By Sahru ramadhan
Setiap tahun kasus kebakaran hutan terus terjadi, ditemukan bekas-bekas penebangan liar dari orang yang tak bertanggung jawab, mereka seperti tikus-tikus sawah, merusak semaunya. Kita tahu, hutan adalah sumber kehidupan bagi semua mahkluk hidup yang ada di muka bumi ini, jika terus dirusak hanya demi kepentingan tertentu, habislah kita, hewan-hewan yang hidup di dalam sana makin terancam kelangsungan hidupnya, perlahan pun akan punah.
Desa kecil yang dikelilingi hutan belantara, jauh dari kebisingan, konon seekor harimau sering terlihat melintas di dalam hutan tersebut, jumlah penduduknya tak banyak, rumah-rumah mereka bisa dihitung jari. Hidup seorang anak lelaki yang berusia sepuluh tahun, tumbuh di tengah-tengah kehidupan jauh berbeda, para penduduk memanggilnya dengan nama Nono. Ayahnya seorang petani, sedangkan ibunya hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga. Dengan usianya seperti itu, kebiasaannya setiap hari membantu kedua orang tuanya, ikut bertani saat hari libur, atau mencari kayu bakar Menjelang sore, Nono sering masuk ke hutan untuk mencari kayu bakar. Dia juga dikenal anak yang pemberani, biasanya ia keluar dari hutan ketika hari sudah mulai gelap.
"Ibu? Aku sudah pulang" Teriak Nono dari belakang rumah. Membawa sepikul potongan-potongan kayu kering yang dilapisi karung putih dan terikat tali rafia.
"Iya, nak," balas ibunya, sedang berada di dapur, "Simpan saja kayu itu di samping rumah."
Setelah habis menyimpan kayu bakar, Nono berjalan masuk ke dalam rumah lewat pintu depan, ia melihat ayahnya sedang duduk tersuntuk di sudut kursi ruang tengah. Nono ingin memberi tahu bahwa dia baru saja melihat bangkai seekor harimau jantan mati tertimpa batang pohon berukuran besar. Melihat ayahnya yang sedang banyak pikiran, ia hanya berlalu masuk ke dapur, mengambil segelas air minum, ibunya muncul dari balik gorden kamar mandi yang tak memiliki pintu.
"Ibu, aku melihat seekor harimau jantan mati membengkak, dia tertindis dengan batang pohon," kata Nono. Napasnya sedikit tergesa.
"Hah? Ada lagi yang mati? Itu harus dilapork ke kepala desa, agar bangkainya cepat dibereskan," balas ibunya.
"Ibu, kenapa akhir-akhir ini hewan itu sering ditemukan mati? Apa mungkin para harimau itu masih banyak berkeliarang di dalam hutan," Tanya Nono, memandang wajah ibunya.
"Lihat saja hutan kita, pohon-pohon sudah makin habis ditebang oleh orang-orang sialan," ibunya marah. "Hewan-hewan itu sudah kehilangan tempat untuk bertahan hidup."
Nono hanya terdiam mendengar perkataan ibunya, lalu masuk ke kamar mandi. Ibunya kembali sibuk di depan kompor minyak tanah, memeriksa isi panci yang berisi nasi untuk makan malam, ayahnya masih duduk menatap gelap di luar jendela. Desa yang sunyi, suara katak di tepi selokan seakan-akan mengusik senyap.
"Ayah?" Ibu Nono memanggil sesaat. Seketika angin malam bertiup masuk lewat pintu depan, menggoyangkan ranting-ranting pepohonan, perlahan terdengar gemersik daun-daun saling gesek.
Nono keluar dari kamar mandi sambil menggantung handuk di bahu kirinya, melihat ayahnya sudah duduk di depan meja makan, ia berjalan lalu duduk tepat di samping ayahnya.
"Kata ibumu, kamu habis melihat bangkai harimau di dalam hutan?" Tanya ayahnya. Nono yang sedang menyendok nasi ke piring makannya terhenti, lalu berbalik ke arah ayahnya.
"Iya, aku melihatnya, tubuhnya sudah membusuk," jawab Nono, sambil menghembuskan napas, meletakkan piring ke meja makan. ayahnya hanya terdiam, sibuk mengoyak makanan di mulutnya, di ujung jari-jarinya lengket sisa-sisa nasi.
"Besok kamu ikut, saya dengan kepala desa akan mengurus bangkainya," kata ayahnya.
"Iya."
Esok harinya, Nono duduk di tepi selokan, melihat anak-anak katak muncul dipermukaan, ia tersenyum sambil bermain dengan memegang ranting, dia senang dengan hewan, bahkan dia mengajaknya berbicara, tak peduli orang-orang menganggapnya aneh, baginya kesenangannya tidak ada hubungannya dengan meraka. Di saat lagi asik-asik bermain, ayahnya pun muncul bersama kepala desa.
"Hey, Nono," ujar kepala desa, seumuran dengan ayahnya, juga seorang petani. Berkat dukungan dari ayah Nono dan juga para penduduk, dia terpilih jadi kepala desa.
"Iya, om," balas Nono, ia meraih tangan si kepada desa lalu menciumnya.
"Katanya, kemarin kamu melihat seekor harimau yang sudah membusuk di dalam hutan," tanya kepala desa.
"Iya, hewan itu tertimpa batang pohon."
Dua orang pemuda desa juga ikut, mereka berlima masuk ke hutan, melewati jalur yang biasanya para petani lalui. Sejak komplotan penebang liar yang sering muncul di hutan itu, juga orang-orang proyek yang datang masuk ke desa bersama para pekerja pemborong, mereka biasanya lewat di depan rumah para penduduk untuk masuk ke dalam hutan, para warga sekitar tak ada yang berani menegurnya, juga kepala desa. Sejak itu juga seekor harimau sudah semakin jarang terlihat di tengah hutan, meski sebanarnya menguntungkan bagi penduduk, karena sering kali hewan itu menjadi ancaman aktivitas bertani.
Sesampai di lokasi tempat bangkai harimau jantan, tubuhnya sudah terlihat pucat, gerombolan belatung sudah membuat lubang kecil di sekitar perutnya, memakan isi-isi perut si harimau yang sudah tak bernyawan. Dua orang pemuda desa itu langsung mengangkat batang pohon yang masih menindis sebagian tubuh harimau tersebut, lalat beterbangan, Nono seketika menutup hidungnya, bau busuk minta ampun, membuat si kepala desa ingin munta melihatnya.
Ditariklah hewan itu keluar dari batang pohon, keempat kakinya diikat mengantung dengan potongan bekas cabang batang pohon. Setelah selesai diikat, kemudian kedua pemuda itu mengangkatnya, lalu dipikul dengan bahunya. Mereka akan membawanya ke rumah kepala desa, dan memberikan informasi ke dinas perlindungan hewan.
Keesokan hariannya, Nono sedang duduk di teras rumahnya, menunggu waktu sore untuk mencari kayu bakar di hutan. Tiba-tiba enam orang penduduk desa lewat, mereka ribut-ribut, Nono berdiri dari tempat duduknya, memperhatikan orang-orang itu, mereka membawa sesuatu yang terbungkus oleh karung, itu seekor hewan, ekornya mengantung keluar dari sela-sela karung, "harimau," ucap Nono dalam hati. Ia berlari keluar, mengikuti orang-orang itu dari belakang. Tiba di rumah kepala desa, harimau jantan yang barusan ditemukan dari hutan, tergeletak di tanah halaman rumah kepala desa, ternyata isi dalam karung yang tadi itu seekor harimau betina yang sudah mati, seluruh tubuhnya terlilit oleh perangkap kawat yang dipasang para pemburu liar, "Dasar bajingan," ucap si kepala desa, melihat harimau yang sudah tak bernyawa.
Mejelang waktu siang, terdengar suara mesin pemotong pohon dari dalam hutan, Nono yang sedang ada di belakang rumahnya, sibuk membuat kalung untuk kucing peliharaannya, sontak berbalik ke arah hutan, wajahnya yang penasaran, ia menjatuhkan kalung itu di atas meja, dan bergegas berjalanan masuk ke hutan tanpa memberi tahu ibunya, ayahnya sudah berada di sawah sejak pukul tujuh pagi. dengan rasa penasaran, Nono ingin melihat orang-orang si penembang liar itu.
Setiba di lokasi tempat suara mesin pemotongan, ia melihat ada sepuluh orang yang berdiri di sana, sibuk menghitung jumlah pohon yang sudah di tembang, ada juga lagi duduk di atas batang pohon yang terlentang di tanah sambil mengisap rokok, sesekali mereka tertawa. Nono merunduk seperti pasukan tentara yang sedang memantau para musuh, mengintip dari sela-sela ranting pohon yang bercabang.
Melihatnya dengan penuh emosi, perasaannya menggebu-gebu ingin memukulnya satu per satu, itu mustahil, dia hanya bocah kecil, jika ia ingin melakukannya, pukulannya pun tak terasa bagi orang-orang yang bertubuh besar seperti mereka. Setelah lama bersembunyi di balik pohon, Nono dikejutkan dengan seekor harimau betina kecil melintas di semak-semak yang kering, tak jauh dari tempat Nono bersembunyi. Tak menunggu berlama-lama, ia mengikuti harimau itu, melangkah dengan hati-hati, harimau itu berjalan sangat pelan, sepertinya ia mencari induknya, atau sesuatu yang bisa dia makan.
Nono tak lagi peduli dengan para penebang liar itu, kini hanya perhatiannya hanya ke harimau betina kecil tersebut. Ia mempercepat langkahnya, harimau itu hilang dari pendangannya, ia melihat di sekitarnya, tak ada tanda-tanda ke arah mana harimau kecil itu berjalan, Nono tak putus asa, dia yakin harimau itu belum terlalu jauh darinya, terus mencarinya, memeriksa di tumpukan ranting yang kering, juga di balik pohon, tak terasa Nono sampai dipinggiran sungai, ia melihat harimau itu sedang berada di tepi air sungai mengalir, dengan cepat menerobos semak-semak lalu mendekatinya, si anak harimau tiba-tiba berbalik ke arahnya, sontak memberi perlawanan sambil mundur beberapa langkah, Nono menghentikan langkahnya, mencoba membuatnya tenang, pelan-pelan ia menyodorkan tangannya, seakan-akan ia ingin memberikan sesuatu, si anak harimau itu tak lagi bergerak mundur, ia memperhatikan tangan Nono, mungkin ia mengira akan diberi makanan.
Nono berhasil menyentuhnya, ia mengusap-usap kepala si anak harimau itu, badannya yang tampak sedikit kurus, ia menyukainya, lama-lama mereka bermain. Nono mengambil setangkai tumbuh-tumbuhan liar yang ada di sekitar sungai, mengoles-ngoles di tubuh harimau berbulu orange agak kecokelatan, dan bergaris-garis hitam tebal, si harimau merasa geli, namun bahagia, berlari ke sana ke mari, lalu menggeliat-geliat di atas tanah. Nono ikut senang bersamanya, sekali-sekali ia tertawa. Anak harimau yang malang, sendiri kesepian di dalam hutan, Ditinggal oleh induknya, mungkin saja sudah mati.
Sebentar lagi hari mulai gelap, Nono ingin membawa pulang si anak harimau betina kecil itu ke rumahnya, namun sempat berpikir, apakah ibu dan ayahnya mengizinkan seekor harimau tinggal di rumahnya. Hutan mulai gelap, dia tidak mau membuang waktu berlama-lama memikirkan hal itu, dia mengambil harimau itu lalu mengendongnya, Nono berjalan meninggalkan sungai.
Sesampai di rumh, Nono berdiri di depan pintu belakang, sambil mengendong anak harimau itu, ia masih ragu membawanya masuk ke dalam rumahnya, dia yakin, ayah dan ibunya pasti marah jika melihatnya, Nono duduk di kursi dekat kandang kambing, melihat anak harimau itu sedang tertidur di kedua pangkuan tangannya. Nono berbalik ke arah kandang ayam yang sudah tidak terpakai, dalam keadaan bingung, ide-ide mulai muncul di puncak pikirannya, Nono ingin menyembunyikan si anak harimau itu di dalam kandang ayam, menurutnya itu tempat yang bagus, kandang ayam itu juga terlihat nyaman untuk si anak harimau.
Setelah selesai, di saat Nono berbalik ke arah pintu, ia melihat ayahnya sudah berdiri di sana. Nono terkejut, wajahnya tampak gugup, sedikit ketakutan. "Apa yang kamu simpan di dalam kandang itu?" Kata ayahnya. Nono terdiam kebingungan, tak tahu mau jawab apa, ayahnya masih menatapnya penuh curiga, mereka saling berpandangan, "Anak harimau," jawab Nono seketika, sambil menunduk. Ayahnya pun tercengang mendengarnya, ia langsung mendekati kandang ayam itu dan melihat si anak harimau yang sedang tertidur lusuh. Nono masih berdiri, dia yakin ayahnya akan memarahinya.
"Di mana kau temukan anak harimau ini?" Tanya ayahnya.
"Di dalam hutan, di dekat tepi sungai."
Tiba-tiba ibunya pun muncul, mendengar percakapan mereka berdua.
"Anak harimau itu sepertinya sudah ditinggal oleh induknya," lanjut Nono.
"Ia, lihat saja tubuhnya, dia terlihat kurus," balas ayahnya. "Biarkan saja dia tidur," lanjutnya.
Tadinya Nono yang merasa takut, kini mulai terlihat senang, ayahnya tak memarahinya. Ia pun langsung masuk ke dalam rumah.
Esok pagi, anak harimau betina itu terlentang di atas potongan kardus kandang ayam, asyik menjilat-jilat tubuhnya. Empat kakinya tertekuk rapat dan ekornya menjulur keluar, dia sedang menikmati tempat tidur yang nyaman, mungkin semalam ia tidur sangat nyenyak, di dalam hutan dia tak menemukan tempat senyaman ini. Nono pun muncul, datang membawa sisa-sisa makanan dari dapur, anak harimau pun terbangun, mencium bau makanan, menurutnya itu sangat enak, Nono membuka pintu kandang dan ia letakkan di tepi kardus, dengan cepat anak harimau itu memakannya sungguh lahap.
Nono melihatnya sambil diam, merenung sambil mengusap bulu si anak harimau, sedikit tersenyum. "Aku harus merawatnya," ucapnya dalam hati. Harimau itu mendekatinya, sedikit mengeluarkan suara, sepertinya ia mengucapkan terima kasih kepada Nono yang mau merawatnya, harimau mengesek-geskkan badannya di betis Nono, membalasnya dengan senyum, lalu mereka bermain di samping rumah.
Mereka pun asik bermain, Nono membuat bola dari potongan kertas bekas yang dia pungut di tong sampah depan sekolah yang tak jauh dari rumahnya, ia melempar bola kertas itu, si anak harimau berlari mengejarnya lalu mengigitnya, menendang-nendangnya, mengeluarkan cakar dari sela-sela bulu kakinya.
Tiba-tiba Nono mendengar suara langkah kaki seseorang masuk ke halaman rumahnya, Nono mendekati anak harimau itu lalu mengendongnya, membawanya ke belakang rumah. Dari samping rumah Nono mengintip, terlihat ada dua orang berdiri di depan pintu, si anak harimau itu sudah berada di dalam kandang ayam. Salah satu dari orang itu tak sengaja melihat Nono yang sedang mengintip.
"Hei, Nono, sedang apa kau di situ," tegur sosok lelaki bertubuh tinggi.
"Eh, pak Darman, lagi habis bersih-bersih rumput di belakang rumah," jawab Nono.
"Oh, begitu, anak yang pintar," ucap pak Darman, sambil melempar senyum.
Pak Darman adalah asisten kepala desa, ia selalu ditugaskan oleh si kepala desa untuk menyampaikan pengumuman penting ke rumah para penduduk, mungkin dia ingin bertemu dengan ayahnya Nono.
Tak ada penduduk yang tahu, Nono bersama ayah dan ibunya merahasiakan tentang si anak harimau itu, mereka tidak ingin sampai orang tahu, mungkin saja kepala desa akan mengambilnya dan membawanya ke tempat perlindungan hewan. Sesuai dengan janjinya, Nono tak mau itu terjadi, dia ingin memeliharanya hingga tumbuh dewasa, dan lepaskannya kembali ke hutan, begitu juga yang ia sampaikan ke ayahnya dan ibunya.
Sisi lain, ketika anak harimau itu sudah tumbuh dewasa, itu akan menjadi ancaman para penduduk dan ternak peliharaan. Ayahnya pun sudah mengingatkannya, ketika sudah besar, dia harus melepaskannya ke hutan yang jauh dari pemukiman, hingga tak terlihat oleh orang-orang.
Nono yang sedang berbaring ditempat tidurnya, sambil memandang langit-langit kamar, lalu ia membayangkan dirinya menjadi seorang tarzan bertubuh besar, ia sangat termotivasi dengan imajinasi liarnya itu dari sebuah buku yang pernah ia baca, buku cerita kisah seorang tarzan, hidup di hutan belantara Amazon, punya banyak pengikut hewan-hewan buas. Mereka begitu akrab, saling melindungi dari bahaya, ketika ada pemburu liar masuk ke hutan, dipastikan nyawa si pemburu akan terancam, mungkin akan menjadi santapan jika ia tak berhasil melarikan diri, si pemburu akan dibunuh oleh tarzan bersama kawanan hewan buas, dan tubuhnya dibiarkan begitu saja dicabik-cabik oleh singa atau macan tutul.
Nono yang baru berumur sepuluh tahun, sudah memiliki sikap yang dewasa, kepeduliannya terhadap hewan yang kehilangan tempat bertahan hidup, ayahnya pun tak sampai pikir, Nono yang masih terlihat bocah, sudah berpikir sejauh itu, dia bersikap keras, jika ada menyakiti anak harimau itu. Dirinya sudah berjanji dan tak ingin mengecewakan si anak harimau tersebut, meski ayah dan ibunya sadar, mustahil jika hewan mengerti tentang janji.
Dua tahun kemudian, si anak harimau betina sudah terlihat dewasa, Nono berniat ingin melepaskannya ke hutan bersama ayahnya, meskipun sebenarnya dirinya tak ingin berpisah dengan si harimau. Mereka berjalan kaki masuk ke hutan, melewati hutan-hutan yang sudah gundul, potongan-potongan pohon kering berserakan di mana-mana. Nono berjalan sambil memegang rantai yang mengikat di leher si harimau. Sudah cukup jauh mereka berjalan, masuk ke dalam hutan yang lebat, ayah Nono tiba-tiba berhenti, sambil memperhatikan di sekitarnya.
"Nono, sepertinya kita melepaskannya di sini," kata ayahnya sambil memandang pohon-pohon tinggi.
Nono tak menjawab, ia melihat ke kiri dan ke kanan. Tak lama kemudian dia berkata, "Iya, hutan ini cukup bagus."
Nono dan ayahnya melepas jepitan besi yang melingkar di leher harimau betina itu, setelah selesai melepasnya, si harimau membaringkan setengah tubuhnya, lalu berbalik ke arah Nono dan ayahnya, mereka saling memandang, ke dua mata Nono mulai berkaca-kaca, perlahan air matanya menetes, Nono merasa sedih harus melepaskan Elis, nama yang diberikan kepada si harimau tersebut. Tak lama berselang, si harimau berdiri dan berjalan masuk ke semak-semak, dia tak berbalik lagi melihat Nono.
Harimau hewan yang buas, di ambang kepunahan. Para penduduk mulai memberi rasa simpati terhadap hewan itu, meski mereka pernah saling bermusuhan, sudah banyak hewan-hewan ternak menjadi santapan dari seekor harimau. Di malam hari, mereka masuk ke pemukiman, kadang para penduduk dibuat tak bernyali. kini kejadian-kejadian ini sudah berlalu, bahkan sudah tidak ada lagi, sejak masuknya para penebang liar ke hutan untuk mengabil kayu, mereka melakukan itu demi kebutuhan baku, seperti kayu untuk dijual.
Hutan yang mengelilingi desa, juga menjadi habitat para harimau, kini perlahan habis, sebagian sudah mulai gundul, kering, tandus, gersang. Para penduduk hanya bisa melihat dengan pasrah, banyaknya pohon-pohon yang sudah ditebang, yang mengakibatkan terkikisnya lapisan subur tanah, hilangnya akar-akar pohon yang penyimpan penahan air di bawah tanah. Jika sudah seperti ini, banjir dan longsor bisa menjadi ancaman bagi mereka.
Komentar
Posting Komentar