Cerpen
"Insyaallah, Semoga suatu hari nanti, hidupku bahagia, punya pekerjaan, memiliki istri dan anak pertama seorang perempuan."
Seketika memandang langit, senyum melambai dan melesat tinggi, seakan membelah di antara awan yang gelap, matanya meremang teduh penuh harapan, hatinya memanjat doa dengan lamat.
Sahru Ramadhan
Nyatanya, itu hanya sebatas harapan saja, juga sulit, ia belum terlalu yakin akan hal itu, dengan kondisinya hanya begitu-begitu saja, tak ada pergerakan, ditambah tiap tahun kehidupan yang makin pelit, dan makin tak manusiawi. Setinggi apa ia bermimpi, jika masih tak yakin, itu bagaikan kapal nelayan yang remuk dihantam badai. Bila sore menjelang, Pian akan duduk di balkon rumah, menjadi orang bermalas-malasan, mendengar musik sambil merenung tak berujung, kebiasaannya seperti ini terkadang membuatnya lebih baik, tekanan-tekanan yang ada di kepalanya setidaknya bisa mencair, seperti batu es, membeku karena terkana sinar matahari.
Kata orang-orang, menjadi pengangguran itu rasanya tak bahagia, jadi bahan pembicaraan oleh keluarga, Pian tak pernah merasa malu, dia tak peduli dengan semua itu, tujuh tahun lamanya, hidup dalam rutinitas penuh ketakutan, dimaki karena pekerjaan tidak beres, seakan separuh dirinya layaknya direnggut oleh pimpinan perusahaan. Namun di sisi lain, ada hal-hal yang menakutkan, Pian berpikir, "Jika berlama-lama seperti ini, bagaimana bisa aku mendapatkan uang, bagaimana bisa aku menikah tanpa ada pekerjaan, perempuan pun tak berminat denganku."
Di malam hari, Pian hanya kelayapan, bertemu dengan teman-temannya sesama pengangguran, bertukar tawa, ngobrol tentang jagoan-jagoan di film anime, tak ada yang realistis, semuanya omong kosong. Hidup yang serampangan, suatu saat, mungkin dua tahun ke depan, jika mereka semua belum juga mendapatkan pekerjaan, dengan keadaan putus asa, juga sudah kehilangan cara, bisa saja mereka membentuk kelompok pemberontak, atau menjadi perampok kelas kakap.
Kegembiraan mereka hanya bertahan sampai di situ saja, ketika Pian balik ke rumahnya, lalu terbaring di kamar, bayangan-bayangan akan kehidupan yang sulit muncul bagaikan hantu di pikirannya. Jelas, Pian tak suka memikirkan hal itu, ia berusaha tenang, memutar musik, agar dirinya terbiasa. "Sesulit inikah mencari pekerjaan sesuai profesi? Terus terang, aku jadi putus asa," sahutnya.
Belakangan ini, kegairahan Pian lenyap bagaikan tetes air di padang yang gersang. Rutinitas bangun paginya tak lagi seperti biasa, ia selalu kesiangan, hidupnya yang mulai carut marut, sampai akhirnya ia mulai sungkan kepada ibunya, yang selalu ia temui duduk di depan televisi nonton gosip-gosip artis. Dirinya yang masih terbawa putus asa, tak lagi antusias mencari kerja, info lowongan pekerjaan yang dia dapat hanya mencari tenaga sales, pekerjaan yang tak lagi dia inginkan, meskipun ia pernah bekerja sebagai sales selama tujuh tahun, namun itu tak membuatnya bahagia. Sebebarnya Pian memiliki hobi menulis, kegiatan itu sangat ia sukai, sudah banyak tulisan yang dia hasilkan, bahkan sudah menerbitkan buku.
Mendekat akhir tahun, hidupnya semakin mencekik, sudah hampir setahun tak memiliki pekerjaan, sampai tak doyang mandi pagi, hanya mengurung diri di dalam kamar, atau duduk di balkon rumah saat waktu sore. Puncak kehancurannya, ketika seminggu diberhentikan dari tempat kerjanya, di saat bersamaan, Pian diputuskan oleh kekasihnya yang sudah dia jalani selama lima tahun, dia melihatnya dengan mata kepalanya, kekasihnya itu sedang berjalan bersama pemuda tampan, dari penampilannya dia orang kaya, apa boleh buat, Pian harus ikhlas. Perpisahan itu sudah berlalu, kini dia mulai memikirkan untuk mencari kekasih baru, yang bisa mengerti dengan nasibnya saat ini.
Lama-lama keinginannya itu lenyap ingatannya, Pian tak lagi memikirkannya, kini dia hanya fokus kepada dirinya sendiri, bercita-cita ingin menjadi seorang penulis yabg belum berjalan mulus. Agar bisa mengembangkan bakat yang sudah lama ia tekuni sejak kuliah. Terlintaslah di pikirannya, dia ingin menjadi seorang wartawan, dan itu sangat berhubungan dengan profesi seorang penulis, menjadi wartawan dia bisa melihat dunia dengan luas, terus-terusan dia membayangkan itu, yah, hanya sebatas dibayangkan. Lihatlah dirinya, kebiasaan buruknya sangat kelewatan, hari-hari hanya penuh tidur-tiduran. Jika dipagi hari atau disiang hari, Pian hanya mengurung diri di dalam kamarnya dan tak keluar rumah. ketika malam tiba, dia seakan-akan menjadi raja kegelapan, berkuasa di alun-alun dekat lapangan bola, bertemu dengan teman-temannya, bercerita, ribut-ribut, sambil tertawa keras.
Duduk sampai menjelang subuh tak terasa, menatap gelap di sudut-sudut pohon yang rindang, berharap menemukan ide bisnis yang bisa menghasilkan uang, nyatanya, cerita-cerita mereka hanya kosong. Salah satu temannya melihat ke sana ke mari, khawatir jika ada patroli malam menemuinya dan mengira mereka sedang bermabuk-mabukan. Kegiatan seperti memang tak, tidak kemajuan gunanya, habis begitu saja, mencari hiburan ngumpul hingga larut malam.
Dirinya semakin tak berdaya, mulai merasa kebingungan, tak tahu harus berbuat apa, hanya begitu-begitu saja, selama setahun ini dia mulai merasa takut, uang pesangon yang diberikan dari tempat kerjanya yang dulu, sebagai ucapan tanda terima kasih selamat tujuh tahun kerja, kini sudah mulai menipis, membuatnya terus kepikiran, untuk secepatnya mencari kerja.
Semesta mulai terbangun di pagi hari, ayam jantan berkotek bertengger di pagar rumah, suara gosip tetangga beradu-adu di depan kios. Pian masih tidur, tenggelam dalam mimpinya, cahaya matahari belum sepenuhnya masuk lewat jendela kamarnya, butiran-butiran embun di dedaunan berkilap-kilap terkena sinar matahari, semalam habis hujan gerimis. Kipas angin yang berada di dekat tepi tempat tidur, Pian sedang menggeliat-geliat di atas kasur, "Dasar pemalas," ucapnya sesaat. Pian tersenyum menatap langit, membahayakan keburukannya disetiap pagi, kini dia masih duduk di balkon rumah.
Perlahan senja mulai bergegas, terbenam di ujung lautan. Putih memudar nampak di langit, hanya menyisakan sisa-sisa cahaya. Pian masih tetap memandangnya, dari celah di belantara kelabu, kepergiannya setara dengan kesedihan, Pian seolah-olah menderita dalam kesunyian, menanggung harapan yang berbalik menyerangnya, dia masih mengingat kata ayahnya, "Kamu pasti bisa." Terdiam, dia pun tetap belum yakin.
Kembali melihatnya sebelum berlalu. Awan bergerak lambat, saling menutup, seperti memeluk, bertumpuk tak beraturan. Senja telah gugur, lenyap dan kosong, menghilang dalam pikiran, menjauh tak terjangkau, tak tersisa sedikit pun.
Komentar
Posting Komentar