Langsung ke konten utama

Muse, album simulation theory, inspirasi dari film 1980-an

 

Mungkin saya telat mengetahui, grup band ini  mengeluarkan album yang ke delapan, di albumnya kali ini ia merespon kemajuan zaman Era digital, aku menyebutnya zaman yang serba cepat. Orang-orang pun juga  merasakan hal itu. Ruang interaksi, gaya hidup, juga cara berpikir ikut berubah karena perkembangannya. Nah, tujuan utama dalam tulisan ini, saya ingin membahas terkait album lagu dari band asal Inggris yang sudah tak asing di telinga kita, yaitu Muse. Dari industri musik seluruh tanah air, juga para kaum muda-mudi yang senang dengan musik rock alternatif, pasti tahu, siapa sih yang tak kenal dengan band papan atas yang satu ini. 

Saat itu aku sedang duduk balkon lantai dua rumah, tepat saat itu menjelang sore, sambil ngopi-ngopi, ngudut-ngudut beberapa batang, tiba-tiba saja, tak tahu kenapa, saya ingin mendengar salah satu lagu dari Muse yang berjudul "plug in baby". Nah, bagi yang fans berat dengan Muse, pasti tahu dengan lagu ini, power dan suara gitarnya diawal lagunya terdengar enak. Pandangan saya lepas memandang hamparan langit, setelah selesai mendengarnya, ada sampul album muncul di layar handphone-ku, mirip poster game tiga dimensi. Sekian lama saya kehilangan informasi tentang band ini, ternyata Muse sudah mengeluarkan album yang kedelapan yang bertema simulation theory, album ini dirilis pada tahun 2018, terbilang cukup lama. Album kedelapan Muse ini memiliki tajuk utama tentang simulasi kehidupan yang digambarkan teori simulasi. melalui gabungan tema fiksi ilmiah hingga kecerdasan artifisial.

Ini menarik, saya dibuat penasaran. Di sini saya tidak terfokus pada musiknya, melainkan lirik dalam album ini, "Seperti apa dia menceritakan dunia simulasi," pikirku. Ada sebelas lagu di dalam album, dari sebelas lagu itu, ada dua judul yang menarik perhatian saya, yaitu algoritma dan propaganda, wah. 

Jujur sih, aku bukan fans berat Muse. Pertama kali aku mendengarnya di tahun 2008, lagu itu berjudul hysteria. Saya pun tidak punya alasan untuk tidak suka dengan lagu-lagunya, semuanya keren. Tetapi saya hanya ngfans sama band asal Amerika, Linkin park, sejak saya masih duduk di bangku kelas enam SD. Membahas dua grup musik ini, nostalgia saya ikut bergejolak. 

Kita kembali ke tema pembahasan saja. Sependek pengetahuan saya, dari sekian banyak yang aku dengar dari lagu-lagu Muse,  ide-ide dalam setiap lirik lagunya, hanya biasa, lebih spesifik, yah, Tentang percintaan, kebencian dan keinginan manusia. Namun, di album kali ini, menurut saya sangat beda. Seperti lagu yang berjudul Algoritma, Thought Contagion, The Dark Side. Lagu-lagu tersebut memiliki nuansa fiksi ilmiah di tahun 1980-an.

Contoh dalam lirik lagu Algoritma, memiliki gagasan otomatisasi bentuk robot dan kecerdasan artifisial, yang perlahan mengambil ahli kehidupan manusia, membayangkan ketakutan-ketakutan terhadap kehidupan. Perkembangan teknologi, seakan-akan melampaui hal yang tak terpikirkan, kita sebagai manusia tak menyadarinya, bahwa sebenarnya kita melewati batas. "We are caged ini simulations, algorithms  evolve, this means war, with your creator". (Kami dikurung dalam simulasi, algoritma berevolusi, ini berarti perang dengan pencipta anda). Ini potongan lirik dalam lagu Algoritma. Seperti kita ketahui bersama, Algoritma merupakan kumpulan intruksi yang terstruktur dengan rapi, lalu diimplementasikan ke dalam bentuk program komputer. Jadi fungsi Algoritma bermain dengan data, menyerap seluruh kecenderungan sehari-hari manusia dalam kehidupan nyata, membaca kemauannya, bahkan menyentuh batas-batas kemanusiaan.

Nama vocalis Muse, Matt bellamy, sebagai penulis lagu. Kata teman saya, kebetulan juga dia salah satu fans berat Muse. Kata dia, Matt bellamy, sebelum menjadi vocalis band, dirinya dulu seorang penyanyi gereja. Aku pun telusuri sosok Matt bellamy di google, dari hasil itu, ternyata, selain mantan penyanyi gereja, rupanya bellamy seorang yang senang membaca buku, inspirasi nama Muse diambil dari guru seni Matt bellamy. 

Aku duduk di balkon rumah, melihat senja di sela-sela lapisan awan. "Ternyata hobi membaca, memiliki inspirasi yang hebat, juga bacaan yang banyak," pikirku tentang Matt bellamy. Seketika juga aku teringat dengan Mike shinoda, rapper linkin park, juga penulis lagu, Mike juga senang membaca buku. Saat itu, aku Tak sengaja melihat postingan buku Nietzsche di akun instagramnya. 

Matt bellamy dan dua personilnya, di album kali ini mereka sangat terinspirasi dengan musik kultur pop era 1980-an. Juga bentuk sampul album ini, dari sisi visual, penuh dengan warna terang, dengan sentuhan synthesizer, dan berkarakter star wars. Isi video klipnya pun demikan, salah satunya Algoritma. Di bintangi Terry crews, salah satu pemain film di The Expendables. Bertubuh besar, berotot, dan lumayan tinggi. 

Di sebuah gedung dan ruangan yang gelap, hanya cahaya dari layar komputer menerangi setengah ruangan, lcd proyektor juga berdiri di tengah-tengah ruangan. Dalam video klip ini, Matt bellamy merepresentasikan film di masa kecilnya, yaitu terminator 2 (1948), atau film Back to the Future (1985). Bahkan dia sudah bisa membayangkan masa depan nantinya. Kalau menurut saya sih, ini juga sedikit mirip seperti film the matrix. Terry Crews sedang asik push up, lalu duduk di depan layar komputer, mengenakan kacamata layaknya seorang ilmuwan, di atas meja terlihat seekor hewan yang serupa tikus, terkurung dalam kandang. Hewan itu menjadi tumbal eksperimen, seketika aku mengingat salah satu film yang juga pernah aku nonton, adegannya hampir mirip-miriplah, film itu berjudul transcendence. Aku mengaitkan apa-apa saja yang ada dalam video klip itu, begitu pula yang ada di film tersebut. 

Aku lanjut, tiba-tiba terry crews mengambil darah dari tikus itu, dengan sekali suntikan, lalu darah itu dia letakkan di bawah alat microscope. Tak berselang lama, lampu sorot dinyalakan dengan empat tiang yang berdiri, perpaduan cahaya antara warna hijau dan putih, terpancar. Terry crews dengan menggunakan motor besar, berjalan menembus cahaya itu dan masuk dalam dimensi lain. Adegan inilah yang aku lihat film di the matrix, bentuk ilustrasi masa depan perkembangan teknologi.  

Nah, ini juga tak jauh beda dengan metaverse, konsep dunia virtual, induk perusahaan yang menaungi facebook, ingstagram dan WhatsApp. kini isu kemunculannya mulai berkembang. Mari kita bayangkan, sebuah dunia virtual, yang bisa ditembus dan dijelajahi, hanya dengan menggunakan kacamata virtual.

Bagi  Bellamy, album ini bentuk kilas balik di masa kecilnya, bentuk ramalan apa yang ia pikir saat itu dan sebaliknya, apa yang terjadi di masa kini. Karena takjubnya, rokok sebatang yang aku letakkan di ujung asbak, habis sia-sia, puntungnya sudah memanjang, sedikit lagi membakar filternya. Itulah sekilas tentang band ternama asal Inggris ini, kita sampai dibuat khawatir jika benar-benar itu terjadi. Matt bellamy sebaliknya, aku pun tak menyangkanya, seorang artis juga memiliki wawasan luas, mengagas album yang bertema tentang polemik kehidupan manusia.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE MONSTER GIRL, Episode 1.

Desa bernama Sirakawa-go, hidup seorang gadis muda bernama Aruma, kedua orang tuanya bekerja sebagai petani Sayuran Daikon (lobak putih) dan kabocha (labu musim dingin). Kehidupan mereka damai dan penuh kebahagiaan. Cerita diawali menjelang malam. Keesokan harinya, Aruma berangkat ke sekolah, ia seorang gadis yang baru duduk di kelas 3 SMA. Di hari libur sekolah, Aruma membantu ayahnya dan ibunya di kebun, menanam sayuran sambil memetik. Sementara di kota Tokyo, sekelompok ganster sedang membicarakan rencana penculikan. Keesokan harinya, Aruma dalam perjalanan pulang sekolah. Aruma yang tak bisa berbuat apa-apa, dia harus pasrah untuk ikut, ia dibawa pergi ke Tokyo, di sana dia bertemu dengan Kazakaru (bos besar). Kelanjutnya, tunggu di episode ke 2. Akan Menjadi awal di mana Aruma menjadi gadis yang kuat (Monster).

Hidupku tak sebaik yang orang lihat

Hujan turun di pagi hari, aku lagi berteduh di halte  di dekat jalan raya. Sewaktu masih SMA, aku sering menunggu mobil angkot di tempat ini, masa-masa itu seketika  teringat, hadir dalam pikiranku. Disini aku duduk sambil memperhatikan hujan, sesekali aku berdiri dan meluruskan lengan kananku, membuka telapak tangan, membiarkan tetesan hujan jatuh di antara jari-jariku. Seketika Mobil angkot berhenti di hadapanku, si sopir tersenyum, aku bergegas naik ke mobil.  Aku menatap kaca jendela mobil, cahaya kendaraan dari luar berklap-klip. aku merasa hidupku kurang bahagia, Rudi adalah sahabatku, dia juga pernah berkata begitu padaku, katanya aku tak menikmati hidup. Apa mungkin seperti itu, rasanya aku tidak tahu, aku selalu terbawa perasaan, kadang kosong, seakan-akan aku tak dapat memastikannya. Mobil berhenti seketika, aku sudah tiba tepat di depan sebuah cafe. Aku berjalan masuk, melihat di sekitar, mencari teman-temanku, mereka duduk di di mana. Sepas...

Sendiri

Duduk di antara kekosongan, sendu di titik paling sepi, perlahan aku mulai berpikir, apa mungkin sesuatu hari nanti, suatu waktu, ada hal yang bisa membuatku bahagia. Aku menyadarinya dengan penuh keraguan, hidup tak selalu berjalan dengan keyakinan, selama tiga tahun ini hidupku tak berjalan baik, makin lama, terasa hal itu membuatku takut, sudah kuusahakan segala macam cara agar hidupku kembali membaik. Aku seorang introvert yang tak banyak berbicara. Tak pernah berbagi cerita kepada teman-temanku, bahwa betapa gelapnya hidupku.  Hari mulai menjelang siang, aku masih duduk terdiam tak berbuat apa-apa, terbiasa menyendiri. Jujur saja, aku selalu kehilangan energi ketika terlalu lama berada di tengah keramaian, meski aku tak terlihat canggung, aku tetap tersenyum, bertemu dengan teman-teman, sebisa mungkin berjuang menikmati hari. Namun, ketika pulang ke rumah, aku merasa lelah, mentalku terkuras habis, pada akhirnya butuh waktu untuk sendiri. Pikiranku butuh ruang yang...