Langsung ke konten utama

Motor hitam



    Sahru ramadhan
Sekian lama Sandi luntang-lantung tak memiliki sepeda motor, sejak duduk di bangku SMA ia mulai merasa malu dari teman-temannya. Sekarang ia sudah menjadi seorang mahasiswa, umurnya sembilan belas tahun. Ke dua orang tuanya sangat disiplin, di saat sendiri, Sandi berpikir sambil bertanya-tanya kepada dirinya, mengapa ke dua orang tuanya tidak membelikannya motor, hal itu terus ia pikirkan, belakangan ia mulai tahu, ibunya dan ayahnya  tak ingin membiasakan Sandi bermanja-manja, menjadi anak yang tidak mandiri, seperti temannya yang lain, sudah memiliki motor pemberian dari orang tua mereka.

Sejak kuliah, sehari-hari dia hanya naik mobil angkot ke kampus, dengan modal lima ribu rupiah. Selain itu, juga aktif dalam organisasi kampus, punya teman yang banyak, mereka seperti hubungan saudara. yang namanya hubungan saudara, pastilah ada sikap tolong menolong di antara mereka, Sandi sudah memikirkan itu semua, dari situlah ia sering numpang di motor temannya di saat pulang kuliah, itu pun jika temannya berbaik hati kepadanya, juga searah jalan pulang. Kadang dirinya merasa tidak enak, lama-lama ia mulai masa bodoh dengan perasaan itu.

Teman-teman kuliahnya kerap melihat Sandi berada di pinggir jalan sedang menunggu mobil angkot. Sandi merasa malu ketika bertemu mereka, ia selalu menghindar, dan berharap tak ada yang melihatnya, apalagi jika temannya itu seorang perempuan, "Wah, malunya minta ampun," pikirnya. Seorang aktivis terkenal di kampus, sedang menunggu mobil angkot di pinggir jalan. Dia anggap, dirinya merasa rendah, menyedihkan, jika dilihat oleh juniornya.

Berpikir buruk sudah kebiasaannya sejak  masih SMA, kerap mengganggunya. Sandi yang di kenal di kalangan mahasiswa kampus, selalu hadir dalam kegiatan-kegiatan pengkaderan, pandai berbicara di depan umum, juga berwawasan luas. Meskipun demikian, sebenarnya sandi sangat pemalu jika bertatap muka dengan wanita, sejauh ini keberaniannya belum ada, ia sadar, secara fisik dirinya tidak menarik, sudah kurus, rambutnya bergelombang, kulitnya berwarna cokelat gelap.

Temannya pernah bertanya kepadanya, mengapa dirinya tak mendekati adik mahasiswa baru, Sandi hanya diam mendengarnya, bingung mau jawab apa, lagi-lagi yang ada di pikirannya, hanya itu. "Saya jelek dan tak memiliki motor," begitulah dia menyimpulkan. Pemikirannya yang konyol itu hanya membuat dirinya merasa bodoh, merasa tertinggal, makin tak percaya diri. Mengapa ia masih saja berpikir seperti itu, mungkin menurutnya, bermodalkan cinta itu belum cukup untuk memikat hati seorang perempuan, jika tidak disertai dukungan fisik dan materi. Yah, jika dipikir-pikir, ada juga benarnya, emang sih sudah seperti itu. Di saat ini, cinta dan kebahagiaan selalu diukur dengan materi.  Sudah tak memiliki kendaraan, sandi harus pandai-pandai menyisipkan uang lima ribu rupiah, buat jaga-jaga saja, siapa tahu tak ada tumpangan yang dia dapat dari temannya.

Esok harinya, kampus lagi sibuk-sibuk menerima mahasiswa baru, Sandi sedang berada di depan sekret, membicarakan kegiatan sosialisasi perekrutan anggota baru, sambil ketawa-ketewi bersama teman-temannya. Waktu pukul dua belas siang, tepat jam pulang kuliah, tiga orang perempuan muncul di halaman sekret, sandi memperhatikannya, dalam hatinya bertanya-bertanya, "Ada keperluan apa mereka ke sini." tak lama kemudian, tiga orang temannya keluar dari sekret, Sandi mulai mengerti, ia tak perlu lagi bertanya alasan perempuan itu datang ke sekret, ketiga temannya ingin keluar makan siang bersama perempuan itu. Sandi yang sedang duduk begitu lusuh, segelas kopi hitam di depannya, beberapa kotoran kecil mengambang di permukaan kopi, semut merah baru saja jatuh dari pohon, mendarat di bibir gelas, sedikit lagi terpeleset terjun ke dalam kopi. Sandi masih memperhatikan perempuan itu, mereka cantik, mengenakan jilbab yang elok. Sedih lamat-lamat memeluk jiwanya, jantung berdetak pelan, itu sebabnya, mengapa dirinya belum siap punya kekasih. Lagi-lagi alasan konyol itu. Pikiran buruk bergejolak, ia menilai semua perempuan sama, padahal seharusnya tidak seperti itu ia berpikir.

"Kamu masih saja berpikir seperti itu," ucap Rio, teman seruangan kuliahnya. 

Sandi terdiam, ia menatap semut merah itu yang sudah mengapung di dalam gelas, kakinya masih bergerak pelan, sebentar lagi ia kehilangan nyawanya. 

"Ya, aku masih belum berani," Balas sandi. 

Duduk di depan sekret hingga sore menjelang, sampai akhirnya Rio pergi, sandi masih duduk sendiri di situ sambil meratapi nasibnya.


Tiba-tiba salah satu temannya lagi datang dan duduk tepat di sampingnya, membawa sebungkus rokok, sandi mengambil sebatang tanpa meminta lebih awal. 

"Ngapain kamu sendiri di sini?" Temannya bertanya. 

"Lagi jaga sekret."

"Emang mereka ke mana?"

"Mereka lagi keluar sama kekasihnya." Jawab sandi, menghembuskan asap rokok.

Temannya hanya tertawa mendengarnya, sandi memandang daun-daun pohon, setelah lama terdiam, temannya kembali bertanya satu hal, yang membuat Sandi makin tak berdaya. 

"Sampai sekarang, di antara yang lain, hanya kami berdua yang masih jomblo." 

Sandi hanya tersenyum tipis sambil menepuk lutut temannya. Temannya itu menatapnya penuh rasa kasihan. 

"kalau ada perempuan yang kamu suka, ajak dia jalan, pakai saja motor aku." Kata temannya.

Sandi tertawa, kembali menepuk lutut temannya itu. "Tidak perlu seperti itu," kata Sandi." 

bukannya kamu sudah punya pacar?" Lanjut sandi. Temannya tak menjawab, beberapa menit berselang.
"Aku sudah putus dengan dia."

Sandi kembali terdiam, mengisap perlahan rokok yang menempel bibirnya, sedikit lagi membakar filternya. Sandi tak tahu harus menjawab apa, dia mulai berpikir dan mempertimbangkan kembali tawaran temannya itu. 
"jika aku butuh, nanti aku tanggung bensinnya," ucapnya sandi. 

Temannya tertawa sambil menggelengkan kepalanya. 

"Tidak perlu, kamu tak usah menanggung bensinnya." Ucap temannya.

"Aku menawarkan itu, karena aku peduli sama kamu kawan." Lanjutnya. 

Perkataan itu membuatnya tercengang, apakah dia harus menerima tawaran temannya itu, perasaannya kurang enak. 


Tibalah hari pengkaderan, para mahasiswa baru berbaris di halaman kampus, tiga mobil bus terparkir di depan gedung perkuliahan, rencana kegiatan mereka diadakan di luar kota. Sandi ditunjuk menjadi koordinator lapangan, bertugas mengawal para mahasiswa baru. 

"Ayo semua naik ke mobil," teriak sandi menggunakan toa. 

Para mahasiswa baru berjalan masuk ke mobil, sandi berdiri di depan pintu masuk mobil dengan wajah yang berwibawa. Setelah semua sudah duduk dalam bus, sandi naik dan berdiri di pintu mobil, mirip seperti kernet di mobil-mobil bus lintas daerah. Sandi memberi kode kepada sopir, lalu si sopir menyalakan mesin mobil, dan melaju keluar dari halaman kampus.

Teman-temannya yang lain berangkat mengenakan motor bersama kekasihnya masing-masing. Terlihat bahagia, saat motornya melaju melambung mobil bus, Sandi yang berdiri di depan pintu melawan arus angin, ia melihat salah satu temannya melintas, ada rasa iri, sedih pula, menyedihkan. Sandi tak mampu menutupi kata hatinya, ia ingin sama seperti mereka, keinginan itu meledak-ledak dalam jiwanya. Tiba-tiba ia menoleh ke dalam bus, tepat di balakang sopir, seorang perempuan berkerudung warna crem bersandar di kaca jendela, seketika menarik perhatiannya, dia begitu takjub melihat si perempuan itu, ada rasa yang menggelegar, "Mungkin ini waktunya, aku harus mencoba," pikirnya sekilas.

Perasaan itu tiba-tiba saja hadir, mengalir dari pandangan itu, Jelas, cinta tak bisa dilogikakan, hadir secara tak disangka, gagasan itu dia temukan dalam buku filsafat cinta yang pernah ia baca. Sesekali sandi melirik perempuan itu, matanya terpejam sayup, sesekali perempuan itu berbalik ke arah temannya yang duduk di sampingnya, dan melempar senyum, ia menggeser garis bibirnya ke samping, seketika membentuk lesung pipinya. "Ya ampun, ia bagaikan teka-teki yang menawan, saat itu aku tahu, bahwa aku laki-laki  yang telah jatuh cinta kepadanya," ucap sandi dalam hati. Tiba-tiba  si sopir bus membanting stir dengan mendadak. Sandi berbalik melihat ke arah mahasiswa baru, semuanya terlihat kaget, sandi kembali menatap perempuan itu. Lama-lama pikirannya mulai liar, membayangkan jika dirinya berada di samping perempuan itu, kepala si perempuan bersandar di bahunya, tangan sandi menyeberang di bahu sebelah kanan perempuan itu, merangkulnya dengan romantis, betapa bahagianya kalau itu menjadi nyata.

Setelah mengarungi perjalanan panjang, tibalah mereka di desa sebuah, suasana yang dingin, sejuk, kabut terlihat bertebaran di sela-sela daun pohon pinus. Para mahasiswa baru turun dari mobil bus dengan wajah yang lesu dan mual. Sandi kembali berdiri di dekat pintu mobil, membimbing para mahasiswa baru untuk berbaris, ia melirik perempuan itu lagi, terlihat wajahnya kecapean, seketika perempuan itu berbalik ke arahnya dan melempar senyum sesaat, Sandi membalasnya dengan senyum tersipu malu. Ada harapan, setidaknya perempuan itu mengenalnya terlebih dahulu, meski dia tahu, dirinya belum punya pengalaman mendekati seorang perempuan.

Pondok itu lumayan luas, di belakang ada sungai, rencana para mahasiswa baru akan diceburin di sungai, para seniornya sudah merencanakannya, namun Sandi tak tegah melakukan hal itu, apalagi dengan si perempuan tersebut, dia tak ingin dicap sebagai senior yang tak baik, dia berusaha menjaga sikapnya, terkhusus kepada perempuan itu saja. Tata tertib pun mulai disampaikan kepada peserta, dan harus dipatuhi. Peserta diberi kesempatan untuk beres-beres, mandi atau ganti pakaian, sebelum materi masuk. Sandi yang pura-pura sibuk, agar mendapat perhatian, ia membantu si perempuan itu membereskan tasnya, "kalau ada yang diperlukann, sampaikan saja sama aku," kata Sandi. Mereka berdua tersenyum. Tak dipungkiri, perasaan Sandi mulai tak terkontrol, dirinya sangat bahagia penuh gairah.

Malam pun tiba, si perempuan itu berada di samping pondok, ia duduk sendiri. matanya yang menatap begitu lekat, orang-orang jelas mengakuinya, perempuan itu sangat cantik, juga bukan hal mudah untuk didekati. Selain itu, ia punya bakat yang ia tidak sadari, senyumnya yang mampu membuat perasaan para lelaki begitu haru, bahkan dibuatnya jatuh hati. Demikian juga Sandi,  memiliki bakat yang berbeda, ia punya kealihan dalam merekrut para mahasiswa baru, pandai berbicara, memiliki wawasan yang luas, hobi membaca buku, ia pribadi yang militan, sayangnya, ia lemah di hadapan perempuan. Sandi mengampiri perempuan itu, sedikit gugup, lalu bertanya kepada dirinya, "sebenarnya ada keperluan apa aku ke sini, tak ada satu pun orang di sini, hanya aku dan perempuan itu." Gumannya. "Perasaan ini makin gila, seenaknya mengendalikan diriku, jika perempuan itu berbalik kepadaku dan bertanya kenapa aku mendatanginya, aku harus jawab apa, ini sangat konyol dan memalukan," Lanjutnya. Tiba-tiba sandi berbalik meninggalkan perempuan itu, sandi melangkah pelan-pelan, terdengar oleh si perempuan itu.

Pukul delapan pagi, Sandi duduk di depab halamab pondok, di bawah pohon pinus, sebatang rokok terselip di tengah-tengah jarinya, segelas kopi hangat dia letakkan di tanah. Tak diduga, di saat sedang duduk santai, tiba-tiba saja perempuan itu muncul, penampilannya terlihat kotor, dia habis  berguling-guling di lumpur, direndam di sungai, begitu seterusnya. Sandi tak sempat menyaksikan hal itu, ia ketiduran, ia meminta kepada temannya untuk menggantikannya mengawal para mahasiswa baru. Perempuan itu meminta tolong kepada sandi untuk menemaninya membeli sesuatu di warung yang ada di depan pondok, dengan senang hati ia berdiri dari tempat duduknya, kebetulan saja itu tugasnya. Sambil berjalanan ke warung, sandi masih dibuat merasa gugup, "dasar lelaki lemah," bisiknya. Mereka saling bersampingan, tak ada pembicaraan, saling berdiam. Perasaan sandi bergejolak, berantakan, sesekali ia melirik perempuan itu, dia mulai berpikir untuk mencari bahan pembicaraan. 

"Harus mulai dari mana, kebetulan warung itu berada di ujung jalan. Setidaknya ada proses pembicaraan terjadi, ini waktu yang pas, tak boleh dilewatkan," ucapnya.

Mereka sudah ada di pertengahan jalan, masih saja belum ada pembicaraan, 

"Mana mungkin si perempuan yang memulai, bangsat," gumannya. 

Hatinya masih berdenyut kencang, sebentar lagi mereka sampai di warung, tak lama kemudian sandi membuka pembicaraan, "Nama kamu siapa?" 

Perempuan itu menoleh ke arahnya, lalu menjawabnya dengan singkat, 
"Rita, kak." 

Sandi terdiam sebentar, lalu dia kembali berbicara dengan membabi buta, "Apa kau sudah punya pacar? aku suka sama kamu."

Perempuan itu berbalik, terkejut, lalu tersenyum, dia tak menjawab apapun. Sialnya mereka sudah sampai di warung. Sandi berusaha menenangkan dirinya, terasa memalukan.

"pembicaraan tadi akan kulanjutkan, setelah kami balik dari warung." 

Sesampai di warung, dua perempuan muncul, teman dari si perempuan ini, mereka saling tegur, Sandi hanya melongo. 

"Kakak duluan saja balik ke pondok, biar nanti saya barengan mereka," ucap perempuan itu, dengan dua lesung pipinya yang nampak. 

"Soal pertanyaan kakak tadi, Nanti aku jawab." Lanjutnya. 

Dengan penuh penantian, doa memanjat dalam senyap. Sandi hanya mampu menganggukkan kepalanya, lalu pergi.

Sandi berjalan meninggal mereka, masih ada waktu, perempuan itu akan duduk di samping pondok, aku akan duduk di sampingnya, berbicara serius, meminta jawabnya. Sambil berjalan menuju pondok, dia membayangkan semua itu dengan penuh semangat. Dua hari menjelang, besok mereka pulang, malam ini tak ada kegiatan, para peserta dibiarkan bebas bersantai di halaman pondok. Sandi kembali mencari perempuan itu, segera ingin mencari tahu jawabannya. Ia melihat ke sudut-sudut halaman, lalu berjalan ke samping pondok, perempuan itu tak terlihat, dia terus mencari, akhirnya sandi bertemu dengab perempuan itu, lagi duduk berdua dengan seorang lelaki di dekat kolam, sialnya, lelaki itu adalah Rio, sahabatnya sendiri. Sandi hanya terdiam melihat mereka berdua, harapan yang ia bangun dalam dua hari membuyar seketika, hatinya layaknya daun kering yang remuk. "Sial, aku harus mundur," ucapnya.


Hancur sudah rencana yang dia pikirkan, sandi terdampar di warung depan pondok, dia duduk sendiri sambil meneguk secangkir kopi hitam. Hanya terdiam lusu, pikirannya berantakan, sebatang rokok ia bakar, menoleh ke kiri ke kanan, tak tahu harus berbuat apa, kegiatan sebentar lag selesai dan pulang ke rumah. Seorang lelaki datang, muncul dari kegelapan, itu Rio, dia memberi tahu kepada Sandi, bahwa dia baru saja jadian dengan si perempuan itu, sandi hanya mampu tersenyum ikhlas, dengan penuh kecewa, menatap wajah Rio tampak bahagia. 

"Aku barusan jadian dengan seorang perempuan, ternyata dia suka denganku, kami saling suka," kata Rio, tersenyum lebar. 

Sandi makin hancur mendengar hal itu.
"Jadi, kamu sudah jadian?" Sandi mengulanginya, perasaannya yang hanyut, patah hati, dan kecewa. 

Rio tidak tahu, bahwa Sandi juga suka dengan perempuan itu. Di akhir semester, Sandi sudah tak berniat lagi mencari seorang kekasih, dia memilih fokus untuk menyelesaikan kuliahnya. Masa bodoh, mulai cuek, bersikap dingin, dia mulai jarang terlihat duduk di depan sekret, hanya sibuk keluar masuk pintu jurusan dengan menggenggam selembar map berisi skripsi. Satu tahun kemudian, kuliahnya selesai, ia mendapat gelar sarjana ekonomi. Selepas dari itu, tak lama ia mendapat pekerjaan di perusahaan pabrik gula. Gaji pertemanya ia pakai mencicil motor matic berwarna hitam, warna kesukaannya sejak dulu, sandi sangat bahagia dengan pencapaiannya itu. 

Di saat akhir pekan, dia berpacaran dengan seorang perempuan, entah di mana dia bertemu. Kini sandi merasa terpenuhi, sedang asik masyuk dengan kekasihnya itu, cinta pertamanya. Menjomblo bertahun-tahun, kini tak lagi terlihat menyedihkan di hadapan teman-temannya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE MONSTER GIRL, Episode 1.

Desa bernama Sirakawa-go, hidup seorang gadis muda bernama Aruma, kedua orang tuanya bekerja sebagai petani Sayuran Daikon (lobak putih) dan kabocha (labu musim dingin). Kehidupan mereka damai dan penuh kebahagiaan. Cerita diawali menjelang malam. Keesokan harinya, Aruma berangkat ke sekolah, ia seorang gadis yang baru duduk di kelas 3 SMA. Di hari libur sekolah, Aruma membantu ayahnya dan ibunya di kebun, menanam sayuran sambil memetik. Sementara di kota Tokyo, sekelompok ganster sedang membicarakan rencana penculikan. Keesokan harinya, Aruma dalam perjalanan pulang sekolah. Aruma yang tak bisa berbuat apa-apa, dia harus pasrah untuk ikut, ia dibawa pergi ke Tokyo, di sana dia bertemu dengan Kazakaru (bos besar). Kelanjutnya, tunggu di episode ke 2. Akan Menjadi awal di mana Aruma menjadi gadis yang kuat (Monster).

Hidupku tak sebaik yang orang lihat

Hujan turun di pagi hari, aku lagi berteduh di halte  di dekat jalan raya. Sewaktu masih SMA, aku sering menunggu mobil angkot di tempat ini, masa-masa itu seketika  teringat, hadir dalam pikiranku. Disini aku duduk sambil memperhatikan hujan, sesekali aku berdiri dan meluruskan lengan kananku, membuka telapak tangan, membiarkan tetesan hujan jatuh di antara jari-jariku. Seketika Mobil angkot berhenti di hadapanku, si sopir tersenyum, aku bergegas naik ke mobil.  Aku menatap kaca jendela mobil, cahaya kendaraan dari luar berklap-klip. aku merasa hidupku kurang bahagia, Rudi adalah sahabatku, dia juga pernah berkata begitu padaku, katanya aku tak menikmati hidup. Apa mungkin seperti itu, rasanya aku tidak tahu, aku selalu terbawa perasaan, kadang kosong, seakan-akan aku tak dapat memastikannya. Mobil berhenti seketika, aku sudah tiba tepat di depan sebuah cafe. Aku berjalan masuk, melihat di sekitar, mencari teman-temanku, mereka duduk di di mana. Sepas...

Sendiri

Duduk di antara kekosongan, sendu di titik paling sepi, perlahan aku mulai berpikir, apa mungkin sesuatu hari nanti, suatu waktu, ada hal yang bisa membuatku bahagia. Aku menyadarinya dengan penuh keraguan, hidup tak selalu berjalan dengan keyakinan, selama tiga tahun ini hidupku tak berjalan baik, makin lama, terasa hal itu membuatku takut, sudah kuusahakan segala macam cara agar hidupku kembali membaik. Aku seorang introvert yang tak banyak berbicara. Tak pernah berbagi cerita kepada teman-temanku, bahwa betapa gelapnya hidupku.  Hari mulai menjelang siang, aku masih duduk terdiam tak berbuat apa-apa, terbiasa menyendiri. Jujur saja, aku selalu kehilangan energi ketika terlalu lama berada di tengah keramaian, meski aku tak terlihat canggung, aku tetap tersenyum, bertemu dengan teman-teman, sebisa mungkin berjuang menikmati hari. Namun, ketika pulang ke rumah, aku merasa lelah, mentalku terkuras habis, pada akhirnya butuh waktu untuk sendiri. Pikiranku butuh ruang yang...