Oleh: Sahru ramadhan.
Baginya hidup di kota terasa menakutkan, banyak hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ia ketahui, biaya hidup yang semankin gila, memikirkan semua itu, Rara harus semangat dan penuh percaya diri, terlepas dari ketidakpastian, hingga rintangan yang kapan saja bisa muncul, yang perlu ia tanamkan dalam dirinya adalah rasa tak terkalahkan. Dalam perjalanan pulang ke kontrakannya, Rara mengingat kembali awal pertemuannya dengan mantan suaminya itu, termenung duduk di sudut teras kontrakan.
"Mengapa aku begitu bodoh waktu itu, harusnya aku tak mempercayainya, brengsek," gumamnya dalam hati.
Saat itu, Rara sudah setahun tinggal di kota, ia bertemu seorang lelaki tampan yaitu mantan suaminya, kebetulan si lelaki adalah pemilik cafe tempat Rara bekerja dulu, dirinya dibuat tak habis pikir, tidak butuh waktu berminggu-minggu untuk saling kenal, Rara langsung diajak nikah oleh si lelaki itu, sulit menolak, selagi tampan, juga punya usaha, jelas Rara sangat tertarik. "kok secepat itu ia suka sama aku? Namun perasaan ini sama sakali tak ada kecurigaan."
Pernikahan itu dirahasiakan dari karyawan lainnya, juga kedua orang tua si lelaki, entah apa alasannya. Rara pun sedikit ragu, dia tak diberi kesempatan untuk mengetahuinya. Lama-lama ia tak lagi memikirkannya, kini hanya kebahagiaan yang terbayang, menikah dengan pengusaha tampan. Perempuan polos yang tak tahu tentang watak asli para lelaki kota, namun dari kejadian itu, membuatnya cukup sadar, kota tak seindah seperti apa ia pikirkan, dulunya ia selalu bermimpi tentang seorang lelaki tampan yang hidup di kota, kemampuan imajinasinya yang lihai, mampu memikirkan sesuatu seolah-olah nyata, sayangnya semuanya menjadi buruk. Kehidupan di kota tak jauh beda seperti hutan rimba yang penuh binatang buas. Mungkin saja, Rara kurang memiliki wawasan tentang perkotaan, dirinya tak bisa membedakan kebiasaan orang-orang di kota dengan tradisi kampung halamannya, yang namanya desa, pastinya masih ada sikap sopan santu, jauh berbeda dengan di kota, banyak hal-hal yang aneh.
Tiga bulan berjalan, Rara mendapat kabar dari rekan kerjanya yang dulu, bahwa mantan suaminya sudah menikah dengan wanita itu, dikarunia anak satu hasil perselingkuhan. Awalnya si lelaki sempat menolak, tak ingin mengakuinya, segala upaya dia lakukan, agar terhindar dari tanggung jawab, pihak dari orang tua si wanita tak tinggal diam begitu saja, ia melaporkannya ke kantor polisi. Esok harinya, Tiga orang polisi mendatangi rumah si lelaki, mengetuk-ngetuk pintunya, satu mengintip di sela-sela gorden, satunya lagi berdiri di depan pagar, lelaki itu terbangun dari tempat tidurnya, panik tak bisa berbuat apa-apa. Setelah lama berpikir, ia berniat ingin melarikan diri, mengintip di balik pintu, polisi sedang berdiri di depan jendela dengan senjata menggantung di pinggangnya, niatnya pun surut, tak mau mengambil risiko, akhirnya pasrah, ia berjalan membuka pintu lalu menyerahkan diri, si lelaki siap untuk bertanggung jawab.
"Baru bangun kamu? Bikin malu-malu saja jadi lelaki," ucap si polisi, kumisnya tebal dan tatapannya yang mengerikan.
Rara beruntung, belum memiliki anak dari hasil pernikahannya, meski keperawanannya sudah direnggut oleh si lelaki bajingan itu. Seingatnya, mantan suaminya pernah berkata padanya. "Aku belum siap punya anak, kita nikmati saja hidup berdua," ah dasar sialan.
kini ia berstatus janda, namun orang-orang tak mengetahui bahwa ia pernah menikah, masih terlihat seperti gadis perawan, senyumnya yang manis melambai di depan pintu masuk rumah makan. Para sopir dibuatnya terpesona, sampai berpikir yang aneh-aneh. Mereka menilai, Rara terlihat seperti perempuan bayaran, memiliki tubuh yang menggiurkan, bokongnya sedikit menonjol ke belakang, buah dadanya terlihat aduhai, celanan kain yang dia pakai begitu ketat, sehingga membentuk lengkungan paha yang padat. Rara sempat tak ingin mengenakan celana ketat itu, ia merasa tidak nyaman, hanya jadi tontonan para lelaki bejat. Pemilik warung tak membiarkannya, menyuruhnya tetap memakai celana itu. "Tubuhmu itu menarik, mendatangkan keuntungan di warung ini." Rara terdiam sambil menunduk. "Keuntungan apa? Aku yang menanggung dosanya," Ucapnya dalam hati.
Sejak ia bekerja di tempat itu, sudah banyak lelaki yang mendekatinya, mengajaknya kencang semalam, ada yang mencoba ingin menikahinya, juga sekedar usil. Rara hanya cuek-cuek saja. Ia pernah mengirim foto seorang lelaki ke adiknya yang berada di kampung halamannya, ia meminta saran, adiknya melihat foto tersebut, seketika heran, lelaki itu terlihat tua, brewok, menjijikkan.
"Anjir, tua banget mukanya," kata adiknya.
Adiknya adalah seorang guru ngaji privat, mengajar dari rumah ke rumah, gadis perawan, dekat dengan lelaki pun tak sudi. Katanya, menurut kepercayaan keluarganya, ia memiliki kemampuan spritual, pandai meramal sifat seorang lelaki, entah dari mana ia mendapatkan bakat seperti itu, Rara mempercayainya, bukankah itu hanya permainan akal-akalan saja, semua orang bisa melakuka seperti itu, hanya bermodal percaya diri.
"Lelaki itu tidak baik buat kamu, dari matanya, dia lelaki buruk, suka mabuk-mabukan, kamu tidak akan bahagia bersamanya." Kata adiknya dengan tegas.
Mendengar ucapan adiknya, Rara percaya. Tak satu pun lelaki yang berhasil menggugat keyakinannya.
"Meskipun aku seorang janda, tak ada satu pun lelaki yang tahu," Ucapnya.
Seharusnya dia berpikir, tak perlu melibatkan adiknya dalam soal memilih lelaki, meski dirinya masih menyimpan rasa takut jika salah memilih untuk kedua kalinya. Maka itu, ia meminta petunjuk dari adiknya, jika terus mengandalkan adiknya, Rara bisa saja menjadi gadis tua yang tak punya pendirian.
Di suatu malam ketika ia bekerja hingga larut malam, para sopir berdatangan, wajah mereka tampak tak mandi seharian. Rara berjalan dari dapur mengantar pesanan, tubuhnya membuat nafsu para lelaki berpacu, rasa lelah pun hilang seketika hanya melihat Rara yang sedang lewat, tiba-tiba lelaki setengah mabuk menepuk bokongnya lalu meremasnya, sontak Rara kaget dan marah. "Hey, dasar lelaki bajingan." Si lelaki hanya tertawa, dari sela-sela lemarin etalase si pemilik warung melihatnya.
Rara yang terbawa emosi berjalan masuk ke dapur, membentuk kerutan di sudut-sudut wajahnya, duduk di depan meja dapur menahan amarah, semua lelaki di kota ini brengsek, seketika kesimpulan itu muncul di benaknya, membuatnya putus asa. Rara semakin tidak yakin mendapatkan jodoh yang baik di kota ini. Dia tahu, semua sopir yang datang di warung ini mempunyai istri. Apa Mungkin di luar sana ada banyak wanita yang ditelantarkan.
Di saat sedang perjalanan pulang, terlihat sosok lelaki mengikutinya dari belakang, seperti hantu, bersembunyi di sisi jalan, berjalan dari satu pohon ke pohon, sesekali menunduk. Rara mulai merasa ketakutan, berpikir yang aneh-aneh, mungkin lelaki itu ingin melakukan sesuatu terhadapnya. Rara mempercepat langkahnya, sesampai di depan pagar kontrakannya, tiba-tiba lelaki itu menghadangnya dan menyodorka sesuatu kepadanya, Rara melihat sebuah surat di tangannya, lalu lelaki itu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata. Rupanya ia hanya ingin memberi surat, Rara menghembuskan napasnya pelan-pelan, dan berbalik melihat lelaki itu berlari hingga lenyap dalam kegelapan, ia tidak membuka isi surat itu, hanya menyimpannya di saku baju, dan berjalan masuk.
Setelah habis beres-beres, Rara penasaran dengan isi surat itu, ia membukanya, Rara heran, surat itu berisi tulisan puisi. "Hah? seorang sopir bisa menulis puisi juga?" Ucapnya. Rara tahu bahwa surat ini pasti dari seorang sopir, ia kenal wajah si lelaki yang membawa surat tadi, ia seorang kernet mobil. Sejak saat itu, si sopir yang tak ditahu siapa, mulai sering mengirimkan puisi ke Rara, meski model penulisannya sangat amburadul.
Beberapa hari berselang, tak ada satu pun surat itu yang meluluhkan hatinya, Si sopir mulai kehilangan upaya, tak ingin lagi menulis puisi, mesi sudah berjuang menjadi lelaki romantis, pada akhirnya ia sadar, bahwa dirinya bukan penulis puisi yang berbakat. Rara tak peduli dengan semua itu.
Tak hanya satu lelaki yang mendekatinya, masih ada yang lainnya, tidak peduli langit runtuh, bumi terguncang badai, perjuangan para lelaki itu tak akan ambruk. Di malam hari, adiknya menghubungi Rara, menanyakan kabar, sudah berapa lelaki mendekatinya, Rara tertawa mendengarnya.
"Semuanya buruk." Adiknya tertawa. "Hati-hati kamu, jika suatu hari lelaki itu kehilangan kendali, dia akan berniat jahat kepadamu," balas adiknya. "Siala, jangan berkata seperti itu."
Apa yang dikatakan adiknya bisa saja terjadi, Rara masih memikirkan itu. Tiba-tiba terdengar keributan di depan warung , mobil truk sepuluh roda menabrak seorang lelaki yang sedang menyeberangi jalan, ban mobil truk yang ukurannya besar menghajar tubuh si lelaki itu. Seperti seekor kucing yang terlindas, perutnya robek, ususnya menjulur keluar ke aspal, terlihat genangan darah di sekitar tubuhnya, lelaki itu mampus. Kejadian ini mengundang orang berdatangan untuk melihatnya. Rara berdiri di sisi jalan sambil menutup mulutnya ketakutan.
Malam yang bergumurung, bintang di langit lenyap seketika diserang badai kencang. Rara tertidur nyenyak di balik selimutnya, wajahnya setengah tertutup. Ia bermimpi buruk, di perkosa oleh para sopir truk sebanyak lima orang, disekap hingga diseret ke semak-semak, dia berusaha berteriak meminta tolong, tak ada seorang pun yang mendengarnya, para sopir itu mulai ganas, layaknya kawanan seekor singa yang menangkap mangsanya, merobek daginnya tanpa ampun. Rara terbangun dari mimpinya, wajahnya berkeringat, selembar rambut menempel di bibirnya yang merah, menenangkan diri duduk di atas tempat tidur, membayangkan kembali mimpi itu.
Keesokan harianya, Rara duduk di teras, rambutnya kusut sambil melihat ke depan dengan ekspresi wajah tak berseri, mimpi yang semalam mulai terlupakan, dia yakin bahwa itu tak akan terjadi. Tiba-tiba adiknya menelpon, memberi kabar bahwa ibunya sudah menemukan seorang lelaki yang baik dikampung halamannya, mungkin cocok untuknya. Tetapi ibunya masih memberikan kesempatan sebulan untuknya mencari lelaki pilihannya. Rara berpikir, dia tak yakin bisa mendapatkan lelaki dalam waktu sesingkat itu, hari-harinya hanya habis begitu saja di warung makan, melihat para lelaki tolol, sesekali ia harus keluar dari rutinitasnya, minimal seminggu, mungkin di luar sana masih ada lelaki saleh yang bisa menjaga kehormatan seorang wanita.
Dua minggu berjalan, pikiran berkecamuk, sejujurnya ia tidak ingin menikah dengan lelaki sekampungnya, namun sampai saat ini Rara belum juga menemuka lelaki pilihanya, ia mulai putus asa, dan memikirkan keputusab ibunya. Sosok lelaki desa yang polos juga masih perjaka, jelas tak punya pengalaman berhubungan seks.
"Kamu ikuti saja kata ibu," kata adiknya
Rara terdiam sambil berpikir panjang, jika nantinya dia menikah dengan lelaki desa itu, ia takut kalau lelaki itu sampai tahu, "Aku sudah tidak perawan, apakah dia masih tetap menerima? atau pergi meninggalkanku, dan meminta cerai." Rara tak ingin itu terjadi. Mengingat zaman sekarang, banyak lelaki yang tak mau sama wanita bekas, pastinya mereka tak mau rugi.
Adiknya belum mematikan telponnya, Rara terdiam merintik, air matanya menetes hingga membasahi kain bantal.
"Aku sering bertanya, mengapa para lelaki menilai tubuh wanita itu seperti permen karet, ketika rasa manisnya sudah tak ada lagi, dia akan membuangnya, dasar brengsek," Ucap Rara.
Di hari libur kerja, Rara datang ke sebuah kedai, menghabiskan waktu sendiri. Di sana banyak orang yang sedang bersenang-senang, penuh riang. Sekelompok lelaki tertawa terbahak-bahak, sepasang kekasih muncul di depan pintu masuk, Rara menatapnya penuh serius, dia yakin pengunjung lainnya juga ikut melihatnya. Rara memperhatikan wanita itu, tubuhnya yang tinggi dan buah dada yang rendah, Rara mencoba mengira-ngira, lelaki yang ada di samping wanita itu berwajah mesum, dia buka lelaki yang baik. Lelaki berusia empat puluh tahun bersiul sambil menatap Rara, rambutnya sudah sedikit rontok, Rara berbalik melihatnya, prasangka-prasangka buruh di sertai harapan keji, membuatnya makin tak percaya, ternyata lelaki di kedai ini sama saja yang ada di warung makan.
Di pagi hari, Rara ingin bertemu dengan pemilik warung. Di depan pintu masuk, ia melihat si lelaki sopir truk yang pernah membuat puisi, mereka saling berpandangan, Rara hanya melihatnya sebentar, lalu kembali berjalan masuk ke ruangan si pemilik warung makan, terlihat si pemilik warung sedang asik nonton, langsung saja Rara memberi tahunya, bahwa dirinya ingin berhenti bekerja. Ia memutuskan ingin balik ke kampungnya, memenuhi permintaan ibunya, menikah dengan lelaki desa itu, si pemilik warung tak setujuh. "Kamu tidak usaha berhenti, aku kasih kamu waktu untuk libur, setelah itu balik lagi kerja di sini." Rara terdiam lalu tersenyum, kerutang di sudut bibirnya begitu khas, itu sudah ada sejak dari lahir. "Aku sudah tidak bisa kembali ke sini lagi, aku akan menikah, dan hidup di sana bersama suamiku," Kata Rara. Si pemilik warung makan hanya terdiam, tidak berkata apa-apa, Rara meninggalkan ruangkan itu sambil berpamitan.
Setiba di kampung halamannya, Rara disambut oleh keluarganya, juga tetangga dekat rumahnya, layaknya kedatangan sosok wanita cantik yang hidup bahagia di kota. Semua bersorak gembira, berseru memanggil namanya, burung-burung ikut bergema di ranting-ranting pohon. Rara hanya berjalan, setipis senyum ia lempar sesaat, ibunya melihatnya sambil berpikir, hati Rara sudah lumer dengan keputusannya itu. Dia tak lagi mau berpikir banyak. "Terserah dari lelaki itu, jika dia tahu bahwa aku sudah tidak perawan."
Komentar
Posting Komentar