By sahru ramadhan
Hening seketika pecah, hujan turun begitu deras, ribut di atas genteng rumah. Aku bangun dari tempat tidurku, lalu berjalan ke arah jendela, di luar sana terlihat rembesan hujan menyebar ke mana-mana, disertai angin kencang menggoyangkan ranting-ranting pohon, langit berwarna merah kelabu, genteng tertiup oleh angin, nyaris ambruk. Aku melihat rumah di seberang sana, rumah yang terbuat dari kayu, biasanya para pemuda nongkrong di teras rumah itu, sambil ngopi dan makan gorengan, mungkin saat ini si pemilik rumah tertidur nyenyak.
Terdengar suara engsel pintu kamar, itu ayahku, dia bangun ingin memeriksa plafon rumah yang bocor. Di saat hujan seperti ini, genteng sering kebocoran. Setelah berdiri lama di depan jendela, aku kembali berbaring ke tempat tidur, menarik selimut lalu menenggelamkan seluruh tubuhku, kedua tanganku erat memeluk bantal, hawa dingin mulai terasa, masuk lewat kusen jendela, perlahan menyentuh ujung kakiku.
Masuk bulan januari, sudah dua hari ini hujan turun di waktu menjelang tengah malam, mungkin sudah musimnya. Aku mengintip di sela-sela selimut, sesekali memejamkan mata, berharap bisa tertidur, namun tak berhasil, pikiranku tetap berkeliaran ke mana-mana, perasaan tidak beraturan, suara hujan membuatku takut, seperti di film-film horor, aku membayangkan sosok hantu berdiri di depan jendela kamarku, ah, mengapa aku memikir hal itu. Tetesan air hujan mengetuk di dalam ember plastik, suaranya tepat di depan pintu kamarku, mungkin ayahku menemukan plafon rumah yang bocor. Di luar Hujan masih saja ribut, kilat berkelap-kelip seperti cahaya blitz kamera, aku hanya terbaring, mata masih belum ingin terpejam, raga masih terjaga, meski jarum jam sudah menunjuk pukul dua pagi.
Selimut tak lagi menutup wajahku, aku memandang sudut-sudut kamar, Napasku terdengar sayup, dingin menebar sesak. Ayahku sudah kembali ke kamar melanjutkan tidurnya, sementara aku masih saja termenung, membiarkan dingin menyerang seluruh tubuhku. Perasaan mulai hanyut, waktu Makin berlalu, seketika terasa mengantuk, di saat ingin terpejam, tiba-tiba suara petir menggelegar, langit bergumuruh,
"Astaga," ucapku.
Lampu tiba-tiba padam, seluruh ruangan menjadi gelap, mataku tercengang menatap ke jendela, di balik gorden langit masih nampak berwarna merah kelabu.
"Sialan, lampu mati."
Tak lama kemudian, dari kamar sebelah terdengar Suara tangisan adikku, ia ketakutan, mungkin karena suara petir barusan, aku lekas bangkit dari tempat tidur, berlari ke kamarnya lalu membuka pintu, aku mendekatinya, ia menutup wajahnya dengan bantal.
"Sudah, Kakak ada di sini temani kamu," kataku sambil memeluknya.
Aku berbaring di sampingnya, kedua tangannya memeluk erat lengan kiriku, aku merasakan detak jatungnya, napasnya tersendat-sendat, anggap saja hujan ini sedang berdongeng, bercerita dengan panjang, walaupun kenyataan tidak seperti itu, aku sambil memandang langit-langit kamar. "Sekarang tidur lagi, besok kamu masuk sekolah," kataku.
Kali ini hujan benar-benar turun sangat lama, jelas membosankan, membuatku merasakan bahwa malam ini sangat berbeda. Memang iya, kemarin-kemarin aku bisa tertidur enak, sakarang mataku begitu kuat, lihat saja, aku belum juga bisa tertidur. Ini benar-benar mengganggu pikiranku, seakan perasaan ini sangat tidak enak, sebenarnya aku tak terbiasa dalam situasi yang gelap, rasa takut itu terbawa sejak dari kecil, aku berharap lampu segara kembali menyala. Dalam hati aku berkata, "tidurlah dik, aku akan menjagamu malam ini, sambil menikmati suara hujan yang datang dari segala penjuru, menghantam genteng rumah, hingga daun-daun diguyur tanpa ampun".
Sepertinya adikku sudah kembali tertidur, kedua tangannya menggenggam erat di lenganku, aku melihat wajahnya, pipinya melar terselip di sudut bantal, matanya terpejam, aku tersenyum memperhatikannya, hanya ini yang bisa menghiburku. Rasa takut sudah tidak ada lagi, suara bergemuruh mulai berkurang. Sewaktu kecil, aku sama seperti dirinya, ketika hujan datang disertai suara petir, aku akan berlari menghampiri ibuku, lalu tidur di pelukannya.
Aku dua bersaudara, kami berdua anak perempuan. Ayahku sangat menginginkan anak laki-laki, dia berharap bisa memiliki anak terakhir seorang lelaki, ia ingin mempunyai tiga anak. Aku tak pernah menanyakan hal itu kepada ayahku, kenapa dia sangat menginginkannya, mungkin menurutnya anak lelaki kelak bisa menjaga keluarganya, atau mungkin karena ia sudah memiliki dua anak perempuan.
Sunyi makin mencekam dalam gelap, meski suara hujan mulai melambat, selebihnya sudah tak ada suara-suara lain. Begitu hampanya kehidupan malam, semua orang-orang larut dalam mimpi, melepas kelelahan, sedang aku mendayung lamunan yang tak berujung, seperti terdiam dalam kekosongan. Mungkin kehidupan yang sebenarnya adalah kesunyian, seakan dunia seperti berhenti.
Jika dibandingakan dengan para gelandangan di luar sana, mungkin aku punya pandangan yang berbeda tentang kehidupan malam, bahkan dia lebih sering merasakan kesulitan untuk tidur enak. Jangankan untuk tidur, mencari tempat untuk beristirahat saja sulit bagi mereka, apalagi hujan seperti ini, kira-kira mereka tidur di mana, mungkin mereka s merasa kedinginan.
Saat pandanganku merabah seluruh ruangan, tiba-tiba suara toa mesjid berbunyi, waktu sudah menjelang subuh, aku masih terjaga. Andaikan saja lampu tidak padam, petir tak bergemuruh, mungkin adik saya tidak menangis ketakutan, aku pun demikian, mungkin sudah tidur nyenyak. Sudahlah, lagi pula besok aku libur kuliah, jadi tak ada masalah, jika pagi sudah tiba, aku bisa melanjutkan tidurku.
Di luar hujan sudah redah, menyisakan genangan air di mana-mana hingga di sekitar halaman rumah, daun-daun kering mengambang di atasnya. Kepala adikku masih berada di atas lenganku, pelan-pelan aku memindahkannya di atas bantal, dan aku membenarkan posisi tidurku. Kerang air berbunyi dari kamar mandi dapur, itu ayah dan ibuku sedang mengambil air wudhu, aku mendengar suara langkah kakinya berjalan ke arah kamar adikku, aku melihat ke arah pintu, lalu membuka setengah pintu kamar dan mengintip, dia melihatku yang sedang tertidur di samping adikku, pintu kembali ditutup, mungkin dia mengira aku tak menyadarinya, bahwa aku sedang tertidur, padahal tidak.
Tak lama berselang, dalam keadaan tak sadar, suara gerutu ibuku panjang lebar sambil menepuk bahuku, membangunkanku di tengah hari yang terik, aku buka mata, adikku sudah tak ada di sampingku, kupaksakan bangkit dari tempat tidur, meski ke dua mataku masih terasa berayun-ayun, aku berjalan keluar dari kamar, jam sudah pukul sembilan lewat, ternyata aku bisa tertidur.
Komentar
Posting Komentar