Cerpen " Insyaallah, Semoga suatu hari nanti, hidupku bahagia, punya pekerjaan, memiliki istri dan anak pertama seorang perempuan." Seketika memandang langit, senyum melambai dan melesat tinggi, seakan membelah di antara awan yang gelap, matanya meremang teduh penuh harapan, hatinya memanjat doa dengan lamat. Sahru Ramadhan Nyatanya, itu hanya sebatas harapan saja, juga sulit, ia belum terlalu yakin akan hal itu, dengan kondisinya hanya begitu-begitu saja, tak ada pergerakan, ditambah tiap tahun kehidupan yang makin pelit, dan makin tak manusiawi. Setinggi apa ia bermimpi, jika masih tak yakin, itu bagaikan kapal nelayan yang remuk dihantam badai. Bila sore menjelang, Pian akan duduk di balkon rumah, menjadi orang bermalas-malasan, mendengar musik sambil merenung tak berujung, kebiasaannya seperti ini terkadang membuatnya lebih baik, tekanan-tekanan yang ada di kepalanya setidaknya bisa mencair, seperti batu es, membeku karena terkana sinar matahari. Kata orang-orang, ...