek dan sesuai, Mursin meninggalkan tempat itu lalu mencari rumah makan, sisa uang perjalanan lumayan banyak, Mursin ingin bersantai-santai seharian di kota kendari, Sorenya dia harus balik ke makassar.

Di sebuah warung pinggir jalan di tengah kota, Mursin beristirahat sambil menghubungi istrinya, menanyakan kabar anaknya. Istrinya hanya bilng kepadanya, "Sudah sedikit membaik, cepatlah pulang." Sesampainya di Makassar, Mursin mengharapkan semoga tak ada pengiriman, sehingga bisa mengambil hari cuti, ia ingin kumpul bersama anak-anaknya. Mursin mematikan telponnya, masih bersantai, secangkir kopi dan rokok sebungkus, juga perutnya kenyang. Setelah sudah cukup lama bersantai, ia melanjutkan perjalanannya, besok ia sudah harus sempai ke Makassar. Memikirkan perbatasan lintas provinsi, antara sulawesi tenggara dengan sulawesi selatan yang kemarin ia lewati, jalur yang menanjak sangat tinggi, nyawa menjadi ancaman. Dia harus ada di sana sebelum pukul jam dua belas malam. 

Beginilah, hari-hari hidup di perjalanan, dulu dia pernah mengalami situasi sampai membuat dirinya merasa sangat sedih. Waktu itu satu tahun yang lalu, menjelang malam takbiran, besok sudah lebaran, hal yang tak terpikirkan olehnya, pemilik perusahaan ekspedisi mendesak hubunginya, Mursin lagi bersama anaknya dan istrinya, bosnya berkata kepada Mursin, katanya ada pengiriman yang mendadak, barang yang harus dikirim ke toraja, dan pengiriman itu tidak bisa dipending, harus di kirim malam hari ini juga. Mursin sempat menolak, alasannya ingin merayakan hari lebaran dengan keluarganya, keputusannya itu tak membuat pemilik perusahan ekspedisi setujuh, dan malah memohon kepada Mursin untuk bisa menerima permintaannya demi menjaga nama baik perusahaannya dengan konsumen. Mursin dijanjikan ongkos lumayan banyak dan uang makan yang lebih, agar meniat mengantarnya. Mursin masih tetap ingin menolaknya, tetapi ia takut jika atasanya sampai kecewa dan memecatnya, Tak bisa lagi beralasan, dengan terpaksa ia menerimanya. Mursin sempat meneteskan air mata sembari meminta maaf kepada istrinya, dengan senyum ikhlas, istrinya memberi izin.

Mursin sudah berada di perbatasan, duduk di  warung yang kemarin ia singgai. Kopi hitam dan sebungkus rokok di atas meja, kedua matanya sayup-sayup memandang gulita gelapnya malam, suara musik dangdut bergema mengusir sunyi. Gerombolan nyamuk berputar-putar di atas kepalanya, sesekali ia menamparnya, namun tak memberi efek jera, tetap saja nyamuk itu makin berdatangan dari segala sisi, menjelang subuh dia akan melanjut perjalanannya. Terlihat seorang sopir truk berjogek setengah mabuk di depan warung, mempertontonkan kebodohannya. Mursin menaikkan kedua kakinya di atas kursi panjang, bersandar di sisi jendela, di ujung jarinya masih terselip sebatang rokok.

Mentari mulai muncul dari sisi pepohonan, para sopir tepar tak berdaya di atas bale-bale. Mursin terbangun seketika, setelah mendengar suara gaduh anak-anak berlari di sekitar warung. Ia ketiduran, seharusnya jam lima pagi ia berangkat ke Makassar, dengan cepat Mursin bergegas, membilas wajahnya dengan kerang air. Tak permisi dengan pemilik warung, Mursin naik ke mobil, setelah mesin mobil sudah berbunyi, ia lalu berangkat.

Dalam perjalanan ia masih berharap tidak ada antaran sesampai di makassar, masih memikirkannnya, namun ia belum yakin hal itu bisa terjadi, mengingat atasannya yang seenaknya memberi perinta. Mursin hanya selalu nurut dengan alasan yang sama, takut kehilangan pekerjaan, kebutuhan hidup yang makin susah, segalanya serba mahal, seakan situasi ini memaksa untuk bekerja lebih keras. Bahkan keterbatasan fisik tak terhiraukan, tubuh dipaksa bekerja berjam-jam hingga larut malam, pada akhirnya kamatian menjadi tak terelakkan. Banyak perusahan yang tak peduli soal itu, mereka hanya berpikir tentang omset terus bertambah. Tujuan kita dipekerjakan yang sebenarnya bukan untuk memenuhi kebutuhan pribadi kita, namun kita bekerja untuk membuat perusahaan makin kaya. Lihat saja jm kerja pada umumnya, masuk jam delapan pagi pulang jam lima sore, seperti dikerjain, gaji yang didapat masih saja belum cukup memenuhi kebutuhan hidup, upaya menambung juga sulit, simpanan terus terkuras, biaya hidup yang kian mahal.

Sebentar lagi Mursin sampai di kota makassar, tetap ia masih saja terpikirkan hal itu, semoga atasannya berbaik hati memberikan izin kepadanya untuk beristirahat. Setiba di halaman kantor, Mursin melihat ke arah depan pintu gudang, para buruh sibuk menurungkan barang dari mobil kontainer, itu barang kiriman yang baru tiba dari pelabuhan, Mursin Makin tak yakin. Sosok lelaki tak mengenakan baju berteriak dari depan pintu gudang.

"Woi, Mursin."
"Iya," Balas Mursin, sambil tersenyum.
"Akhirnya kamu tiba juga? Kata lelaki itu, bernama Ansar.
"Iya, baru sampai," Ucap Mursin.

Mursin turun dari mobil lalu mengampirinya, dengan rasa penasarannya, ia tanyakan terkait barang yang datang itu, pikirannya bercampur aduk, segera ingin tahu.

"Itu barang dari mana?" Tanya Mursin
"Dari Surabaya, isinya tepung," jawab Ansar.
"Terus, barang itu mau dibawa ke mana? Mursin kembali bertanya.
"Katanya, dikirm ke palopo."
Mursin terdiam, "Ini tidak mungkin," Ucapnya dalam hati. Ia merasa dirinya yang akan ditugaskan mengantar barang itu.

Ia berjalan masuk ke gudang, menyetor surat jalan, juga nota-nota bensin. Tak lama kemudian atasannya muncul, nyeletuk di saat Mursin sedang fokus menulis laporan. 

"Besok subuh kamu yang antar barang itu," kata bosnya.
"Sial," bisiknya.
"Yang lain tidak bisa yah pak?" Lanjut Mursin.
"Tidak bisa, kamu saja yang antar," jawab bosnya dengan tegas.

Seketika ia merasa lemas, tak berdaya, harapannya pun pupus. Tak diberi waktu sehari untuk beristirahat, terpaksa ia harus berangkat besok subuh. Mursin menghubungi istrinya, itu sangat menyakitkan baginya, istrinya hanya mampu menahan kecewa. "Atasanmu itu tak punya hati nurani," Ucap istrinya. Pekerjaan ini kian menyiksanya, dirinya tak bisa berbuat apa-apa. 

Setelah balik dari kota palopo, Mursin terkena flu dan demam, ia meminta izin untuk tidak masuk kerja dan diberi waktu untuk beristirahat sehari hari, demamnya pun tak kunjung membaik, dirinhya masih terbaring lemah, atasannya menghubunginya, tak menanyakan kondisi kesehatannya, malah bertanya kapan masuk kerja, mendengar  perkataannya itu, Mursin dibuat marah, ia belum bisa bangun dari tempat tidurnya, terdiam sambil berpikir. Sikap bosnya sangat otoriter, bertindak menurut kemauannya sendiri, tak peduli dengan kondisi karyawannya, dipaksa bekerja dan tak boleh berlama-lama sakit. Wajar saja, perkelahian antara pekerja dengan atasan kadang terjadi,  kebencian yang terpendam selalu ada.

Mursin tak mungkin melakukan hal itu, yang bisa merugikan dirinya dan keluarganya, sulitnya mencari pekerjaan saat ini, hidup  penuh dengan kesusahan. Rasanya ingin menyerah, berlama-lama hidup yang tak punya sisi kemanusiaan, kita pun tahu, di tengah situasi yang krisis ini, kehidupan manusia makin pelit, persoalan memenuhi kebetuhan hidup bisa saling membunuh, ditambah tingkat pengangguran makin bertambah, kemiskinan pun tak hindar. 

Musim hujan telah tiba, suatu musim yang dingin dan kejam. Malam yang hampa berkelabu, angin masuj lewat jendela, disepanjang hari orang-orang mulai kehilangan senyum di wajahnya, suara-suara mobil ditengah kemacetan,  langkah kaki di atas trotoar, semuanya terdengar penuh penderitaan. Mursin masih saja tak berdaya di dalam kamarnya, sejak beberapa hari yang lalu ia diberhentikan dari tempat kerjanya, atasannya tak menerimanya kembali. Tak mampu membayangkan nasibnya saat ini, seorang lelaki yang hina dan menyedihkan, selama bekerja menjadi sopir truk, dari pagi hingga larut malam, apapun ia upayakan tak ada gunanya di mata atasannya.

Kebahagiaan yang diimpikan tak kunjung datang, Mursin tak mengira perjuangannya harus berakhir seperti ini. Ia duduk termenung di teras rumah dan berusaha bersabar, mengamati semua yang sudah terjadi. "Dari semua yang kupikirkan terasa sedih, namun mencoba merasa baik-baik saja, dari hal terkecil pun aku bayangkan sedalam-dalamnya, lalu mengikhlaskannya," Ucap Mursin dalam hatinya.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE MONSTER GIRL, Episode 1.

Desa bernama Sirakawa-go, hidup seorang gadis muda bernama Aruma, kedua orang tuanya bekerja sebagai petani Sayuran Daikon (lobak putih) dan kabocha (labu musim dingin). Kehidupan mereka damai dan penuh kebahagiaan. Cerita diawali menjelang malam. Keesokan harinya, Aruma berangkat ke sekolah, ia seorang gadis yang baru duduk di kelas 3 SMA. Di hari libur sekolah, Aruma membantu ayahnya dan ibunya di kebun, menanam sayuran sambil memetik. Sementara di kota Tokyo, sekelompok ganster sedang membicarakan rencana penculikan. Keesokan harinya, Aruma dalam perjalanan pulang sekolah. Aruma yang tak bisa berbuat apa-apa, dia harus pasrah untuk ikut, ia dibawa pergi ke Tokyo, di sana dia bertemu dengan Kazakaru (bos besar). Kelanjutnya, tunggu di episode ke 2. Akan Menjadi awal di mana Aruma menjadi gadis yang kuat (Monster).

Hidupku tak sebaik yang orang lihat

Hujan turun di pagi hari, aku lagi berteduh di halte  di dekat jalan raya. Sewaktu masih SMA, aku sering menunggu mobil angkot di tempat ini, masa-masa itu seketika  teringat, hadir dalam pikiranku. Disini aku duduk sambil memperhatikan hujan, sesekali aku berdiri dan meluruskan lengan kananku, membuka telapak tangan, membiarkan tetesan hujan jatuh di antara jari-jariku. Seketika Mobil angkot berhenti di hadapanku, si sopir tersenyum, aku bergegas naik ke mobil.  Aku menatap kaca jendela mobil, cahaya kendaraan dari luar berklap-klip. aku merasa hidupku kurang bahagia, Rudi adalah sahabatku, dia juga pernah berkata begitu padaku, katanya aku tak menikmati hidup. Apa mungkin seperti itu, rasanya aku tidak tahu, aku selalu terbawa perasaan, kadang kosong, seakan-akan aku tak dapat memastikannya. Mobil berhenti seketika, aku sudah tiba tepat di depan sebuah cafe. Aku berjalan masuk, melihat di sekitar, mencari teman-temanku, mereka duduk di di mana. Sepas...

Sendiri

Duduk di antara kekosongan, sendu di titik paling sepi, perlahan aku mulai berpikir, apa mungkin sesuatu hari nanti, suatu waktu, ada hal yang bisa membuatku bahagia. Aku menyadarinya dengan penuh keraguan, hidup tak selalu berjalan dengan keyakinan, selama tiga tahun ini hidupku tak berjalan baik, makin lama, terasa hal itu membuatku takut, sudah kuusahakan segala macam cara agar hidupku kembali membaik. Aku seorang introvert yang tak banyak berbicara. Tak pernah berbagi cerita kepada teman-temanku, bahwa betapa gelapnya hidupku.  Hari mulai menjelang siang, aku masih duduk terdiam tak berbuat apa-apa, terbiasa menyendiri. Jujur saja, aku selalu kehilangan energi ketika terlalu lama berada di tengah keramaian, meski aku tak terlihat canggung, aku tetap tersenyum, bertemu dengan teman-teman, sebisa mungkin berjuang menikmati hari. Namun, ketika pulang ke rumah, aku merasa lelah, mentalku terkuras habis, pada akhirnya butuh waktu untuk sendiri. Pikiranku butuh ruang yang...