Desa itu berada di atas bukit, hamparan yang luas, sangat indah, di sekitarnya gunung-gunung yang menjulang. Jauh dari pusat kota, jauh dari gemerlap perkembangan, namun terasa damai. Penduduknya tak terlalu banyak, mereka hidup seadanya. Seorang lelaki bernama Yono, satu-satunya pemuda yang dianggap berhasil lulus bersekolah ke perguruan tinggi. Sejak kecil, Yono sudah banyak tahu persoalan yang menimpa desa kelahirannya itu, ia tinggal di tengah-tengah desa, berdempetan di antara rumah-rumah penduduk lainnya. Lingkungan yang teduh, angin di siang hari meniup tak terhingga, jika malam tiba, semua menjadi gelap, hanya lilin menerangi setengah ruangan, anak-anak kecil bermain di dekat api kecil, ke dua tangan mereka dibentuk mirip seekor rusa atau anjing jalanan, seperti pertunjukkan wayang. Di desa ini, selain saluran listrik yang belum membaik, kebutuhan air juga ikut menyusahkan.
Pusat sumber air berada di bawah bukit, sungai yang bersih penuhi bebatuan, satu-satunya menjadi tempat kebutuhan air penduduk desa. Saat sore, anak-anak berdatangan untuk mandi sambil bermain, lumayan jauh, para penduduk harus turun dari bukit, berjalan kaki untuk memikul air, sudah terbiasa, bertahun-tahun hidup dengan kesulitan. Waktu terus berjalan, tahun terus berganti, tak ada kemajuan, para penduduk mulai mengeluh dengan keadaan ini, kehilangan semangat, mereka datang ke kantor desa untuk protes, meski sebenarnya meraka tahu bahwa tindakan ini hanya berakhir sia-sia, si kepala desa tak pernah peduli dengan keributan tersebut. Tahun lalu pengurus kantor desa telah memperbaiki saluran listrik, itu karena penduduk mendesaknya, hingga tak ada lagi gelap-gelapan di malam hari, namun itu belum cukup, pengadaan sumber air tak kunjung membaik.
Di usianya yang beranjak delapan belas tahun, Yono ingin melanjutkan sekolahnya di perguruan tinggi, cita-citanya itu sudah ada sejak masih duduk di kelas tiga SMA, ia terpaksa harus meninggalkan kampung halamannya dalam waktu yang lama. Orang tuanya pun setujuh dengan keinginannya itu, Yono bermimpi mengejar cita-citanya menjadi seorang dosen. Meninggalkan desanya yang masih menderita. Para penduduk hanya bisa menerima kenyataan, menunggu pemerintah daerah bagaikan menanti seekor kucing bertelur.
Sembilan tahun, masa yang harus dihabiskan Yono merantau di jakarta. Orang tuanya harus keluar dari perkampungan dan pergi ke perbatasan desa, di sana ada koneksi jaringan, setiap akhir pekan, para penduduk datang ke tempat itu, lumayan ramai, orang-orang sibuk telponan, ide pun muncul, dari salah satu penjaga perbatasan, mereka membangun dua gazebo di samping tuguh, sambil berjualan kopi, para penduduk pun setujuh. Setelah berhari-hari bolak-balik dari rumah ke perbatasan desa, ia mendapatkan kabar, kuliah Yono sudah selesai dan dapat perkerjaan, ayahnya senang mendengarnya, ia menitip pesan, menyuruh Yono untuk balik ke kampung halaman saat libur panjang tiba.
Lamat-lamat kabar tentang kampung halamannya mulai tak terdengar olehnya, kesediaan air masih sulit sampai saat ini, dirinya tengelam dalam kesibukan rutinitas pekerjaan. Para penduduk kampung kian mengeluh, tidak tahu harus berbuat apa, tak bisa terus-terusan bolak-balik melintasi bukit, lemba, hamparan rumput-rumput liar, hingga turun gunung yang terjal, kadang licin, berisiko kehilangan nyawa. Kepala desa seolah-olah menutup mata, tak peduli dengan masalah itu, bangsat. Bersantai, duduk di teras rumah sambil mengisap sebatang kretek, menikmati di sore hari menjelang malam, mirip penjahat mafia yang ada film-film. Salah seorang pemuda amarahnya tak lagi tertahan, berjalan menuju ke kantor desa, berteriak dari luar pagar, agar si kepala desa mendengarnya, bahwa penduduk sudah muak dengan harapan-harapan yang keji. Namun sayangnya, perjuangan si pemuda itu berakhir sia-sia, pemuda itu diusir oleh dua lelaki tak di kenal, bertubuh tinggi mirip pembunuh bayaran. Si Pemuda itu sempat memberi perlawanan, memberontak, dengan mudah dia dilumpukan, tubuhnya dijatuhkan ke tanah lalu di seret beberapa meter menjauh dari kantor desa, ia kesakitan, kakinya terasa terbakar, tergores hingga terbentur dengan batu-batu kerikil yang tajam di bawah terik sinar matahari.
Sudah tidak ada lagi kejadian seperti itu, kepala desa menambah dua pegawal, entah dari mana dia menemukan orang bertubuh kekar, petarung hebat, mungkin dari kampung seberang, seorang pemburu babi hutan, kulit sangat keras, serupa kulit badak, atau seorang menebang pohon, tiap hari turung dari gunung memikul tiga potongan kayu berukuran panjang, hasil penebangan liar, wajah serupa manusia purba, hidup beribu-ribu tahun. Para penduduk dibuat ketakutan, jika hanya sepuluh orang, mereka harus berpikir berkali-kali. Melumpukan hercules sangat mustahil, jika menyerangnya dari sisi mana pun, dia akan menangkap tubuhmu lalu hempaskan ke tanah.
Kabar Yono sudah jarang lagi terdengar, ayahnya gelisah. Menyuruh adiknya ke perbatasan desa untuk menghubunginya, mencari tahu tentang Yono, sayangnya handphonenya jarang aktif, sebaliknya juga, Yono jarang menghubunginya, Yono seperti lenyap, ayahnya dilahap gelisah. Pukul dua siang, di bawah pohon kapas, terdengar kabar dari salah satu pengembala sapi yang sedang lewat di dekat jalur menuju sungai, beberapa pemuda berkumpul sedang ngobrol, merencana untuk merintis jasa pengakutan air, mereka duduk di pinggir bukit, saling bertukar pendapat tentang apa-apa saja yang harus di siapkan, mungkin puluhan ember harus ada. mengambil air di sungai lalu penampungnya di bak penampungan yang besar, dan dijual dengan harga sewajarnya. sebagian penduduk setujuh dengan hal itu, ada juga menolak, sempat protes, mengapa air itu di jual, tak lama kemudiaan, dia mulai berpikir, akhirnya setujuh dengan para pemuda itu.
Perlahan jasa pengakutan air itu terdengar sampai di kantor desa. Tak ada yang keberatan, si kepala desa masih saja tak peduli. Warga mulai berdatangan di hamparan tanah kosong, rumput-rumput berwarna kuning keemasan, trik matahari seperti membakar hamparan, musim kemarau belum saja pergi. para pemuda mendirikan penampungan besar, ada dua gazebo di dekatnya, terbuat dari potongan kayu-kayu bekas. Waktu berjalan, keuntungannya lumayan banyak, mereka mulai berpikir, suatu saat kelapa desa akan merasa tidak setujuh dengan hal ini, ia terbangun dari kematiaannya selama empat tahun menjabat, jarang berkunjung ke rumah-rumah penduduk, warga masih ketakutan, jika ada melawan, akan menjadi ancaman , bagaikan suara gelegar hewan buas dari hutan lindung, ternak dan para penduduk akan mati, kebun-kebun ikut terbakar.
Ia bertindak sangat berutal, seenaknya, tak punya hati nuranai, seperti anjing mencium begitu tajam. Meski ia sadar, penduduk desa sudah kehilangan kepercayaan kepadanya.
"Suatu saat aku akan membunuhnya."
"Jika kau melawan, mereka akan ngambil sebagian hewan ternakmu yang telah kau rawat bertahun-tahun," kata pemuda itu.
Para penduduk juga tak peduli, apa yang ingin dia lakukan si kepala desa itu, mereka saling berjarak. Para pemuda itu mulai menampung air di bak penampungan, sepuluh orang turun ke sungai melintasi beberapa bukit, hutan belantara, dataran-dataran rumput setinggi lutut, membawa dua ember besar, kayu tebal memanjang di antara genggaman dua ember, terikat sangat kuat. Suara langkah kaki terdengar membela kesenyapan lereng bukit, pemuda itu saling bergantian turun ke sungai, mereka target sehari dua bak penampungan itu harus terisi penuh. Di tengah bukit, seorang kakek yang berusia tujuh puluh tahun, dia hidup sebatang kara di sebuah gubuk kecil, kelompok pemuda itu selalu menyapanya ketika sedang melintas. Penduduk menganggap, si kakek kurang waras, istri dan anak sudah lama meninggal, terbawa arus sunggai, saat itu air lagi meluap. Pun juga, ia dikenal sebagai pedagang kue lokal, semua warga suka.
Di punggung bukit, tak jauh dari rumah penduduk, petikkan suara gitar, warna catnya yang sudah kusam, menghibur sunyi. Kelompok pemuda duduk di atas gazebo, menikmati angin yang tertiup dari hamparan pegunungan, sesekali mereka saling menatap, saling bertukar lelah, napas mereka sayup, melambai tampak berirama. Anjing liar mengintip dari pohon kapas, mengincar sisa-sisa makanan dari pemuda itu. Sosok bapak tua dan satu bocah sedang mengisi air ke dalam jergen, salah satu pemuda berdiri tak jauh darinya, menunggu bayaran.
Musim kemarau yang panjang, tak kunjung pergi, air perlahan sungai berkurang. Para pemuda memikul dua ember air, hanya sekali istirahat. Berjalan tanpa menggunakan alas kaki, telapak kakinya yang tebal, terbiasa menyentuh panas. Menjelang sore, adik yono berada di perbatas desa, masih setia menunggu kabar dari yono, seharian di sana, jika hari mulai gelap, dia harus kembali ke rumah. Para penduduk mulai tercukupkan, air sudah terpenuhi, berkat ide cemerlan para pemuda desa, meskipun dibayar seadanya. Kepala desa dibuat murka, mulai merasa iri, ia tak senang dengan keberadaan jasa pengakutan air itu, hasil yang cukup lumayan ia dapatkan. Niat kejahatan mulai muncul di pikirannya, pasti, rencana-rencana kejam mulai dia pikirkan, juga istrinya ikut mengasutnya.
Si peternak sapi pernah berkata kepada para pemuda itu. "Hati-hati, suatu saat di akan datang mengganggu kalian." Para pemuda itu terdiam, lalu berpikir "bisa jadi, itu akan terjadi."
Tiba-tiba yono balik ke kampung halamannya, ayahnya terkejut juga senang, yono tak memberi kabar kepulangannya, setelah ayahnya kehilangan senyum berminggu-minggu. Mereka saling berpelukan, ibunya terharu, matanya sedikit berkaca-kaca, rindu yang tertahan, akhirnya lepas juga. Di meja makan, mereka semua berkumpul, dua adik yono, juga ibu dan ayahnya. Yono melihat kondisi rumahnya nyaris rubuh, jika badai datang, atap rumah akan lepas tertiup angin. Yono menyampaikan ke ayah, di sela-sela malam, bahwa dia ingin merenovasi rumah, mendengar rencana itu, ayahnya tersenyum penuh bahagia. Ia mengambil kertas bekas, lalu mencatat dan menghitung biaya renovasi yang harus dikelurkan, sambil melirik ke sudut-sudut ruangan dapur, juga melihat atap rumah. Yono berdiri dan membaca catatan itu, ia kaget, melihat biaya air yang harus dia beli.
"Sekarang kita sudah tidak perlu lagi mengambil air ke sungai, di desa kita sudah ada jasa pengakutan air," kata ayahnya.
"Itu kebijakan kepala desa?"tanya yono.
"Tidak, itu ide dari pemuda desa."
Semilir angin, yono berjalan berkliling kampung, ia mengajak boy nama anjing peliharannya, menerobos belukar, lalat berhamburan serupa percik kilatan api. Beberapa langkah ke depan, ia menemukan bangkai induk sapi, lehernya di gorok, tumpahan darah di sekitarnya mulai mengeras. Yono bertanya-tanya di benaknya, siapa pemilik sapi ini. Tiba-tiba saja Boy mengonggonggong ke arah bukit, seperti melihat musuh datang, terlihat dari kejauhan, seseorang berdiri dan menunjuk ke arah mereka, sekelompok orang berjalan, yono masih memperhatikan mereka, setelah mendekat, dia tahu bahwa orang itu pemilik sapi ini. Kedua lututnya terhempas di tanah, melihat sapi itu terlentang tak bernyawa.
Masih tak terima, dia terus melihat sapi itu, gerombolan semut merah mengerubuti leher sapi itu. "siapa yang telah melakukan ini," kata si pemilik sapi. Ia menahan amarah, sedih pun tak tertehan, sapi itu mempunyai anak enam ekor, dia masih menyusuhi, begitu ia berpikir. Yono masih berdiri di antara orang-orang itu, tiba-tiba muncul pemuda tak mengenakan baju, menempuk bauhnya, yono dibuat kaget. Mereka saling menatap lalu tersenyum, teman yono sewaktu masih kelas dua SMA.
"Aku tahu siapa yang melakukannya," ucap temannya itu.
"Siapa?"
"Si penguasa desa ini."
Yono terdiam sambil menatap wajah temannya itu. Para penduduk berdatangan, mereka saling menatap, berbisik satu sama lain, yono masih terdiam, dia tahu, ini ulah si kepala desa itu. Sebelum keadaan memburuk, yono berpikir, keributan akan datang. Dia meninggalkan tempat itu, anjingnya mengikutinya dari belakang, yono ingin ke rumah si kepala desa. Ia menerobos rumput-rumput kering, Temannya melihat ke kiri, ia sadar yono sudah tidak ada di sampingnya. Tiba di rumah kepala desa, boy tak berhenti menggonggong di depan pagar, seperti melihat sesuatu, bayangan hitam di balik kaca jendela rumah, yono mencarinya, tak ada siapa-siapa di sana, dari pintu rumah, seekor anjing besar keluar, lidahnya menjulur turun, seperti seluncur kolam renang, ternyata si boy mencium bau anjing itu, ia merasa panik.
Anjing itu berjalan mendekati boy, mereka saling menatap, si anjing bertubuh besar mengeluarkan suara bergelegar, boy mundur satu langkah, merasa takut. Boy, jangan ladeni, anjing itu sangat besar, dia bukan lawan yang pas buat kamu, katanya. Tak lama kemudian, Kepala desa muncul di depan pintu rumah, mungkin sudah dari tadi berdiri di situ.
"Siapa kau?" Kata si kepala desa.
"Saya yono, penduduk desa sini, pak."
"Ada keperluan apa kamu ke sini?"
"Penduduk lagi berkumpul di dekat alun-alun, ada bangkai sapi di sana," ucap yono.
"Terus?"
"Penduduk tahu, bapak yang melakukannya."
Setipis senyum ia nampakkan, sosok bertubuh besar sudah ada di dekatnya, penduduk menyebutnya, si manusia yang serupa hercules.
"Jika mereka melawan, aku akan membakar sebagian kebun mereka."
Yono dipaksa keluar dari halaman rumah, dua orang bertubuh besar mendekatinya, matanya melotot, yono mundur lalu berjalan keluar pagar. di perjalanan, yono menepi di pinggir selokan, menyuruh boy turun, sambil menjulurkan lidahnya di permukaan air, keruh dan berlumut, yono jongkok tapat di sampingnya, menatap telur-telur kecebong, yang menempel di diding selokan. Ia masih terpikirakan, ternyata kepala desa itu belum juga berubah, setelah lama di tepi selokan, ia mendengar langkah kaki , itu temannya, yang ia temui di alun-alun tadi.
"Kamu lagi ngapai di situ?" Tanya temannya.
"Melihat boy lagi minum air selokan." Jawab yono. "Tadi aku dari ke rumah kepala desa. Selain kehilangan hati, dia juga kehilangan otak."
"Mungkin sudah di makan oleh anjing peliharannya itu," balas temannya. Mereka berdua tertawa.
Mereka pasti tahu, kepala desa dan penduduk desa akan adu jotos, puncaknya besok, jam siang. para warga akan mencari tahu terlebih dahulu cara melumpukan sosok bertubuh besar itu, para anjing dilatih cara mencabik-cabik dengan ganas. Sosok bertubuh besar, wajah yang menakutkan, jelas, tak satu orang ingin menatapnya, hanya menambah rasa takut baginya. Setidaknya, para penduduk harus menjaga daya tubuhnya, brlajar cara mematakan leher, jika tidak, ia akan celaka. memikirkan kematiannya sebelum menyerang, hamparan kosong, rumput-rumput makin kering, darah tercecer di mana-mana, itu yang dia pikirkan, betapa mengerikan jika mereka membayangkan semua itu.
Dua minggu berselang, yono berkeliling desa, melihat kesibukan para penduduk, yono menepi di depan kios kelontong, ia bertanya pada dirinya, mengapa perkelahian itu belum dimulai, mungkin menimbang-nimbang rasa takut, juga masih canggungg, mereka saling menunggu serangan, siapa yang harus memulai. Si kelapa desa, dengan kebiasaannya, masih saja santai duduk di halaman rumahnya, tertawa seperti orang tidak waras, anjingnya duduk di daktanya, sesekali menjilati lubang pantatnya. Tiba-tiba, si kepala desa merasa kesakitan di bagian dada, ia sesak napas, istrinya panik, mengambilkan segelas air minum, masih merasakan kesakitan, tiba-tiba pingsang. Pengawalnya terkejut dan panik, si kelapa desa tak sadarkan diri ditempat duduknya. Segera diangkat masuk ke kamar, istrinya masih gelisah, tak lama kemudian, detak jantungnya terhenti, ia meninggal.
Penjaga mesjid mengumunkan kematiaannya, dengan mikrofon suara pecah, para penduduk yang ada di kios jualan, sibuk ngobrol, saling tertawa, lalu terhenti, mereka tercengak mendengar pengumuman itu, dibuatnya heran, mereka saling menatap, penuh curiga, siapa melakukan itu, pikirnya. Yono datang ke rumah kepala desa, dia sendiri, tak membawa si boy anjing peliharaannya, mencoba memcari tahu penyebab kematian kepala desa, ia berada di tengah di antara tiga orang polisi, sambil memperhatikan sisa-sisa sarapan pagi, ada tiga lemper di atas piring, satunya bekas gigitan. Dua polisi memeriksa sisa makanan itu, ia menciumnya, saling bergantian, kemudian sadar itu racun tikus, akhirnya si kepala desa dinyatakan keracunan, kue lemper itu yang membuatnya meninggal. Tak ada satu pun orang yang tahu, dari mana dia memperoleh kue lemper itu, istrinya masih tak percaya dengan kematian suaminya, penyebab kue lemper kesukaannya.
Mendengar kabar duka, para penduduk desa dibuat gembira, ada yang menganggap itu teguran dari tuhan, dosanya sudah banyak, dia sudah tak layak hidup dunia ini. Sebagian masih bertanya-tanya. Polisi mengelilingi desa, mencari tahu di mana pedagang kue lemper itu, para penduduk diinterogasi, tak ada fakta yang ditemukan, tak ada pedagang kue lemper di desa sini. Satu minggu setelah meninggalnya, si kakek yang tinggal dibukit juga meninggal, si pengembala sapi datang ke mesjid, memberi tahu kematiaan kakek itu, sudah waktunya dia meninggal, lagian tak ada yang mengurusnya. Di sela-sela cengkraman penduduk, ia menyeludup dan memotong percakapan, ada yang ingin dia ceritakan, penduduk terdiam, tiba-tiba semua terkejut, sampai dibuat heran, juga tak percaya, kakek itu menitip pesan kepada si pengembala sapi itu, siapa sangka, kematiaan kelapa desa karena memakan kue lemper buatan dari kakek itu, ia memberi racun tikus sawah di dalam lemper, menjelang pagi, dia membawa kue itu ke rumah kepala desa, ia simpan di depan di genggaman pintu. Si kakek memiliki alasan, menagapa ia melakukannya, ternyata menyimpan dendam tiga tahun lalu kepada si kepala desa, enam ekor sapinya di ambil tanpa diberi upah, istrinya pernah dipukul, tentu ia tak terima.
Adukan segelas kopi berbunyi tak putus-putus, pemilik kios tak habis pikir mendengar kejadiaan itu, orang yang tak terduga di pikirannya, pendiam, bisa melakukan hal seburuk itu. Namun pembicaraan itu lenyap dan demikian pula bunyi adukan kopi, ketika imam mesjid datang dan menghentikannya, si pengembala lalu pergi masuk ke hutan, menghilang di antara pepohonan. Orang-orang yang ada di kios berubah jadi pasif dan masih tak percaya.
Minggu pagi, matahari tampak cerah, seperti mengusir kutukan di desa itu, tak ada pembawa sial. Sepeninggalan kepala desa, kasus-kasus mulai terbongkar, muncul kepermukaan hingga menjadi bahan pembicaraan, selamat menjabat dana desa Desa tertimbun dengan kejahatannya. Desa sudah tidak kekuarang lagi, akses air sudah terjangkau ke rumah-rumah penduduk, tak ada lagi keributan, hewan-hewan peliarahan dibebaskan bekeliaran. Warga mulai bertani tanpa memikirkan ancaman, sejak ayah yono diangkat jadi kepala desa, dari persetujuan para penduduk.
Komentar
Posting Komentar